¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Waspada Parasit pada Reptil: Mahasiswa PPDH Identifikasi Kalicephalus di Jawa Timur

Surabaya – Reptil seperti iguana, soa layar, dan Blue Tongue Skink semakin populer sebagai hewan peliharaan eksotis di Indonesia. Namun di balik daya tariknya, reptil juga berpotensi menjadi inang berbagai parasit yang dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan hewan. Salah satu parasit yang menjadi perhatian dalam dunia parasitologi veteriner adalah Kalicephalus, nematoda yang umum menginfeksi saluran pencernaan reptil.

Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran dan pengembangan kompetensi diagnostik di Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Kelompok 45 melakukan pemeriksaan parasitologi pada berbagai spesies reptil. Melalui pemeriksaan mikroskopis terhadap sampel feses, mahasiswa berhasil mengidentifikasi telur Kalicephalus pada beberapa reptil peliharaan, antara lain Blue Tongue Skink (Tiliqua gigas), soa layar (Hydrosaurus spp.), dan iguana.

Gambar 1. Temuan telur Kalicephalus pada feses Blue Tongue Skink peliharaan
(Sumber: Dokumentasi PPDH 45 FKH Unair)

Temuan tersebut menunjukkan bahwa infestasi Kalicephalus masih dapat ditemukan pada reptil yang dipelihara oleh masyarakat. Meskipun pada beberapa kasus tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas, keberadaan parasit ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan apabila jumlah infestasi meningkat atau terjadi infeksi sekunder.

Tidak hanya pada reptil peliharaan, mahasiswa juga menemukan telur Kalicephalus pada sampel feses reptil liar yang berasal dari wilayah Mojokerto dan Surabaya. Parasit ditemukan pada biawak liar serta ular python liar yang menjadi objek pemeriksaan. Hasil ini memberikan gambaran bahwa Kalicephalus masih beredar di populasi reptil liar di Jawa Timur dan berpotensi menjadi bagian dari dinamika kesehatan satwa di habitat alaminya.

Gambar 2. Temuan telur Kalicephalus pada feses Biawak liar (Seumber: Dokumentasi PPDH 45 FKH Unair)

Kalicephalus merupakan genus nematoda dari famili Diaphanocephalidae yang banyak ditemukan pada berbagai spesies reptil, terutama ular. Parasit ini memiliki karakteristik biologis yang menyerupai cacing tambang pada mamalia dan hidup di saluran pencernaan inangnya. Dalam kondisi tertentu, infestasi dapat menyebabkan peradangan saluran cerna, gangguan penyerapan nutrisi, anemia, hingga penurunan kondisi tubuh. Pada kasus yang lebih berat, infeksi dapat diperparah oleh infeksi bakteri sekunder yang berpotensi mengancam keselamatan hewan.

Temuan mahasiswa PPDH ini juga sejalan dengan berbagai laporan penelitian sebelumnya yang menunjukkan tingginya prevalensi Kalicephalus pada reptil di Indonesia. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan dan monitoring parasit secara berkala, baik pada reptil peliharaan maupun satwa liar.

Bagi pemilik reptil, deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah dampak yang lebih serius. Pemeriksaan feses secara rutin, sanitasi kandang yang baik, pemberian pakan yang higienis, serta karantina terhadap reptil baru merupakan beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko penyebaran parasit. Apabila ditemukan infestasi, konsultasi dengan dokter hewan diperlukan untuk menentukan penanganan dan terapi yang sesuai.

Selain memberikan pengalaman praktis dalam bidang diagnostik parasitologi, kegiatan ini juga memperkuat kemampuan mahasiswa dalam melakukan identifikasi morfologi parasit, interpretasi hasil laboratorium, serta memahami hubungan antara kesehatan hewan, lingkungan, dan konservasi satwa. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan semacam ini menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensi dokter hewan yang mampu menerapkan pendekatan ilmiah dalam mendukung kesehatan hewan dan keberlanjutan lingkungan.

Kegiatan identifikasi Kalicephalus yang dilakukan oleh mahasiswa PPDH Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya pemantauan kesehatan hewan dan pencegahan penyakit, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa berbasis praktik laboratorium dan lapangan, serta SDG 15 (Life on Land) melalui kontribusi terhadap pemantauan kesehatan satwa liar dan pelestarian keanekaragaman hayati. Temuan ini juga mencerminkan pentingnya pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

Penulis : Melynda Veronika Kartjito (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)

Editor : Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT