¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 Temukan Telur Ostertagia sp. pada Sampel Feses Sapi di RPH Osowilangun

Surabaya — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 1 Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ kembali berkontribusi dalam meningkatkan kompetensi klinik melalui pemeriksaan kesehatan hewan khususnya pada hewan ternak besar. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, 12 Juni 2026. Pada pemeriksaan ini, mahasiswa menemukan parasit yang umum menyerang hewan ruminansia seperti sapi, kamning, dan domba.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran klinik yang bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam melakukan pemeriksaan fisik, pengambilan sampel, identifikasi agen penyakit, dan penentuan langkah pengendalian yang tepat. Melalui pendekatan berbasis kasus nyata, mahasiswa dapat mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh selaman masa pendidikan dengan praktek lapangan yang akan menjadi bekal penting setelah mereka menjalani profesi dokter hewan.

Pemeriksaan dilakukan dengan cara mengambil sampel feses atau kotoran sapi di RPH Osowilangun, Surabaya milik PT. RPH Surabaya Perseroda. Sampel feses sapi ini kemudian dibawa ke laboratorium parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ untuk diperiksa.

Ostertagia sp. termasuk dalam filum Nematoda, kelas Secernentea, dan famili Trichostrongylidae. Secara fisik, cacing dewasa memiliki tubuh yang langsing dan berwarna cokelat kemerahan karena mengkonsumsi nutrisi dari inangnya. Ukuran cacing jantan berkisar antara 7 hingga 9 milimeter, sedangkan cacing betina sedikit lebih besar dengan panjang mencapai 10 hingga 12 milimeter. Cacing jantan memiliki struktur khusus pada ujung posteriornya yang disebut bursa kopulatriks, sepasang spikula pendek, dan gubernakulum yang berfungsi dalam proses reproduksi. Sementara itu, cacing betina memiliki vulva yang sering kali ditutupi oleh lipatan kutikula (vulval flap). Cacing betina dewasa bersifat ovipar dan mampu memproduksi ribuan telur setiap harinya yang kemudian dikeluarkan bersama dengan feses sapi ke lingkungan luar.

Siklus hidup Ostertagia sp. bersifat langsung (direct life cycle), yang berarti parasit ini tidak membutuhkan inang perantara seperti siput atau serangga untuk melengkapi perkembangannya. Siklus hidup ini terbagi menjadi dua fase utama, yakni fase lingkungan (eksogen) dan fase di dalam tubuh sapi (endogen).

Pada fase eksogen, siklus dimulai ketika sapi yang terinfeksi mengeluarkan telur cacing bersama fesesnya di area penggembalaan. Di dalam gumpalan feses tersebut, telur akan menetas menjadi larva tahap pertama (L1) dalam hitungan hari, tergantung pada kondisi suhu dan kelembaban lingkungan. Larva L1 memakan bakteri di dalam feses dan mengalami pergantian kulit menjadi larva tahap kedua (L2).Setelah itu, larva L2 berkembang menjadi larva tahap ketiga (L3) yang dilapisi oleh selubung pelindung kutikula yang kuat. Larva L3 ini disebut sebagai larva infektif. Karena memiliki selubung pelindung, larva L3 tidak dapat makan lagi dan sangat bergantung pada cadangan energinya. Namun, selubung ini membuatnya sangat resisten terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, termasuk cuaca dingin. Larva L3 kemudian bermigrasi keluar dari feses menuju dedaunan rumput basah dibantu oleh percikan air hujan atau embun pagi, menunggu untuk tertelan oleh sapi.

Ketika sapi merumput dan tidak sengaja menelan rumput yang terkontaminasi larva L3, larva tersebut akan masuk ke dalam sistem pencernaan menuju abomasum. Di dalam abomasum, larva L3 akan melepaskan selubungnya dan masuk ke dalam lubang-lubang kelenjar lambung .Di dalam kelenjar tersebut, larva mengalami pergantian kulit menjadi larva tahap keempat (L4) dan tahap kelima (L5) atau cacing muda. Setelah perkembangannya selesai, cacing dewasa akan keluar dari kelenjar abomasum kembali ke lumen lambung untuk melakukan perkawinan dan mulai memproduksi telur. Biasanya, perkembangan cacing ini memakan waktu sekitar 18 hingga 21 hari sejak tertelan.

Salah satu keunggulan adaptasi Ostertagia sp. adalah kemampuannya melakukan hipobiosis atau perkembangan yang tertunda (arrested development). Jika larva L3 tertelan pada akhir musim yang tidak menguntungkan seperti menjelang musim kemarau panjang di daerah tropis atau menjelang musim dingin di daerah beriklim sedang, larva L4 yang masuk ke kelenjar abomasum akan menghentikan perkembangannya dan “tidur” di dalam dinding lambung selama berbulan-bulan. Mereka baru akan melanjutkan perkembangan menjadi cacing dewasa ketika kondisi lingkungan di luar kembali optimal bagi kelangsungan hidup telur dan larva baru.

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi cacing ini disebut Ostertagiasis. Kerusakan utama terjadi akibat aktivitas larva di dalam kelenjar abomasum. Kelenjar abomasum sapi normalnya dilapisi oleh sel-sel parietal yang berfungsi memproduksi asam klorida (HCl). Asam ini sangat penting untuk menjaga pH abomasum tetap rendah (sekitar 2,0) agar pepsinogen dapat diaktifkan menjadi pepsin untuk mencerna protein, serta berfungsi membunuh bakteri yang masuk.

Ketika larva Ostertagia berkembang dan membesar di dalam kelenjar lambung, mereka mendesak dan menghancurkan sel-sel parietal tersebut. Akibatnya, produksi HCl menurun drastis, menyebabkan pH abomasum melonjak naik hingga mencapai 5,0 atau lebih. pH yang tinggi membuat pepsinogen tidak dapat diaktifkan menjadi pepsin sehingga protein makanan yang masuk tidak dapat dicerna dengan baik. Kerusakan dinding kelenjar menyebabkan permeabilitas dinding lambung meningkat, menyebabkan protein darah (albumin) merembes keluar ke dalam lumen usus, sementara pepsinogen justru masuk ke dalam sirkulasi darah. Tubuh sapi berusaha memperbaiki kerusakan dengan memicu proliferasi sel-sel epitel yang tidak terdiferensiasi, menyebabkan dinding abomasum menebal dan kasar dengan nodul-nodul kecil, yang sering diibaratkan seperti kulit jeruk (morocco leather appearance).

Secara klinis, ostertagiasis pada sapi dibagi menjadi dua tipe berdasarkan pola kejadian dan umur ternak yang diserang, yakni tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 umumnya menyerang sapi-sapi muda pada tahun pertama mereka dilepas di padang penggembalaan. Ostertagiasis tipe 1 terjadi akibat akumulasi penelanan larva L3 dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Gejala klinis yang muncul meliputi diare persisten berwarna hijau kekuningan atau encer, penurunan nafsu makan mendadak, berat badan menurun drastis, serta bulu tampak kusam, kering, dan berdiri. Sementara itu, ostertagiasis tipe 2 menyerang sapi yang lebih tua atau sapi dewasa. Tipe ini terjadi ketika larva-larva yang mengalami hipobiosis atau terhambat perkembangannya di dalam dinding lambung bangun secara serentak dalam jumlah jutaan.Karena kerusakannya terjadi secara masif dan simultan, gejalanya jauh lebih parah, yakni diare berat yang sulit disembuhkan dengan pengobatan biasa, dehidrasi akut dan kelemahan ambruk, anemia parah akibat gangguan absorbsi nutrisi dan kehilangan protein, serta bottle jaw.

Menegakkan diagnosis ostertagiasis memerlukan kombinasi antara riwayat manajemen peternakan, gejala klinis, dan uji laboratorium. Umumnya dilakukan pemeriksaan feses, uji biokimia darah, dan nekropsi pada sapi mati. Selain itu, pengendalian Ostertagia sp. tidak bisa hanya mengandalkan pemberian obat cacing secara konvensional, melainkan harus menerapkan sistem manajemen terpadu yang menggabungkan kontrol kimiawi dan manajemen lingkungan.

Penemuan Ostertagia sp.  oleh PPDH Gelombang 45 Tandem 1 menjadi bukti bahwa setiap kegiatan pembelajaran memiliki nilai ilmiah yang penting. Dari kasus sederhana yang ditemukan saat pemeriksaan sampel feses hewan, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai diagnosis, epidemiologi, dampak kesehatan, hingga strategi pengendalian penyakit. Hal inilah yang menjadikan pendidikan profesi dokter hewan sebagai proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pengalaman nyata yang membentuk kompetensi profesional secara menyeluruh.

Kegiatan ini mencerminkan peran aktif mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung kesehatan hewan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengendalian penyakit parasit. Melalui berbagai aktivitas klinis yang dilaksanakan selama masa pendidikan profesi, mahasiswa dilatih menjadi tenaga medis veteriner yang kompeten, serta menjadi agen edukasi yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Ke depannya, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan profesi dokter hewan. Pengalaman dalam menangani kasus nyata akan menjadi pondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Dengan dukungan fasilitas pendidikan yang memadai serta bimbingan dari dosen dan dokter hewan pembimbing, mahasiswa PPDH ¶«¾©ÈÈ diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul, professional, dan siap berkontribusi dalam menjaga kesehatan hewan, kesehatan Masyarakat, serta mendukung konsep One Health.

Kegiatan identifikasi Ostertagia sp. pada sapi ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan kompetensi mahasiswa dalam pembelajaran profesi berbasis praktik dan penelitian lapangan. Selain itu, pengendalian penyakit parasit pada ternak berkontribusi terhadap SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui upaya peningkatan produktivitas ternak serta penyediaan pangan asal hewan yang berkualitas. Kegiatan ini juga mendukung SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui peningkatan kesehatan hewan, pencegahan kerugian akibat penyakit parasitik, serta implementasi konsep One Health yang mengintegrasikan kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Dengan semangat belajar dan dedikasi yang tinggi, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 terus mengembangkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan yang berkualitas. Melalui kegiatan pemeriksaan hewan kurban dan kegiatan klinis lainnya, ¶«¾©ÈÈ kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak dokter hewan yang unggul, inovatif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Penulis : Nadia Yasmin Sekar Arum, S.KH (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)

Editor: Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT