¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mahasiswa PPDH FKH Unair Temukan Telur Cacing pada Sampel Feses Sapi Asal Malang dalam Pemeriksaan Parasitologi Veteriner

Surabaya, Juni 2026 – Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 1 melaksanakan kegiatan pemeriksaan feses sapi di Laboratorium Parasitologi Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ. Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran diagnostik penyakit parasit yang bertujuan meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam mengidentifikasi dan menginterpretasikan keberadaan parasit pada hewan ternak.

Sampel feses yang diperiksa berasal dari sapi di wilayah Malang dan dikoleksi pada tanggal 13 Juni 2026. Pemeriksaan dilakukan menggunakan metode diagnostik parasitologi untuk mendeteksi keberadaan telur cacing gastrointestinal yang berpotensi memengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak.

Berdasarkan hasil pengamatan mikroskopis, mahasiswa berhasil menemukan beberapa jenis telur cacing nematoda yang menginfeksi saluran pencernaan ternak. Spesies yang teridentifikasi meliputi Trichuris ovis, Haemonchus contortus, dan Strongyloides papillosus. Temuan ini menunjukkan adanya infeksi cacing gastrointestinal pada sapi yang menjadi sumber sampel.

Telur Trichuris ovis dikenali berdasarkan bentuknya yang khas menyerupai tong dengan sumbat pada kedua kutubnya. Parasit ini diketahui hidup di bagian sekum dan kolon ternak serta dapat menyebabkan gangguan pencernaan apabila tingkat infeksinya tinggi. Sementara itu, telur Haemonchus contortus ditemukan dengan morfologi telur tipe strongylid yang berdinding tipis dan berisi massa sel. Spesies ini merupakan salah satu parasit penting pada ruminansia karena bersifat hematofagus atau menghisap darah sehingga dapat menyebabkan anemia, penurunan kondisi tubuh, dan kerugian ekonomi pada peternakan.

Selain itu, identifikasi juga menunjukkan keberadaan telur Strongyloides papillosus yang berbentuk oval dengan larva yang berkembang di dalam telur. Parasit ini sering ditemukan pada ternak muda maupun dewasa dan dapat menimbulkan gangguan pencernaan, diare, serta penurunan performa produksi apabila tidak dikendalikan dengan baik.

Kegiatan pemeriksaan ini memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam menerapkan ilmu parasitologi veteriner untuk mendukung diagnosis penyakit pada hewan ternak. Selain mempelajari karakteristik morfologi telur cacing, mahasiswa juga dilatih untuk melakukan interpretasi hasil laboratorium sebagai dasar penyusunan rekomendasi pengendalian penyakit parasitik di lapangan.

Temuan berbagai spesies cacing gastrointestinal pada sampel sapi asal Malang menjadi pengingat pentingnya program monitoring kesehatan ternak secara berkala. Pemeriksaan feses rutin dapat membantu mendeteksi infeksi sejak dini sehingga tindakan pengobatan dan pengendalian dapat dilakukan secara tepat untuk menjaga kesehatan ternak, meningkatkan produktivitas, serta meminimalkan kerugian ekonomi peternak.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan kesehatan dan produktivitas ternak sebagai bagian dari sistem pangan berkelanjutan, SDG 3 (Good Health and Well-being) melalui pengendalian penyakit parasitik pada hewan, serta SDG 4 (Quality Education) dengan penguatan kompetensi mahasiswa kedokteran hewan melalui pembelajaran berbasis praktik laboratorium. Melalui kegiatan diagnostik parasitologi veteriner, mahasiswa diharapkan mampu berkontribusi dalam pembangunan sektor peternakan yang sehat, produktif, dan berkelanjutan di Indonesia.

Penulis : Annas Noer Wahyudi (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT