Surabaya, 17 Juni 2026 – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 1 Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ yang sedang menjalani stase di Laboratorium Parasitologi Veteriner berhasil mengidentifikasi keberadaan parasit zoonosis Hymenolepis nana pada tikus yang ditemukan di lingkungan kampus FKH UNAIR. Temuan ini diperoleh melalui kegiatan pemantauan biosekuriti dan surveilans rodensia yang rutin dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan lingkungan kampus.
Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel tikus yang ditangkap di area sekitar Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ. Melalui identifikasi makroskopis dan mikroskopis di Laboratorium Parasitologi Veteriner, mahasiswa menemukan cacing pita beserta telur yang kemudian teridentifikasi sebagai Hymenolepis nana, atau yang lebih dikenal sebagai cacing pita kerdil (dwarf tapeworm).

Temuan ini menjadi perhatian penting karena H. nana merupakan salah satu parasit zoonosis yang dapat menginfeksi manusia maupun hewan pengerat. Keberadaan parasit tersebut pada tikus menunjukkan bahwa rodensia masih berpotensi berperan sebagai reservoir penyakit di lingkungan sekitar manusia.
Dalam proses identifikasi, mahasiswa mengamati karakteristik morfologi telur H. nana yang khas di bawah mikroskop. Telur memiliki bentuk oval hingga bulat dengan dinding ganda yang transparan. Salah satu ciri diagnostik utama adalah adanya penebalan pada kedua kutub membran bagian dalam yang disertai filamen polar halus yang menjuntai di ruang antara kedua lapisan dinding telur. Struktur ini menjadi penanda penting dalam membedakan telur H. nana dari telur cestoda lainnya.
Menurut hasil pengamatan dan kajian literatur yang dilakukan mahasiswa, Hymenolepis nana memiliki siklus hidup yang unik dibandingkan cacing pita lainnya. Parasit ini dapat menyelesaikan siklus hidupnya secara langsung tanpa memerlukan hospes perantara. Telur infektif yang keluar bersama feses dapat tertelan kembali oleh manusia atau tikus melalui makanan, minuman, maupun tangan yang terkontaminasi. Setelah menetas di usus halus, larva berkembang menjadi sistiserkoid sebelum akhirnya tumbuh menjadi cacing dewasa yang menghasilkan telur baru.
Selain siklus hidup langsung, H. nana juga dapat memanfaatkan serangga seperti kumbang tepung (Tribolium spp.) dan pinjal tikus sebagai hospes perantara. Kondisi ini meningkatkan peluang penyebaran parasit melalui bahan pangan yang terkontaminasi apabila sanitasi dan penyimpanan makanan tidak dilakukan dengan baik.
Keunikan lain dari H. nana adalah kemampuannya melakukan autoinfeksi, yaitu kondisi ketika telur yang dihasilkan cacing menetas kembali di dalam tubuh inang yang sama tanpa harus keluar terlebih dahulu melalui feses. Mekanisme ini memungkinkan jumlah cacing meningkat secara signifikan dalam waktu relatif singkat dan menyebabkan tingkat infeksi menjadi lebih berat apabila tidak ditangani.
Secara epidemiologis, infeksi H. nana masih ditemukan di berbagai wilayah Indonesia, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan. Anak-anak usia sekolah menjadi kelompok yang paling rentan karena lebih sering berinteraksi dengan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi serta belum memiliki kebiasaan higiene yang optimal. Faktor lain yang turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini adalah kepadatan penduduk, sanitasi lingkungan yang kurang baik, dan keberadaan populasi tikus yang tidak terkendali.
Menindaklanjuti hasil temuan tersebut, Laboratorium Parasitologi Veteriner FKH ¶«¾©ÈÈ mengimbau seluruh sivitas akademika untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya kebersihan lingkungan dan pengendalian rodensia. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain memperkuat program pengendalian tikus di area kampus, menjaga kebersihan ruang makan dan laboratorium, menyimpan bahan pangan dalam wadah tertutup, mencuci tangan sebelum makan, serta memastikan air minum dan bahan pangan dikonsumsi dalam kondisi higienis.
Kegiatan surveilans dan identifikasi Hymenolepis nana yang dilakukan oleh mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 ini memberikan pengalaman nyata dalam penerapan ilmu parasitologi veteriner di lapangan. Selain meningkatkan kemampuan diagnostik mahasiswa, kegiatan ini juga menunjukkan pentingnya peran dokter hewan dalam mendukung pendekatan One Health, yaitu integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan untuk mencegah munculnya penyakit zoonosis.
Kegiatan ini sejalan dengan komitmen Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being) melalui deteksi dini agen zoonosis dan upaya pencegahan penyakit yang berpotensi mengancam kesehatan masyarakat, serta SDG 4 (Quality Education) melalui pembelajaran berbasis kasus nyata yang memperkuat kompetensi mahasiswa dalam bidang diagnostik, epidemiologi, dan kesehatan masyarakat veteriner. Selain itu, kegiatan ini juga mendukung SDG 15 (Life on Land) melalui pemantauan kesehatan satwa liar dan pengelolaan interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan secara berkelanjutan.
Penulis : Safira Yani Arsidin (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)
Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)




