¶«¾©ÈÈ

¶«¾©ÈÈ Official Website

ahasiswa PPDH 45 Tandem 1 Temukan Fasciola hepatica pada Pemeriksaan Post Mortem Hewan Kurban

Surabaya — Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Gelombang 45 Tandem 1 Fakultas Kedokteran Hewan ¶«¾©ÈÈ kembali berkontribusi untuk meningkatkan kompetensi klinik melalui pemeriksaan kesehatan hewan khususnya pemeriksaan post mortem pada hewan kurban. Kegiatan ini dilaksanakan saat perayaan Idul Adha 1447 H yakni pada hari Rabu, 27 Mei 2026. Pada pemeriksaan post mortem, mahasiswa menemukan parasit yang umumnya ditemukan pada hewan kurban, khususnya sapi, domba, dan kambing.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran klinik yang bertujuan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam melakukan pemeriksaan fisik, pengambilan sampel, identifikasi agen penyakit, dan penentuan Langkah pengendalian yang tepat. Melalui pendekatan berbasis kasus nyata, mahasiswa dapat mengintegrasikan ilmu yang telah diperoleh selama masa pendidikan dengan praktek lapangan yang akan menjadi bekal penting setelah mereka menjalani profesi dokter hewan.

Pemeriksaan dilakukan saat pemeriksaan post mortem hewan kurban. Pada pemeriksaan organ hati hewan kurban, ditemukan hati dengan warna yang lebih pucat dibanding warna hati normal. Selain itu, permukaan hati membengkak, rapuh, tidak rata, tampak berlubang, dan adanya jaringan parut (sirosis) akibat kerusakan jaringan. Ketika saluran empedu dibuka, ditemukan cacing pipih berbentuk seperti daun. Cacing inilah yang disebut sebagai Fasciola hepatica.

Dalam proses pemeriksaan, mahasiswa menemukan sejumlah cacing tersebut di dalam hati hewan kurban. Sampel cacing kemudian dikoleksi secara hati-hati dan dibawa ke laboratorium untuk identifikasi lebih lanjut menggunakann mikroskop. Pengamatan laboratorium menunjukkan bahwan parasit tersebut memiliki karakteristik morfologi yang khas. Karakteristik morfologi yang khas tersebut adalah bentuk tubuh yang pipih menyerupai daun, melebar di bagian depan, dan meruncing di bagian belakang. Cacing ini umumnya berukuran 2,5-3,5 cm dan lebar sekitar 1 cm. Cacing ini berwarna abu-abu kecokelatan atau merah muda transparan. Berdasarkan karakteristik tersebut, parasit cacing yang ditemukan mahasiswa ini berhasil diidentifikasikan sebagai Fasciola hepatica.

ÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌý Taksonomi Fasciola hepatica yakni kingdom Animalia, filum Platyhelminthes, kelas Trematoda, ordo Digenea, famili Fasciolidae, Genus Fasciola, dan spesies Fasciola hepatica. Fasciola hepatica menyerang ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba. Cacing ini juga dapat menginfeksi anjing, kucing, kuda, dan manusia dengan inang perantara siput Lymnaea javanica.

ÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌýÌý Fasciola hepatica menyebabkan penyakit infeksi parasit bernama fascioliasis atau yang biasa disebur distomatosis. Penyakit ini menyerang saluran empedu dan bersifat zoonosis. Gejala klinis yang ditemukan pada hewan yang menderita distomatosis yakni adanya pembengkakan atau edema yang khas di bawah rahang atau dagu ternak (bottle jaw), penurunan berat badan akibat gangguan metabolisme hati dan hilangnya nafsu makan, anemia kronis yang ditandai dengan selaput lendir mata dan gusi tampak pucat, serta penurunan drastis pada kualitas daging atau volume produksi susu pada sapi perah. Sementara itu, gejala klinis pada manusia yakni gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare. Selain itu, muncul rasa sakit pada perut terutama di bagian kanan atas, dan ikterus atau menguningnya kulit dan bagian putih mata akibat saluran empedu yang tersumbat cacing dewasa.

Keberhasilan identifikasi Fasciola hepatica oleh mahasiswa PPDH 45 Tandem 1 menunjukkan bahwa proses pembelajaran berbasis praktek memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan kedokteran hewan. Pengalaman langsung di lapangan memungkinkan mahasiswa untuk memahami kondisi nyata yang dihadapi sehari-hari serta mengembangkan keterampilan teknis yang tidak didapatkan jika hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.

Selain aspek diagnostik, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi kepada Masyarakat khususnya peternak sapi, kambing, dan domba mengenai pentingnya menjaga kesehatan hewan ternak mereka. Pengendalian Fasciola hepatica dapat dilakukan melalui manajemen pakan dan penggembalaan, pengendalian inang perantasa, pemberian obat cacing, serta sanitasi dan kebersihan kendang.

Manajemen pakan dan penggembalaan dapat dilakukan dengan cara melayukan rumput di bawah sinar matahari langsung untuk mematikan larva infektif, serta hindari penggembalaan di genangan air, selokan, sawah, atau rawa yang menjadi habitat inang perantara. Selain itu, jangan gembalakan ternak terlalu pagi saat embun masih banyak, karena larva cacing biasanya bermigrasi ke ujung helai rumput yang basah.

Pengendalian inang perantara dapat dilakukan dengan memelihara predator alami seperti seperti bebek atau itik di sekitar saluran air atau sawah dekat kandang. Selain itu, diperlukan perbaikan drainase agar siput tidak berkembang biak di sekitar kandang.

Selain itu, diperlukan juga pemberian obat cacing secara rutin minimal 2-3 kali dalam satu tahun, terutama saat masa transisi musim hujan dan kemarau. Pada hewan yang terinfeksi Fasciola hepatica, dapat diberikan obat cacing spektrum luas seperti Albendazole, Fenbendazole, atau Triciabendazole. Tetapi jangan berikan Albendazole pada hewan bunting terutama saat sepertiga awal kebuntingan karena beresiko menyebabkan keguguran, gunakan Fenbendazole sebagai alternatif yang aman untuk hewan bunting.

Sanitasi dan kebersihan kendang dapat dilakukan dengan pembersihan feses secara teratur agar telur cacing yang keluar bersama feses tidak mencemari lingkungan dan masuk ke perairan. Selain itu, dapat dilakukan pengolahan feses ternak menjadi pupuk kompos melalui fermentasi panas guna mematikan telur-telur cacing sebelum diaplikasikan ke lahan.

Penemuan Fasciola hepatica oleh PPDH Gelombang 45 Tandem 1 ini menjadi bukti bahwa setiap kegiatan pembelajaran memiliki nilai ilmiah yang penting. Dari kasus sederhana yang ditemukan saat pemeriksaan post mortem hewan kurban, mahasiswa dapat memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai diagnosis, epidemiologi, dampak kesehatan, hingga strategi pengendalian penyakit. Hal inilah yang menjadikan pendidikan profesi dokter hewan sebagai proses pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga pengalaman nyata yang membentuk kompetensi professional secara menyeluruh.

Kegiatan ini mencerminkan peran aktif mahasiswa Fakultas Kedokterna Hewan ¶«¾©ÈÈ dalam mendukung kesehatan hewan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengendalian penyakit parasit. Melalui berbagai aktivitas klinis yang dilaksanakan selama masa pendidikan profesi, mahasiswa dilatih menjadi tenaga medis veteriner yang kompeten, serta menjadi agen edukasi yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.

Ke depannya, diharapkan kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan profesi dokter hewan. Pengalaman dalam menangani kasus nyata akan menjadi pondasi yang kuat bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks. Dengan dukungan fasilitas pendidikan yang memadai serta bimbingan dari dosen dan dokter hewan pembimbing, mahasiswa PPDH ¶«¾©ÈÈ diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang unggul, professional, dan siap berkontribusi dalam menjaga kesehatan hewan, kesehatan Masyarakat, serta mendukung konsep One Health.

Kegiatan pemeriksaan post mortem hewan kurban dan identifikasi Fasciola hepatica ini juga sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Melalui penguatan kompetensi mahasiswa dalam bidang diagnostik dan kesehatan hewan, kegiatan ini mendukung SDG 4 (Pendidikan Berkualitas). Di sisi lain, deteksi dini penyakit parasit yang bersifat zoonosis serta edukasi kepada peternak mengenai langkah-langkah pencegahan dan pengendalian fascioliasis turut berkontribusi pada SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). Pemeriksaan kesehatan hewan kurban juga mendukung SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui upaya menjamin keamanan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH), serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pengendalian penyakit parasit yang dapat memengaruhi kesehatan dan produktivitas ternak. Seluruh kegiatan tersebut mencerminkan implementasi pendekatan One Health yang menekankan keterkaitan erat antara kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kelestarian lingkungan.

Dengan semangat belajar dan dedikasi yang tinggi, mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1 terus mengembangkan kemampuan dalam memberikan pelayanan kesehatan hewan yang berkualitas. Melalui kegiatan pemeriksaan hewan kurban dan kegiatan klinis lainnya, ¶«¾©ÈÈ kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak dokter hewan yang unggul, inovatif, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat luas.

Penulis : Nadia Yasmin Sekar Arum (Mahasiswa PPDH Gelombang 45 Tandem 1)

Editor : Mochamad Arifudin (Divisi Parasitologi Veteriner)

AKSES CEPAT