Sebagian masyarakat membayangkan primata gemar memakan buah-buahan terutama pisang. Gambaran yang telah begitu melekat sebagai budaya populer seolah-olah seluruh primata memiliki pola makan yang sama. Kenyataannya jauh lebih kompleks. Di Pulau Jawa terdapat beberapa kelompok primata endemik yang justru memiliki strategi makan yang berbeda seperti lutung (Trachypithecus spp.) dan surili (Presbytis comata).
Kedua satwa primata dilindungi tersebut sering dianggap sebagai pemakan buah. Padahal secara biologis mereka merupakan primata folivora atau pemakan daun yang memiliki sistem pencernaan khusus untuk mengolah bahan pakan berserat tinggi. Hal tersebut sangat penting diketahui dalam memenuhi kebutuhan nutrisi yang berdampak langsung terhadap kesehatan dan kesejahteraan satwa. Oleh karena itu, pengenalan karakteristik biologis kedua primata ini menjadi penting dalam upaya peningkatan konservasi yang tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat. Juga pemenuhan kebutuhan fisiologis yang sesuai dengan sejarah evolusinya.
Anatomi Lambung Berkompartemen
Secara taksonomi, lutung dan surili termasuk dalam famili Cercopithecidae dan subfamili Colobinae. Kelompok colobine dikenal sebagai primata dengan spesialisasi konsumsi daun. Berbeda dengan kelompok primata lain yang banyak mengonsumsi buah, kelompok ini berevolusi untuk memanfaatkan sumber makanan yang melimpah dengan kualitas nutrisi yang relatif rendah seperti daun (Hendrayana et al., 2025).
Adaptasi tersebut terlihat dari perilaku makan karena struktur anatomi dan fisiologi pencernaan yang berbeda dari primata pemakan buah. Salah satu ciri paling menonjol dari lutung dan surili adalah keberadaan lambung berkompartemen (sacculated foregut) (Liu et al., 2022).
Jika pada primata yang dikenal umum seperti monyet ekor panjang, siamang, Owa Jawa, bahkan manusia terlihat sistem kerja dan anatomi lambung relatif sederhana dan proses pencernaan sebagian besar terjadi melalui enzim pencernaan. Sebaliknya, untuk lambung lutung dan surili lambung terdiri atas beberapa ruang yang menjadi tempat hidup berbagai mikroorganisme simbiotik yaitu bakteri fermentatif dari berbagai jenis.
Mikroorganisme tersebut memiliki kemampuan untuk memecah selulosa dan hemiselulosa yang terkandung dalam daun. Selulosa merupakan komponen utama dinding sel tumbuhan yang sangat sulit dicerna oleh sebagian besar mamalia (Clayton et al., 2019). Tanpa kehadiran bantuan mikroorganisme membuat energi yang terkandung dalam serat tumbuhan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Melalui proses fermentasi, selulosa diubah menjadi asam lemak volatil yang kemudian diserap dan digunakan sebagai sumber energi oleh tubuh satwa (Que et al., 2022).
Sistem ini sering dibandingkan dengan mekanisme pencernaan hewan ruminansia seperti sapi, kambing, ataupun rusa. Prinsip dasar mekanisme fisiologis lambung tampak serupa meskipun ada perbedaan struktur anatomi dan regurgitasi. Yaitu memanfaatkan fermentasi mikroba untuk memperoleh energi dari bahan pakan berserat tinggi. Kadang colobine dijuluki sebagai ruminansia versi primata yang memiliki pencernaan unik di antara kelompok primata lain (Bauchop and Martucci, 1968).
Adaptasi fisiologis tersebut menjelaskan alasan daun muda menjadi komponen pakan lutung dan surili. Daun muda mengandung protein lebih tinggi, kadar serat yang lebih rendah, dan lebih mudah difermentasi dibandingkan daun tua (Matsuda et al., 2017). Mereka juga mengkonsumsi pucuk tanaman, bunga, biji tertentu, dan buah dalam jumlah terbatas. Jadi buah bukanlah makanan utama dan melainkan hanya pelengkap ketika tersedia di habitat alami.
Diet Salah Tingkatkan Gangguan Pencernaan
Pemberian buah untuk lutung dan surili dengan jumlah berlebihan akan menimbulkan konsekuensi kesehatan serius. Buah-buahan yang dikembangkan saat ini melalui budidaya memiliki kandungan gula jauh lebih tinggi dibandingkan buah liar yang tersedia di habitat alami. Buah dengan kadar gula tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan oleh satwa folivora akan mengganggu keseimbangan mikroba fermentatif dalam lambung (Sha, 2014).
Perubahan komposisi mikroorganisme dapat menyebabkan gangguan fermentasi seperti kembung, penurunan efisiensi pencernaan, hingga timbul masalah kesehatan kronis. Individu yang berasal dari hasil sitaan perdagangan ilegal atau konflik dengan manusia sering kali mengalami perubahan kebiasaan makan akibat terlalu lama diberi pakan yang tidak sesuai. Satwa harus menjalani proses adaptasi agar mampu mengenali dan memanfaatkan sumber pakan alami yang tersedia di habitatnya (Simoes et al., 2025).
Akibat dari proses kronis kesalahan pemberian pakan sering ditemukan kerusakan anatomis pada lambung yang menyebabkan metabolisme tidak berjalan dengan baik. Bahkan mortalitas terjadi karena kerusakan anatomi lambung yang serius seperti lapisan yang menipis ataupun sumbatan tertentu (Naito, 2024). Kasus kesehatan seperti diare, gangguan metabolik, obesitas, dan penyakit degeneratif lainnya dapat terjadi. Oleh karena itu, tren pengelolaan nutrisi modern pada konservasi primata pemakan daun dilakukan dengan mengurangi proporsi buah dan meningkatkan penyediaan daun segar, hijauan, serta pakan berserat tinggi yang lebih mendekati kondisi alami.
Perbedaan Perilaku Folivora dan Frugivora
Pola makan folivora turut berpengaruh terhadap perilaku harian lutung dan surili. Karena daun memiliki kandungan energi yang relatif rendah dibandingkan buah. Kedua primata ini mengalokasikan waktu yang lebih banyak untuk beristirahat. Energi yang diperoleh dari fermentasi serat tidak tersedia secepat energi dari gula sederhana sehingga metabolisme mereka cenderung lebih lambat. Aktivitas harian didominasi oleh makan, berpindah tempat dalam jarak relatif pendek, beristirahat, dan melakukan interaksi sosial. Perilaku ini berbeda dengan primata frugivora seperti Owa Jawa (Hylobates moloch). Owa mengkonsumsi buah sebagai sumber energi utama sehingga membutuhkan pergerakan lebih luas untuk mencari pohon yang sedang berbuah.
Tingginya kebutuhan energi juga mendukung aktivitas brakiasi atau berayun dari satu pohon ke pohon lain yang menjadi ciri khas kelompok kera kecil tersebut. Sebaliknya, lutung dan surili lebih sering bergerak secara quadrupedal di atas cabang pohon dan menghemat energi melalui periode istirahat yang lebih panjang. Keberadaan lutung dan surili memberikan kontribusi penting bagi dinamika ekosistem hutan. Seekor konsumen daun membantu mengontrol pertumbuhan vegetasi tertentu dan mempengaruhi struktur kanopi hutan. Mereka juga tetap berperan dalam penyebaran biji meskipun tidak sebesar primata pemakan buah.
Ironi Kerusakan Habitat Alami
Kehadiran berbagai jenis primata dengan pola makan yang berbeda menciptakan pembagian relung ekologi yang memungkinkan banyak spesies hidup berdampingan dalam satu habitat. Ironisnya, keberadaan lutung dan surili saat ini menghadapi berbagai ancaman serius. Deforestasi, fragmentasi habitat, pembangunan infrastruktur, serta ekspansi lahan pertanian terus mengurangi luas habitat alami mereka. Surili bahkan termasuk spesies dengan stres tinggi yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan sangat bergantung pada hutan yang masih utuh. Ketika habitat menyusut, sumber pakan alami berupa daun muda dan vegetasi hutan juga ikut berkurang, sehingga meningkatkan tekanan terhadap populasi liar.
Edukasi Tingkatkan Kepedulian Konservasi
Edukasi masyarakat menjadi salah satu instrumen konservasi yang tidak kalah penting dibandingkan perlindungan kawasan. Masyarakat perlu memahami tidak semua primata memiliki kebutuhan nutrisi yang sama. Memberikan buah atau makanan manusia kepada lutung dan surili bukanlah bentuk kepedulian. Tapi adalah tindakan yang berpotensi mengganggu kesehatan satwa. Dengan menghormati perilaku alami mereka dan menjaga kelestarian habitat merupakan kontribusi yang jauh lebih bermakna. Memahami keunikan tersebut tentu akan memperkaya pengetahuan tentang keanekaragaman hayati Indonesia dan menjadi dasar penting upaya konservasi yang berbasis sains.
Semakin banyak masyarakat memahami bahwa lutung dan surili adalah primata folivora dengan kebutuhan nutrisi yang khas, semakin besar pula peluang untuk kepedulian kesehatan, kesejahteraan, dan kelestarian kedua satwa endemik Jawa ini di masa depan dengan mengedepankan hidup alamiah mereka. Konservasi tidak hanya berarti menyelamatkan individu atau melindungi hutan, tetapi juga memahami cara hidup satwa sebagaimana alam telah membentuknya selama jutaan tahun evolusi.
Penulis: Azhar Burhanuddin (Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan FIKKIA)
Referensi:
Bauchop T, Martucci RW. Ruminant-like digestion of the langur monkey. Science. 1968 Aug 16;161(3842):698-700. doi: 10.1126/science.161.3842.698. PMID: 4969750.
Clayton JB, Shields-Cutler RR, Hoops SL, Al-Ghalith GA, Sha JCM, Johnson TJ, Knights D. 2019. Bacterial community structure and function distinguish gut sites in captive red-shanked doucs (Pygathrix nemaeus). Am J Primatol. 81(10-11):e22977. doi: 10.1002/ajp.22977.
Hendrayana, Y., Kusmana, C., Widodo, P., & Widhiono, I. 2025. The Existence and Characteristics of The Habitat of the Javan Langur (Trachypithecus auratus) and Surili (Presbytis comata) in the Secondary Forest of Mount Tilu, Kuningan, West Java. Jurnal Penelitian Hutan Dan Konservasi Alam. 22(1):1-14. https://doi.org/10.59465/jphka.v21i1.714
Liu, R., Amato, K., Hou, R., Gomez, A., Dunn W.D.,, Zhang, J., Garber, Paul A., Chapman, A.C., Righini, N., He, G., Fang, G., Li, Y., Li, B., Guo, S. 2022. Specialized digestive adaptations within the hindgut of a colobine monkey. The Innovation. 3(2):100207. .
Matsuda I, Clauss M, Tuuga A, Sugau J, Hanya G, Yumoto T, Bernard H, Hummel J. 2017. Factors Affecting Leaf Selection by Foregut-fermenting Proboscis Monkeys: New Insight from in vitro Digestibility and Toughness of Leaves. Sci Rep. 7:42774. doi: 10.1038/srep42774.
Naito Y. 2024. Gut Frailty: Its Concept and Pathogenesis. Digestion.105(1):49-57. doi: 10.1159/000534733.
Primates in Guangxi, China, Based on Metagenome Sequencing. Front Cell Infect Microbiol. 12:872841. doi: 10.3389/fcimb.2022.872841.
Sha, J.C. 2014. Comparative diet and nutrition of frugivorous and folivorous primates at the Singapore Zoo. Journal of Zoo and Aquarium Research, 2(3) 54–61. https://doi.org/10.19227/jzar.v2i3.46
Simões CD, Sousa AS, Fernandes S, Sarmento A. 2025. Fructose Malabsorption, Gut Microbiota and Clinical Consequences: A Narrative Review of the Current Evidence. Life (Basel). 15(11):1720. doi: 10.3390/life15111720.
Que T, Pang X, Huang H, Chen P, Wei Y, Hua Y, Liao H, Wu J, Li S, Wu A, He M, Ruan X, Hu Y. 2022. Comparative Gut Microbiome in Trachypithecus leucocephalus and Other




