Surabaya ─ Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 1 Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ kembali berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi klinik melalui pemeriksaan kesehatan hewan khususnya pada hewan eksotis. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa, 9 Juni 2026. Pada pemeriksaan ini, mahasiswa menemukan parasit yang umum menyerang hewan berdarah dingin seperti reptil, amfibi, dan ikan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran klinik yang bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam melakukan pemeriksaan fisik, pengambilan sampel, identifikasi agen penyakit, dan penentuan langkah pengendalian yang tepat. Melalui pendekatan berbasis kasus nyata, mahasiswa dapat mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh selaman masa pendidikan dengan praktek lapangan yang akan menjadi bekal penting setelah mereka menjalani profesi dokter hewan.
Pemeriksaan dilakukan dengan cara nekropsi, yakni bedah mayat hewan. Hewan yang digunakan pada proses nekropsi kali ini adalah ular piton yang didapat dari Pos Pemadam Kebakaran Mulyorejo, Surabaya. Ular piton merupakan salah satu kelompok reptil yang banyak dipelihara sebagai hewan eksotik maupun ditemukan di alam liar di wilayah tropis.
Dalam proses ini, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 melakukan nekropsi atau bedah mayat hewan dengan cara membedah organ ular baik dalam maupun luar, serta mengambil sampel darah. Nantinya, organ dan darah ini akan diperiksa untuk mendapatkan parasit yang dapat ditemukan pada ular.
Pemeriksaan sampel darah dilakukan dengan melakukan ulas tipis pada object glass dan diamati menggunakan mikroskop. Saat pemeriksaan dengan mikroskop, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 menemukan parasit darah yang umumnya menyerang hewan berdarah dingin. Parasit darah tersebut diidentifikasi sebagai Haemogregarina sp.
           Haemogregarina sp. merupakan parasit protozoa bersel tunggal yang menginfeksi sel darah, terutama sel darah merah (eritrosit). Parasit darah ini paling sering menyerang hewan berdarah dingin, seperti reptil (penyu, kura-kura, ular, kadal, biawak), amfibi, dan ikan. Adapun klasifikasi ilmiah dari Haemogregarina sp. adalah kingdom Animalia, filum Apicomplexa, kelas Conoidasida, ordo Eucoccidiorina, sub ordo Adeleorina, famili Haemogregarinidae, genus Haemogregarina, dan spesies Haemogregorina sp.
Pada pemeriksaan mikroskopis, bentuk Haemogregarina sp. biasanya tampak memanjang, oval, dan menyerupai sosis di dalam sel darah merah. Parasit ini dapat menyebabkan perubahan perubahan bentuk eritrosit, seperti pembesaran sela tau pergesaran inti sel. Secara umum, parasit ini umumnya ditemukan pada hewan berdarah dingin seperti reptil, amfibi, dan ikan.
Siklus hidup Haemogregarina sp. bersifat heteroksenosa, yang artinya mereka membutuhkan dua jenis inang yang berbeda untuk menyempurnakan perkembang biakannya, yakni inang vertebrata dan inang invertebrata. Ketika hewan seperti kura-kura digigit oleh inang invertebrata penghisap darah seperti lintah, caplak, atau tungau, sporozoit akan masuk ke dalam aliran darah. Parasit ini kemudian bermigrasi ke organ dalam seperti hati, limpa, atau paru-paru untuk berkembang biak secara aseksual. Sedangkan untuk perkembang biakan secara seksual terjadi di dalam tubuh inang invertebrata. Penularan kembali ke hewan vertebrata dapat terjadi melalui gigitan ulang atau Ketika inang vertebrata menelan inang invertebrata yang terinfeksi.
Pada sebagian besar hewan, infeksi Haemogregarina sp. bersifat subklinis, artinya hewan pembawa parasit tampak sehat dan dapat hidup normal di habitat aslinya karena sistem imun mereka telah beradaptasi. Ketika populasi parasit di dalam tubuh melonjak tinggi, dampak yang ditimbulkan meliputi anemia berat, kerusakan jaringan, dan penurunan imunitas. Anemia berat terjadi karena parasit terus merusak dan memecah sel darah merah dari dalam. Kerusakan jaringan terjadi pada organ dalam tempat reproduksi aseksual terjadi. Penurunan imunitas menunjukkan gejala lemas, kehilangan nafsu makan, dan menjadi sangat rentan terhadap infeksi sekunder oleh bakteri atau jamur.
Patogenesis Haemogregarina sp. bergantung pada tingkat parasitemia dan kondisi tubuh ular. Pada infeksi ringan, parasit mungkin tidak menimbulkan gangguan berarti. Akan tetapi, infeksi berat dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah dan gangguan fungsi organ. Parasit yang berkembang di dalam eritrosit dapat mengganggu fungsi normal sel darah merah dalam mengangkut oksigen. Selain itu, infeksi kronis dapat memicu anemia, pembesaran limpa, dan penurunan kondisi tubuh secara umum. Pada beberapa kasus, infeksi juga menyebabkan respons inflamasi pada organ internal. Ular yang mengalami imunosupresi lebih rentan mengalami komplikasi akibat infeksi sekunder bakteri maupun jamur.
Kebanyakan ular piton yang terinfeksi Haemogregarina sp. bersifat asimptomatis, tetapi pada infeksi sedang hingga berat dapat muncul beberapa gejala klinis. Gejala klinis yang muncul adalah lemas dan kurang aktif, penurunan nafsu makan, penurunan berat badan, mukosa pucat akibat anemia, dehidrasi, pertumbuhan terhambat, respons lambat terhadap rangsangan, dan kesulitan berganti kulit. Pada infeksi berat, ular dapat menunjukkan kondisi tubuh yang sangat lemah dan rentan terhadap penyakit lain. Akan tetapi, gejala tersebut bersifat tidak spesifik sehingga diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan diagnosa.
Diagnosa Haemogregarina sp. dapat dilakukan melalui pemeriksaan ulas darah tipis yang kemudian diwarnai dengan pewarnaan Giemsa atau Wright. Melalui pemeriksaan mikroskopis, parasit tampak berada di dalam sel darah merah dengan bentuk memanjang atau oval. Pemeriksaan ini membantu menentukan Tingkat parasitemia dan perubahan morfologi sel darah merah.
Selain pemeriksaan mikroskopis, diagnosa juga dapat dilakukan dengan pemeriksaan hematologi untuk deteksi anemia, pemeriksaan biokimia darah, PCR untuk identifikasi molekuler, dan pemeriksaan keberadaan ektoparasit pada tubuh ular. Dari keempat pemeriksaan tersebut, metode PCR memiliki sensitivitas lebih tinggi disbanding pemeriksaan mikroskopis, terutama pada infeksi ringan dengan jumlah parasit rendah.
Pengobatan Haemogregarina sp. pada ular piton menjadi tantangan karena belu terdapat terapi yang benar-benar spesifik dan konsisten efektif. Penanganan biasanya dilakukan secara suportif dan bertujuan menurunkan tingkat parasitemia serta memperbaiki kondisi ular. Selain terapi obat, penanganan suportif sangat penting seperti perbaikan nutrisi, rehidrasi, pengaturan suhu kendang optimal, pengurangan stress, serta pengendalian caplak dan tungau.
Pencegahan infeksi Haemogregarina sp. lebih efektif dibanding pengobatan. Beberapa langkah pencegahan yang dapat dilakukan pada pemeliharaan ular piton yakni menjaga kebersihan kendang, pengendalian ektoparasit, karantina hewan baru, asupan nutrisi yang baik, dan manajemen stress.
Penemuan Haemogregarina sp. oleh PPDH Gelombang 45 Tandem 1 menjadi bukti bahwa setiap kegiatan pembelajaran memiliki nilai ilmiah yang penting. Dari kasus sederhana yang ditemukan saat nekropsi hewan, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai diagnosis, epidemoilogi, dampak kesehatan, hingga strategi penendalian penyakit. Hal inilah yang menjadikan pendidikan profesi dokter hewan sebagai proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pengalaman nyata yang membentuk kompetensi profesional secara menyeluruh.
Kegiatan ini mencerminkan peran aktif mahasiswa Fakultas Kedokterna Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung kesehatan hewan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengendalian penyakit parasit. Melalui berbagai aktivitas klinis yang dilaksanakan selama masa pendidikan profesi, mahasiswa dilatih menjadi tenaga medis veteriner yang kompeten, serta menjadi agen edukasi yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Ke depannya, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan profesi dokter hewan. Pengalaman dalam menangani kasus nyata akan menjadi pondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Dengan dukungan fasilitas pendidikan yang memadai serta bimbingan dari dosen dan dokter hewan pembimbing, mahasiswa PPDH ¶«¾©ÈÈ diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul, professional, dan siap berkontribusi dalam menjaga kesehatan hewan, kesehatan Masyarakat, serta mendukung konsep One Health.
Kegiatan pemeriksaan dan identifikasi Haemogregarina sp. pada ular piton ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi mahasiswa dalam pembelajaran profesi berbasis praktik. Selain itu, pemahaman mengenai penyakit parasit pada satwa eksotis dan upaya pengendaliannya mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penerapan konsep One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan. Kegiatan ini juga berkontribusi terhadap SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui peningkatan pengetahuan mengenai kesehatan satwa liar dan pelestarian biodiversitas, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi antara Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dan Pos Pemadam Kebakaran Mulyorejo dalam mendukung pendidikan veteriner berbasis pengalaman lapangan.
Dengan semangat belajar dan dedikasi yang tinggi, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 terus mengembangkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan yang berkualitas. Melalui kegiatan pemeriksaan hewan kurban dan kegiatan klinis lainnya, ¶«¾©ÈÈ kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak dokter hewan yang unggul, inovatif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.
Penulis: Nadia Yasmin Sekar Arum (mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)
Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)




