Kuliah Tamu Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia secara daring pada Jumat, (12/6/2026). (Foto: Dok. Istimewa)聽
FIB NEWS – , Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlanga () mengadakan kuliah tamu pada Jumat (12/6/2026) secara daring melalui media Zoom. Acara tersebut berjudul Sastera Multikultural: Perbandingan Sastera Malaysia dan Indonesia. Kuliah tamu tersebut menghadirkan Dr. Henry Bating dari Universiti Malaysia Sabah sebagai narasumber.
Perkembangan Sastra Melayu
Dalam pemaparannya, Henry membahas perkembangan sastra Malaysia dan Indonesia dalam masyarakat multikultural. Menurut Henry, kedua negara memiliki akar budaya yang sama, tetapi mengembangkan sastra melalui pendekatan berbeda.
鈥淢alaysia dan Indonesia selalu dikatakan memiliki akar sejarah yang sama, hubungan bahasa yang sama, dan warisan budaya Nusantara yang lebih kurang sama. Namun setelah dua negara ini mencapai kemerdekaan, sastra nasional berkembang melalui dua orientasi yang berbeda,鈥 ujar Henry.
Sastra Malaysia berkembang melalui model pluralistik. Mencakup konsep kesusastraan Malaysia, sastra kebangsaan, sastra pelbagai kaum, dan sastra etnik Sabah dan Sarawak.
鈥淢odel pluralistik ini menunjukkan bahwa sastra Malaysia ada, tetapi tempatnya berbeda-beda dan tidak menyeluruh dalam satu ruang yang sama,鈥 katanya.
Perkembangan Sastra Indonesia
Sastra Indonesia dibangun berdasarkan tujuh dimensi, yakni identitas nasional, Nusantara, lokalitas, multikulturalisme, kritik sosial, sejarah, dan kemanusiaan universal. 鈥淪astra Indonesia berbicara tentang Indonesia, masyarakat Indonesia, watak Indonesia. Demikian juga kalau sastra Indonesia itu berlatarkan di mana-mana tempat di Indonesia. Universalitinya itu nampak,鈥 ungkap dosen Malaysia tersebut.
Henry menilai sastra Indonesia lebih dekat dengan kehidupan publik dibandingkan sastra Malaysia. Sastra Indonesia tidak hanya dibahas di kampus, tetapi juga berkembang dalam berbagai komunitas masyarakat.
Pengembangan Mata Kuliah Bahasa Indonesia di Universiti Malaysia Sabah
Salah satu implikasi langsung dari kajian tersebut adalah pengembangan mata kuliah Bahasa Indonesia di Program Pengajian Indonesia Universiti Malaysia Sabah yang akan mulai diajarkan pada semester mendatang. Program tersebut akan berlangsung pada tiga semester.
Pada tahap pertama, mahasiswa akan mempelajari sejarah pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia serta simbol-simbol kebangsaan Indonesia. Tahap kedua akan membahas Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sedangkan tahap ketiga akan memanfaatkan karya sastra Indonesia untuk memahami konsep integratif dalam kehidupan berbangsa.
鈥淎pabila pelajar Malaysia melihat dua model ini, mereka mungkin akan menghasilkan karya sastra yang menyatukan keberagaman yang ada di Malaysia, keberagaman yang ada di Sabah dan Sarawak, lalu semua itu digarap di dalam karya sastra,鈥 tambahnya.
Kegiatan kuliah tamu tersebut merupakan bentuk kontribusi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education.
Penulis: Rosheilla Kharisma Putri Kuncoro
Editor: Ainnur Ayu Nanda Agustin




