东京热

东京热 Official Website

Menilik Sastra sebagai Cerminan Realitas, Rusydan Hadid Angkat Kisah Pesisir Surabaya Lewat Spatial Spiritual

Cover depan zine Spatial Spiritual yang mengangkat kisah masyarakat pesisir surabaya. (Foto: Istimewa).
Cover depan zine Spatial Spiritual yang mengangkat kisah masyarakat pesisir surabaya. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Memahami realitas sosial tidak selalu dimulai dari penelitian lapangan. Bagi Rusydan Hadid, karya sastra justru menjadi pintu masuk untuk membaca berbagai persoalan yang kemudian ia tuangkan dalam zine berjudul Spatial Spiritual. Berbekal pengalaman selama menempuh studi di Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR), ia mengangkat dinamika kehidupan masyarakat pesisir Kenjeran melalui perpaduan tulisan dan dokumentasi visual. 

Bagi penulis zine yang kebetulan tengah menempuh pendidikan pascasarjana di University of Edinburgh tersebut, Spatial Spiritual lahir bukan sekadar dari keinginan untuk berkarya. Zine berawal dari kebiasaannya membaca dan mengkaji karya sastra yang kemudian membawanya memahami berbagai realitas sosial di sekitarnya. Menurutnya, karya sastra membuka ruang untuk mempertanyakan persoalan di masyarakat sekaligus melihat langsung realitas di lapangan.

“Kalau berbicara tentang realitas, saya justru dihadapkan dulu dengan karya sastra. Ketika karya itu dikupas, di situlah jembatan utamanya sehingga karya seperti Spatial Spiritual bisa hadir. Karya sastra memantik rasa ingin tahu terhadap persoalan di lapangan dan membuka peluang untuk memahami realitas yang ada di sekitar kita,” ungkap alumni UNAIR itu.

Cara pandang itulah yang kemudian membawanya mengangkat kehidupan masyarakat pesisir Kenjeran dalam Spatial Spiritual. Zine menghadirkan suara anak-anak pesisir sebagai refleksi atas arah pembangunan di kawasan tempat mereka tumbuh.

Rusydan Hadid, alumni sastra indonesia FIB UNAIR yang menulis zine spatial spiritual. (Foto: Istimewa).

Ia bercerita bahwa salah satu pengalaman yang paling membekas saat menempuh pendidikan S1 di Sastra indonesia FIB UNAIR adalah mata kuliah Ekokritik yang memperkenalkannya pada cara membaca hubungan antara manusia, lingkungan, dan karya sastra. Baginya, proses berkarya merupakan cara untuk menghidupkan kembali ilmu yang dipelajari di bangku kuliah. 

Melalui karya, ia tidak hanya menerapkan teori yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga memperdalam pemahamannya terhadap persoalan yang ditemui di lapangan. Karena itu, sambungnya, lulusan sastra indonesia memiliki ruang berkarya yang luas, utamanya jika karya tersebut lahir dari kepedulian terhadap suatu persoalan.

“Apa pun yang dibuat, itu adalah karya. Dengan berkarya saya jadi lebih memahami apa yang saya pelajari. Ketika berkarya, kita juga perlu memiliki sesuatu yang benar-benar kita pedulikan. Dalam zine, saya memilih mengangkat isu masyarakat pesisir Kenjeran karena itu adalah persoalan yang ingin saya pahami lebih dalam,” tuturnya.

Melalui Spatial Spiritual, Rusydan berharap karyanya tidak hanya menjadi media bercerita, tetapi juga mampu mengajak pembaca melihat kembali berbagai realitas sosial yang kerap luput dari perhatian. Ia berharap mahasiswa sastra indonesia memaksimalkan peluang besar berkarya dan tidak membatasi dimensi berkarya tersebut dalam bentuk karya sastra semata. Baginya, bekal akademik yang diperoleh selama kuliah dapat menjadi cara untuk membaca realitas sekaligus melahirkan karya yang relevan dengan persoalan masyarakat.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT