东京热

东京热 Official Website

Latihan Proprioseptif dan Strengthening Tingkatkan Keseimbangan Atlet Sepatu Roda

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Keseimbangan dinamis merupakan salah satu komponen terpenting dalam olahraga sepatu roda cepat (speed skating). Atlet harus mampu mempertahankan stabilitas tubuh saat bergerak dengan kecepatan tinggi, berbelok tajam, dan melakukan perubahan arah secara cepat. Gangguan keseimbangan tidak hanya menurunkan performa, tetapi juga meningkatkan risiko cedera. Oleh karena itu, metode latihan yang efektif untuk meningkatkan kemampuan neuromuskular atlet masih terus dicari. Penelitian terbaru yang dilakukan pada atlet speed skating remaja menunjukkan menunjukkan bahwa kombinasi latihan proprioseptif (melatih kepekaan tubuh terhadap posisi dan gerakan) dengan latihan strengthening (penguatan otot) mampu meningkatkan keseimbangan sekaligus memengaruhi biomarker tubuh.

Proprioseptif adalah kemampuan tubuh untuk mengenali posisi dan pergerakan anggota tubuh tanpa harus melihatnya secara langsung. Latihan ini membantu tubuh 鈥渕erasakan鈥 posisi sendi dan otot, sehingga lebih cepat bereaksi saat bergerak atau berubah arah. Sedangkan latihan strengthening seperti squat, lunge, calf raise, dan sprint interval berfungsi memperkuat otot tungkai dan inti tubuh, yang menjadi fondasi penting bagi keseimbangan. Kombinasi keduanya membuat tubuh bukan hanya lebih kuat, tapi juga lebih sigap menjaga stabilitas saat meluncur dengan kecepatan tinggi.

Penelitian ini melibatkan 30 atlet speed skating berusia 11鈥15 tahun yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok. Kelompok intervensi menjalani program latihan proprioceptive-strengthening selama delapan minggu dengan frekuensi tiga kali per minggu, sedangkan kelompok kontrol hanya mengikuti latihan rutin klub. Program latihan meliputi kombinasi latihan keseimbangan statis, keseimbangan dinamis, latihan pliometrik, squat, lunge, calf raise, dan sprint interval. Sebelum dan sesudah intervensi, peneliti mengukur kadar irisin dan Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) dalam darah, serta mengevaluasi keseimbangan dinamis menggunakan tes Single-Leg Squat (SLS) dan Overhead Squat (OHS).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan proprioceptive-strengthening memberikan dampak positif yang nyata terhadap kadar irisin. Pada kelompok intervensi, kadar irisin meningkat rata-rata 157,93 ng/mL, jauh lebih besar dibandingkan kelompok kontrol yang hanya mengalami peningkatan 56,42 ng/mL. Peningkatan ini signifikan secara statistik dan menunjukkan bahwa latihan tersebut mampu merangsang respons biologis yang berkaitan dengan adaptasi neuromuskular. Irisin sendiri merupakan protein yang dilepaskan oleh otot saat berkontraksi dan dikenal berperan dalam regulasi metabolisme, fungsi saraf, serta peningkatan kemampuan motorik.

Berbeda dengan irisin, kadar BDNF tidak mengalami peningkatan yang signifikan setelah delapan minggu latihan. Meskipun kelompok intervensi menunjukkan kenaikan rata-rata sebesar 179,73 pg/mL, perubahan tersebut tidak berbeda secara statistik dibandingkan kelompok kontrol. Temuan ini mengindikasikan bahwa latihan proprioseptif dengan intensitas sedang mungkin belum cukup kuat untuk merangsang peningkatan BDNF secara bermakna. Peneliti menduga bahwa peningkatan BDNF memerlukan durasi latihan yang lebih panjang atau intensitas yang lebih tinggi dibandingkan program yang digunakan dalam penelitian ini.

Selain perubahan biomarker, penelitian ini juga menemukan perbaikan pada keseimbangan dinamis atlet. Kelompok yang menjalani latihan proprioceptive-strengthening menunjukkan peningkatan kontrol batang tubuh (trunk control) dan kualitas gerakan selama tes keseimbangan, terutama pada Single-Leg Squat.

Temuan paling menarik dari penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara kadar irisin dan keseimbangan dinamis. Analisis korelasi menunjukkan bahwa peningkatan irisin berhubungan sedang hingga kuat dengan peningkatan performa pada tes Single-Leg Squat (r = 0,508; p = 0,004). Artinya, semakin besar peningkatan kadar irisin, semakin baik pula kemampuan keseimbangan dinamis atlet. Sebaliknya, BDNF tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dengan hasil pengukuran keseimbangan. Hasil ini memperkuat dugaan bahwa irisin merupakan biomarker yang lebih sensitif dalam mencerminkan adaptasi neuromuskular akibat latihan proprioseptif pada atlet remaja.

Dari perspektif praktis, hasil penelitian ini memberikan pesan penting bagi pelatih dan praktisi olahraga. Program latihan yang menggabungkan penguatan otot dan latihan proprioseptif tidak hanya meningkatkan kemampuan keseimbangan, tetapi juga menghasilkan respons biologis yang mendukung adaptasi sistem neuromuskular. Dengan demikian, latihan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam program pembinaan atlet muda untuk meningkatkan performa sekaligus mengurangi risiko cedera akibat gangguan stabilitas tubuh.

Penulis: Prof. Dr. Gadis Meinar Sari, dr., M.Kes

Informasi detail dari penelitian ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Widi Arti, Gadis Meinar Sari,Mohammad Fathul Qorib, Hening Laswati Putra, Suprianto,              Purwo Setyo Nugroho and Okky Zubairi Abdillah. (2026). Impact of Proprioceptive Strengthening Exercise on Neurotrophic Biomarkers and Dynamic Balance in Speed Skaters. Balneo and PRM Research Journal. 17(1): 1005

AKSES CEPAT