Paparan bising di lingkungan kerja bukanlah perkara sepele. Secara global, gangguan pendengaran telah berdampak pada 466 juta orang, di mana 16% kasus pada orang dewasa dipicu oleh kebisingan di tempat kerja. Sebagai solusi praktis, penggunaan alat pelindung diri seperti earmuff (penutup telinga) kerap diwajibkan untuk melindungi pekerja. Namun, sebuah penelitian terbaru di perusahaan garmen justru mengungkap sisi lain yang mengejutkan. Studi yang melibatkan 33 operator mesin tenun ini meneliti bagaimana penggunaan earmuff memengaruhi fungsi pendengaran dan tingkat kelelahan pekerja selama enam hari berturut-turut.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan yang signifikan pada tingkat gangguan fungsi pendengaran dan kelelahan pekerja selama masa pengujian. Menariknya, kondisi pekerja justru tercatat paling prima pada hari pertama sebelum intervensi dilakukan, dan terus memburuk hingga mencapai titik kelelahan serta gangguan fungsi pendengaran tertinggi pada hari keenam. Temuan ini tentu menjadi ironi, karena alat yang awalnya didesain untuk melindungi pekerja dari dampak buruk bising, malah berkontribusi pada meningkatnya angka kelelahan dan penurunan fungsi pendengaran di lapangan.
Fenomena ini memberikan sinyal kuat bahwa sekadar “memakai pelindung” saja tidak cukup. Para peneliti menyimpulkan bahwa efektivitas material peredam suara pada earmuff perlu dievaluasi kembali secara mendalam, mengingat setiap bahan memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menyerap sumber bunyi. Industri diharapkan tidak hanya fokus pada kepatuhan penggunaan APD, tetapi juga lebih selektif dalam memilih material pelindung yang tepat agar perlindungan yang diberikan bisa optimal tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan pekerja.
Sumber:
Setyawan, H., Kusuma, N.N., Rahma, R.A.A., and Prasetya, T.A.E, (2026). The Impact Of Earmuff Use On Hearing Function Impairment and Fatigue: A Time Series Study Among Weaving Workers In Surakarta, Indonesia. The Indonesian Journal Of Public Health, 21(1), 57-71.





