Artikel ini membahas migrasi yang disebabkan oleh perubahan iklim sebagai fenomena yang telah berlangsung lama dalam sejarah manusia, bukan semata-mata krisis yang baru muncul di era kontemporer. Para penulis berargumen bahwa perpindahan penduduk akibat tekanan lingkungan telah terjadi sejak zaman prasejarah dan merupakan strategi adaptasi berulang yang membentuk pola pemukiman serta transformasi sosial sepanjang waktu. Dengan menggunakan pendekatan historis-analitis berbasis tinjauan literatur interdisipliner, penelitian ini melacak keterkaitan antara variabilitas iklim dan mobilitas manusia dari periode prasejarah hingga saat ini. Secara teoretis, artikel ini mengintegrasikan berbagai perspektif.
Teori dorong-tarik menjelaskan bagaimana faktor seperti kekeringan dan paceklik mendorong orang meninggalkan rumahnya, sementara lahan subur atau keselamatan menarik mereka ke wilayah baru. Pendekatan kerentanan dan ketahanan menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim tidak merata karena dipengaruhi oleh ketimpangan sosial, kapasitas institusi, dan akses terhadap sumber daya. Teori adaptasi memosisikan migrasi bukan sebagai kegagalan, melainkan sebagai strategi aktif untuk mengurangi risiko dan mempertahankan penghidupan. Sementara itu, ekologi politik dan teori sistem dunia menyoroti bagaimana struktur kekuasaan, kolonialisme, dan ketimpangan global membentuk pola migrasi.
Temuan utama artikel ini menunjukkan bahwa variabilitas iklim secara konsisten memicu pergerakan populasi besar sepanjang sejarah. Pada zaman prasejarah, migrasi Homo sapiens keluar dari Afrika sekitar 60.000 hingga 70.000 tahun yang lalu sangat dipengaruhi oleh siklus glasial dan desertifikasi Sahara. Ketika Sahara berubah dari sabana hijau menjadi gurun, populasi terpaksa berpindah mencari air dan lahan penggembalaan. Akhir Zaman Es sekitar 12.000 tahun lalu membuka wilayah baru di Eropa dan Asia, sekaligus menenggelamkan dataran pantai, sehingga mendorong perpindahan dan adaptasi besar-besaran. Memasuki periode klasik dan abad pertengahan, hubungan antara iklim dan migrasi menjadi semakin kompleks dengan hadirnya negara, sistem pertanian, dan pusat-pusat urban. Kekeringan berkepanjangan berkontribusi pada runtuhnya peradaban Zaman Perunggu Akhir di Mediterania timur, memicu perpindahan kelompok yang dikenal sebagai Bangsa Laut. Di Tiongkok, gagalnya musim hujan pada abad kesembilan menyebabkan keruntuhan Dinasti Tang dan mendorong migrasi besar-besaran dari utara ke selatan, yang mengubah peta demografi dan politik negara tersebut.
Di Eropa, Periode Hangat Abad Pertengahan memungkinkan ekspansi pertanian ke utara dan kolonisasi Greenland oleh bangsa Norse, namun ketika Zaman Es Kecil tiba pada abad keempat belas, koloni-koloni tersebut runtuh dan kelaparan meluas, mendorong penduduk desa bermigrasi ke kota-kota. Pada periode modern awal antara tahun 1500 dan 1800, dampak iklim terhadap migrasi semakin mengglobal. Zaman Es Kecil mencapai puncaknya pada abad ketujuh belas, menyebabkan gagal panen berulang di Eropa. Kelaparan Besar di Finlandia pada tahun 1696-1697 menewaskan sepertiga penduduk dan memaksa para penyintas bermigrasi ke dalam maupun keluar negeri.
Di Skotlandia, kelaparan tahun 1690-an mendorong emigrasi ke Irlandia dan Amerika. Di Asia, kekeringan dan banjir di Cekungan Sungai Kuning berkontribusi pada runtuhnya Dinasti Ming, sementara variabilitas musim hujan di India memicu kelaparan massal di Dataran Tinggi Deccan pada tahun 1630-1632. Yang penting, periode ini juga menyaksikan bagaimana tekanan iklim di Eropa terkait dengan ekspansi kolonial dan perdagangan budak transatlantik, yang menghasilkan redistribusi populasi terbesar dalam sejarah manusia. Pada periode kontemporer dari abad kesembilan belas hingga kedua puluh satu, eskalasi migrasi akibat iklim mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Berbeda dengan periode-periode sebelumnya yang didominasi oleh variabilitas iklim alami, era modern ini ditandai oleh perubahan iklim antropogenik yang dipercepat oleh industrialisasi, urbanisasi, dan globalisasi. Kelaparan Kentang Irlandia tahun 1845-1852, yang diperparah oleh kondisi basah yang tidak biasa, memaksa satu hingga dua juta orang beremigrasi ke Amerika Utara dan Inggris.
Rangkaian kelaparan global yang terkait dengan fenomena El Ni帽o antara tahun 1876 dan 1879 menewaskan sekitar 30 hingga 50 juta orang di India, Tiongkok utara, dan Brasil, serta mendorong perpindahan massal ke kota-kota kolonial. Di Amerika Serikat, peristiwa Dust Bowl pada tahun 1930-an menyebabkan sekitar 2,5 juta orang meninggalkan Great Plains menuju California, mengubah lanskap pertanian dan budaya negara tersebut. Pada abad kedua puluh satu, skala displasemen akibat iklim semakin mengkhawatirkan. Menurut Internal Displacement Monitoring Centre, bencana terkait cuaca saja telah mengungsikan rata-rata 24 juta orang per tahun antara tahun 2008 dan 2020. Bangladesh diperkirakan akan menghadapi sekitar 13 juta migran iklim internal pada tahun 2050 akibat banjir pesisir dan naiknya permukaan laut.
Negara-negara kepulauan Pasifik menghadapi tantangan eksistensial karena seluruh komunitas terancam kehilangan tanah yang layak huni. Berbeda dengan migrasi historis yang sering berlangsung selama berabad-abad, perpindahan modern terjadi jauh lebih cepat dan diperumit oleh keberadaan batas negara, rezim pengungsi yang belum mengakui status “pengungsi iklim”, serta ketimpangan global yang mendalam. Artikel ini menyimpulkan bahwa lintasan historis migrasi akibat iklim menunjukkan adanya kontinuitas yang kuat sekaligus transformasi signifikan. Kontinuitasnya terletak pada peran sentral kelangkaan air, kerawanan pangan, dan kegagalan panen sebagai pendorong migrasi di semua periode. Namun, transformasi terjadi dalam skala, kecepatan, dan konteks tata kelola. Di masa lalu, migrasi bersifat lebih lokal, bertahap, dan relatif tidak terhambat oleh batas-batas politik.
Saat ini, perubahan iklim antropogenik telah mengintensifkan proses displasemen ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan para migran iklim menghadapi rezim hukum yang restriktif serta kendala geopolitik yang mempersulit adaptasi. Oleh karena itu, para penulis menekankan bahwa migrasi iklim tidak boleh dipahami semata-mata sebagai krisis, melainkan sebagai strategi adaptasi manusia yang telah berlangsung lama. Pengakuan atas kontinuitas historis ini penting untuk merumuskan kebijakan yang lebih adil, peka konteks, dan berkelanjutan dalam menghadapi percepatan perubahan iklim saat ini. Artikel ini merekomendasikan perlunya mengarusutamakan mobilitas dalam perencanaan adaptasi iklim, memperkuat pengakuan hukum bagi populasi yang terlantar akibat iklim, serta meningkatkan kerja sama tata kelola multilevel yang berlandaskan prinsip hak asasi manusia.
Penulis: Dr. Sri Endah Kinasih, S.Sos, M.Si.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





