¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Studi Parasitologi pada Babi: Pembelajaran dan Identifikasi Parasit oleh Mahasiswa PPDH

Surabaya – Parasit masih menjadi salah satu tantangan utama dalam dunia peternakan karena dapat memengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Pada peternakan babi, infeksi parasit sering kali berlangsung secara kronis tanpa menunjukkan gejala yang spesifik pada tahap awal, sehingga keberadaannya kerap luput dari perhatian peternak. Padahal, infestasi parasit dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan efisiensi pakan, gangguan reproduksi, hingga kerugian ekonomi yang signifikan.

Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran di Laboratorium Parasitologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Kelompok 45 Tandem 1 melaksanakan kegiatan pemeriksaan dan identifikasi parasit pada babi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam melakukan diagnosis laboratorium serta memahami dampak infeksi parasit terhadap kesehatan dan produktivitas ternak.

Pemeriksaan diawali dengan pengambilan sampel feses yang dilakukan sesuai prinsip biosafety dan biosecurity untuk menjaga kualitas sampel serta mencegah terjadinya kontaminasi silang. Setiap sampel kemudian diberi kode identifikasi sebelum dibawa ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Di Laboratorium Parasitologi Veteriner, mahasiswa melakukan analisis menggunakan beberapa metode diagnostik, yaitu metode natif, flotasi, dan sedimentasi. Ketiga metode tersebut digunakan untuk meningkatkan peluang deteksi berbagai jenis telur maupun larva parasit yang mungkin terdapat dalam sampel. Preparat yang telah dibuat kemudian diamati secara mikroskopis dan hasilnya dibandingkan dengan referensi morfologi parasit yang digunakan dalam bidang parasitologi veteriner.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa mempelajari berbagai jenis parasit yang umum ditemukan pada babi, di antaranya Ascaris suum, Trichuris suis, Strongyloides ransomi, Oesophagostomum spp., serta protozoa penyebab koksidiosis seperti Isospora suis. Masing-masing parasit memiliki karakteristik biologis dan dampak klinis yang berbeda terhadap kesehatan ternak.

Ascaris suum dikenal sebagai salah satu nematoda terbesar pada babi yang dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan kerusakan organ selama fase migrasi larva. Sementara itu, Trichuris suis sering ditemukan pada sekum dan usus besar serta dapat menimbulkan peradangan kronis apabila infestasi berlangsung dalam jumlah tinggi. Pada anak babi, infeksi Strongyloides ransomi menjadi perhatian khusus karena dapat menyebabkan diare berat dan meningkatkan angka kematian apabila tidak ditangani dengan baik.

Selain mengenali morfologi parasit, mahasiswa juga mempelajari hubungan antara kondisi lingkungan peternakan dengan tingkat kejadian infeksi. Faktor-faktor seperti sanitasi kandang yang kurang optimal, kepadatan populasi ternak yang tinggi, pengelolaan limbah yang tidak memadai, serta tidak adanya program pengobatan cacing secara rutin diketahui berperan penting dalam mempertahankan siklus hidup parasit di lingkungan peternakan.

Kegiatan ini memberikan pemahaman bahwa infeksi parasit tidak hanya berdampak pada kesehatan hewan, tetapi juga memengaruhi efisiensi produksi. Ternak yang terinfeksi umumnya mengalami penurunan pertambahan bobot badan, gangguan penyerapan nutrisi, penurunan performa produksi, serta meningkatnya kerentanan terhadap penyakit lain. Oleh karena itu, pengendalian parasit menjadi bagian penting dalam manajemen kesehatan peternakan modern.

Mahasiswa juga mempelajari berbagai strategi pengendalian yang dapat diterapkan di lapangan, seperti pemberian anthelmintik secara berkala, perbaikan sanitasi kandang, pengelolaan limbah yang baik, penyediaan pakan dan air minum yang higienis, serta penerapan biosekuriti yang ketat. Pendekatan terpadu tersebut diperlukan untuk memutus siklus hidup parasit dan mengurangi tingkat kontaminasi lingkungan.

Melalui kegiatan pemeriksaan dan identifikasi parasit pada babi ini, mahasiswa PPDH memperoleh pengalaman langsung dalam melakukan pengambilan sampel, preparasi laboratorium, pengamatan mikroskopis, serta interpretasi hasil pemeriksaan. Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan kompetensi calon dokter hewan yang profesional, teliti, dan berbasis ilmiah dalam mendukung kesehatan hewan serta produktivitas peternakan.

Kegiatan pembelajaran ini sejalan dengan komitmen Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan ternak dan pencegahan penyakit parasitik, SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan kompetensi mahasiswa berbasis praktik laboratorium, SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui dukungan terhadap produktivitas peternakan yang berkelanjutan, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui upaya menjaga kualitas dan keamanan produk pangan asal hewan.

Penulis: Adinda Prameswari Bilqist P. (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 tandem 1)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT