¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Dari Laboratorium ke Lingkungan: Identifikasi Capillaria hepatica pada Tikus sebagai Bagian Surveilans Kesehatan Hewan

Surabaya, 16 Juni 2026 — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) angkatan 45 Tandem 1 Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ yang sedang menjalani koasistensi di Divisi Parasitologi Veteriner melaksanakan kegiatan nekropsi dan pemeriksaan parasitologi terhadap seekor tikus yang diperoleh dari lingkungan permukiman di Kecamatan Jambangan, Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran praktik diagnostik parasitologi veteriner sekaligus upaya pengenalan surveilans penyakit pada hewan liar yang hidup di sekitar permukiman masyarakat.

Pemeriksaan diawali dengan nekropsi untuk mengamati kondisi organ-organ dalam. Selanjutnya, organ hepar diambil sebagai sampel untuk pemeriksaan parasitologi. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode scraping (scrap hepar), yaitu dengan mengerok permukaan jaringan hepar, kemudian hasil kerokan diletakkan pada kaca objek, ditambahkan larutan fisiologis, dan diamati menggunakan mikroskop.

Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan adanya telur cacing yang memiliki bentuk oval menyerupai tong (barrel-shaped), berwarna kecokelatan, berdinding tebal, dan dilengkapi sumbat kutub (polar plug) pada kedua ujungnya. Berdasarkan karakteristik morfologi telur dan lokasi ditemukannya parasit pada jaringan hati, spesies tersebut diidentifikasi sebagai Capillaria hepatica.

Capillaria hepatica merupakan nematoda yang umum menginfeksi rodensia, terutama tikus, dengan predileksi pada hepar. Berbeda dengan sebagian besar nematoda lainnya, telur parasit ini tidak langsung dikeluarkan melalui feses, melainkan tertahan di jaringan hati hingga inang mati atau jaringan hati mengalami dekomposisi di lingkungan. Kondisi tersebut menyebabkan siklus hidup Capillaria hepatica memiliki karakteristik yang unik dibandingkan cacing nematoda lainnya.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa tikus yang hidup di lingkungan permukiman dapat menjadi inang bagi berbagai jenis parasit. Oleh karena itu, pengendalian populasi tikus serta penerapan sanitasi lingkungan yang baik menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko penyebaran agen penyakit yang berpotensi memengaruhi kesehatan hewan maupun manusia.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa PPDH 45 Tandem 1 memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan nekropsi, pengambilan sampel organ, preparasi sampel dengan metode scrap hepar, serta identifikasi parasit berdasarkan karakteristik morfologi telur. Kegiatan tersebut juga memperkuat pemahaman mengenai pentingnya peran dokter hewan dalam surveilans penyakit dan pemantauan kesehatan lingkungan melalui pendekatan One Health.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui upaya deteksi dini dan pencegahan penyakit zoonotik, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui peningkatan kesadaran terhadap kesehatan lingkungan perkotaan, serta SDG 15 (Life on Land) melalui pemantauan kesehatan satwa liar sebagai bagian dari ekosistem. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan sinergi antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dapat terus ditingkatkan untuk mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Neona Dwi Nila Cahyani (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT