东京热

东京热 Official Website

FIB UNAIR Mengadakan Kuliah Tamu Membahas Gender and Methods

Caption: Kuliah Tamu Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris pada Senin, (8/6/2026). (Foto: Dok. Istimewa)聽

FIB NEWS – , Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlanga () mengadakan kuliah tamu pada Senin (8/6/2026) di ruang 311. Acara tersebut membahas prinsip dan praktik metodologi penelitian feminis dengan menghadirkan dua narasumber hebat. Asst. Prof. Janice S. Zamora-Morales dari University of Philippines dan Dr. Amrita Pritam Gogoi dari IIAS dan AIIOC.聽

Dalam sesi pertama kuliah tamu, Asst. Prof. Janice S. Zamora-Morales menyoroti bahwa metodologi feminis tidak hanya berbicara tentang perempuan sebagai objek penelitian, tetapi juga mengenai cara pengetahuan diproduksi. 鈥淧osisi sangat penting dalam metodologi feminis karena kita harus tahu persis apa yang kita bicarakan, apa bias dan asumsi kita, karena itu akan memengaruhi jenis data yang akan kita dapatkan dari lapangan,鈥 kata Janice. 

Janice juga menyoroti interseksionalitas sebagai salah satu prinsip utama penelitian feminis. Ia menjelaskan bahwa pengalaman perempuan dibentuk oleh berbagai faktor sosial lainnya.

鈥淜ita tidak bisa mengelompokkan semua perempuan dan mengatakan bahwa kita sama saja. Kita berasal dari lokasi sosial yang berbeda,鈥 katanya.

Dalam pemaparannya Janice memperkenalkan beberapa metode penelitian yang umum digunakan dalam kajian feminis, termasuk sejarah lisan, sejarah hidup, photovoice, elisitasi foto, dan Penelitian Aksi Partisipatif (PAR). Metode-metode ini bertujuan untuk memperkuat suara-suara yang secara historis telah terpinggirkan dan mendorong peserta untuk secara aktif berkontribusi pada produksi pengetahuan.

鈥淪alah satu cara untuk memberdayakan kisah perempuan adalah dengan fokus pada kisah mereka dan mendengarkannya,鈥 jelasnya.

Dalam sesi kedua, Dr. Amrita Pritam Gogoi membahas dari segi epistemologi feminis dan signifikansi pengalaman sehari-hari dalam produksi pengetahuan. Amrita berpendapat bahwa pengetahuan tidak dihasilkan secara eksklusif melalui lembaga formal namun individu memperoleh pengetahuan berharga melalui keluarga, komunitas, dan interaksi sehari-hari.

鈥淏anyak cerita dan apa yang kita pelajari, kita pelajari dari nenek kita, tetangga kita, bibi kita,鈥 kata Amrita.

Menurutnya, aktivitas seperti bercerita, menyimpan ingatan, mengatur rumah tangga, dan transmisi pengetahuan antargenerasi merupakan bentuk kerja yang sangat penting, Amrita menekankan bahwa pengalaman sehari-hari memainkan peran penting dalam membentuk identitas gender, hubungan sosial, dan sistem kekuasaan. 

Dalam sesi tersebut, Amrita juga membagikan pengalaman penelitian lapangannya di Nepal bersama mantan kombatan perempuan Maois. Ia menceritakan kisah seorang perempuan dari komunitas Dalit yang merasa dihargai setelah orang-orang mulai memanggilnya dengan namanya sendiri.

鈥淗ari ini saya dipanggil berdasarkan nama saya. Sebelum perang, tidak ada yang memanggil nama saya,鈥 kenang Amrita mengutip narasumbernya.

Sebagai penutup, Amrita menekankan bahwa penelitian feminis pada akhirnya bertujuan untuk mendapatkan pengakuan bagi individu dan komunitas yang pengalamannya secara historis telah terpinggirkan. 

Kegiatan kuliah tamu tersebut merupakan bentuk kontribusi dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4, yaitu quality education. 

Penulis: Rosheilla Kharisma Putri Kuncoro

Editor: Ainnur Ayu Nanda Agustin 

AKSES CEPAT