东京热

东京热 Official Website

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Hidup pada Pasien Pasca Luka Bakar di Indonesia

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Luka bakar adalah bentuk trauma mendalam yang tidak hanya meninggalkan dampak fisik akibat nyeri berkepanjangan dan risiko cacat permanen tetapi juga memengaruhi sisi psikologis serta sosial pasien melalui ancaman depresi, kecemasan, hingga stigmatisasi lingkungan yang dapat memengaruhi kualitas hidup mereka. Konsep kualitas hidup terkait kesehatan ini dipengaruhi oleh karakteristik individu dan lingkungan, di mana penelitian yang telah dilakukan di Ethiopia oleh Tibebu dkk. dan di Lebanon oleh Bourgi dkk., menunjukkan bahwa faktor keparahan luka, rasa sakit, hingga tingkat pendidikan sangat menentukan bagaimana pasien melanjutkan hidup.

Di Indonesia sendiri, dampak psikologis seperti depresi pada penderita luka bakar masih sangat jarang diteliti akibat minimnya informasi mengenai efek jangka panjang trauma ini. Berdasarkan hal tersebut, maka dilakukannya sebuah penelitian terbaru yang menggunakan kuesioner standar internasional Burn-Specific Health Scale-Brief (BSHS-B) untuk mengupas tuntas faktor-faktor yang memengaruhi kualitas hidup pasien dengan harapan dapat menjadi panduan krusial bagi para apoteker dan klinisi dalam memberikan intervensi medis maupun psikososial yang tepat sasaran demi membantu para penyintas bangkit kembali.

Penelitian cross-sectional ini dilaksanakan di Unit Rawat Jalan Bedah Plastik RSUD Dr. Soetomo pada Mei鈥揂gustus 2024. Melalui perhitungan Rumus Slovin dari data kunjungan rumah sakit, diketahui banyaknya sampel sebanyak 110 pasien. Lalu, tim peneliti mengumpulkan 113 pasien penyintas luka bakar sebagai responden penelitian. Responden yang terpilih berada di usia produktif (berkisar 18-70 tahun), sudah keluar dari rumah sakit minimal enam bulan, memiliki rekam medis yang lengkap, serta bersedia terlibat aktif dalam penelitian. Pasien yang memiliki riwayat gangguan jiwa atau penyakit kronis berat lainnya sengaja tidak dilibatkan agar hasil evaluasi tidak bias.

Penelitian ini menunjukkan kabar baik, dimana hasil survey menggunakan kuesioner standar internasional BSHS-B dan PHQ-9 menyatakan bahwa secara umum kualitas hidup para penderita luka bakar di Indonesia tergolong baik. Mayoritas pasien dalam penelitian ini adalah laki-laki dengan usia rata-rata 37 tahun), tingkat keparahan luka rata-rata luas luka bakar 16,32%, dan lama rawat inap 12 hari. Hal ini membuktikan bahwa penanganan medis pasca-kecelakaan di rumah sakit sudah berjalan sangat optimal. Terlebih, sebagian besar pasien baru melewati masa pemulihan kurang dari satu tahun dan tidak punya riwayat masalah kesehatan mental sebelum insiden terjadi.

Namun, proses pemulihan ini memiliki tantangan sendiri, dimana penelitian ini mengungkap fakta bahwa semakin luas area luka bakar yang dialami, maka waktu perawatan di rumah sakit akan semakin lama dan mereka harus lebih sering menjalani prosedur pembersihan jaringan (debridement). Prosedur yang berulang inilah yang memicu munculnya bekas luka atau jaringan parut permanen pada 75,2% pasien. Tantangan fisik ini menjadi hal yang berat bagi pasien yang memiliki penyakit penyerta (komorbid), dimana mereka menghadapi risiko hingga 140 kali lebih besar untuk mengalami penurunan kualitas hidup akibat keterbatasan ruang gerak dan tingginya tekanan psikologis dalam keseharian mereka.

Hal menarik lainnya yang ditemukan adalah meskipun secara umum penderita luka bakar memiliki kualitas hidup yang baik, namun jenis kelamin perempuan jauh lebih rentan mengalami penurunan kualitas hidup yang sangat dipengaruhi oleh luasnya luka, seringnya tindakan pembersihan luka, tingkat depresi, serta adanya penyakit bawaan. Secara psikologis, keberadaan bekas luka permanen sering kali mengganggu penampilan tubuh mereka sehingga memicu rasa tidak percaya diri dan kecenderungan untuk menarik diri dari lingkungan sosial. Lewat temuan mendalam ini, apoteker dan seluruh penyedia layanan kesehatan kini dapat saling bekerja sama untuk memberikan intervensi klinis dan pendampingan psikososial yang jauh lebih tepat sasaran, khususnya bagi para pasien yang berisiko tinggi, agar mereka dapat kembali menata masa depan dengan penuh percaya diri.

Penulis: Favian Rafif Firdaus, Yunita Nita, Catur Dian Setiawan, Elida Zairina

Artikel Lengkap: Hidayatullah, A. Y. N., Zairina, E., & Saputro, I. D.  (2025). Factors Affecting Quality of Life in Post-Burn Patients: A Cross-Sectional Study in Indonesia. Annals of Burns and Fire Disasters, 38(4), p. 288-295. PMID: 41480129; PMCID: PMC12755393.

Link:

AKSES CEPAT