东京热

东京热 Official Website

Alumnus Paparkan Tantangan dan Peluang Karier Lulusan Sejarah

FIB NEWS东京热 (FIB UNAIR) menyelenggarakan perayaan Dies Natalis ke-28 pada Jumat, 24 April 2026, di Ruang Majapahit, Tower ASEEC. Kegiatan tersebut menghadirkan rangkaian acara berupa pidato ilmiah dan sesi berbagi pengalaman alumni yang bertujuan memberikan wawasan kepada mahasiswa mengenai prospek karier lulusan Ilmu Sejarah di masa kini dan masa depan.

Salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Miftahul Ulum, alumni Ilmu Sejarah UNAIR yang saat ini berkiprah di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Jawa Timur. Dalam paparannya yang bertajuk 鈥淎lumni Ilmu Sejarah UNAIR: Tantangan, Realitas, dan Masa Depan鈥, ia mengajak mahasiswa untuk melihat ilmu sejarah tidak hanya sebagai kajian tentang masa lalu, tetapi juga sebagai bekal keterampilan yang relevan untuk berbagai bidang pekerjaan.

Tantangan Lulusan Sejarah di Dunia Kerja

Menurut Ulum, salah satu tantangan utama yang masih dihadapi mahasiswa dan alumni Ilmu Sejarah adalah stereotip yang menganggap lulusan sejarah hanya dapat bekerja sebagai sejarawan. Pertanyaan seperti 鈥淟ulusan sejarah nanti jadi apa?鈥 masih sering muncul dan menjadi kekhawatiran bagi banyak mahasiswa.

Ia menjelaskan bahwa persepsi tersebut sering kali membuat mahasiswa mempertanyakan relevansi ilmu yang mereka pelajari dengan kebutuhan dunia kerja. Selain itu, lulusan sejarah juga harus menghadapi persaingan dengan lulusan dari berbagai disiplin ilmu lain dalam memperoleh pekerjaan.

Miftahul menekankan bahwa tantangan terbesar bukan terletak pada jurusan yang ditempuh, melainkan bagaimana mahasiswa mampu menerjemahkan pengetahuan sejarah menjadi keterampilan yang dapat diterapkan secara praktis. Oleh karena itu, mahasiswa didorong untuk aktif mencari pengalaman melalui magang, proyek penelitian, kegiatan komunitas, maupun membangun jaringan profesional sejak masih berada di bangku kuliah.

Ilmu Sejarah Mengajarkan Cara Berpikir Kritis

Dalam sesi berbagi pengalaman, Ulum mengungkapkan bahwa setelah memasuki dunia kerja, ia menyadari bahwa nilai utama dari pendidikan sejarah bukan hanya penguasaan fakta masa lalu, melainkan kemampuan berpikir yang dibentuk selama proses belajar.

Ia menjelaskan bahwa lulusan sejarah memiliki sejumlah kompetensi yang sangat dibutuhkan di berbagai sektor, seperti kemampuan melakukan riset, berpikir kritis, menyusun narasi yang sistematis, serta memahami konteks sosial dan budaya dalam suatu persoalan.

Keterampilan tersebut dapat diterapkan dalam berbagai bidang pekerjaan, mulai dari pelestarian budaya, pengelolaan museum dan arsip, penulisan konten, media, pariwisata berbasis sejarah (heritage tourism), hingga konsultan budaya. Bahkan, kemampuan analisis yang dimiliki lulusan sejarah juga dapat dimanfaatkan dalam sektor korporasi, khususnya pada bidang penelitian dan perencanaan strategi.

Sejarah Semakin Relevan di Era Digital

Lebih lanjut, Ulum menilai bahwa ilmu sejarah justru semakin relevan di tengah perkembangan teknologi digital yang pesat. Maraknya konten sejarah di media sosial menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap isu-isu sejarah dan budaya. Namun, tidak sedikit informasi yang beredar tanpa didukung oleh sumber yang valid sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi lulusan sejarah untuk berkontribusi sebagai penyedia informasi yang akurat dan bertanggung jawab. Selain itu, meningkatnya perhatian terhadap identitas budaya serta berkembangnya sektor pariwisata berbasis warisan budaya juga memperkuat kebutuhan akan tenaga profesional yang memiliki kompetensi sejarah.

Beberapa peluang karier yang diprediksi akan semakin berkembang di masa depan antara lain digital historian, peneliti kebijakan budaya, pengembang narasi untuk industri kreatif, serta konsultan Cagar Budaya (CB) dan Warisan Budaya Takbenda (WBTB).

Ia menambahkan bahwa kombinasi antara kemampuan sejarah, teknologi, dan komunikasi akan menjadi nilai tambah yang sangat penting bagi lulusan sejarah dalam menghadapi dinamika dunia kerja.

Beragam Peluang Karier Lulusan Ilmu Sejarah

Dalam kesempatan tersebut, Ulum juga memaparkan berbagai jalur karier yang dapat ditempuh oleh lulusan Ilmu Sejarah. Di sektor pemerintahan, lulusan sejarah memiliki peluang untuk mengisi formasi seperti arsiparis, pamong budaya, analis budaya, pranata humas, analis kebijakan, kurator, edukator, hingga perencana.

Formasi tersebut tersedia di berbagai instansi, antara lain Kementerian Kebudayaan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Bappenas, Kementerian Sekretariat Negara, Komunikasi Digital, hingga pemerintah daerah.

Sementara itu, di sektor non-pemerintah, lulusan sejarah juga dapat berkarier di perusahaan swasta, BUMN, menjadi penulis, sejarawan independen, pemandu wisata sejarah, konsultan sejarah, maupun mengembangkan usaha berbasis sejarah dan budaya atau historypreneur.

Melalui kegiatan Dies Natalis ke-28 ini, Departemen Ilmu Sejarah FIB UNAIR tidak hanya merayakan perjalanan akademiknya, tetapi juga memberikan inspirasi bagi mahasiswa untuk melihat ilmu sejarah sebagai bidang yang memiliki relevansi kuat dalam menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia kerja di masa depan. Dengan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta pemahaman mendalam terhadap konteks sosial dan budaya, lulusan sejarah memiliki peluang yang luas untuk berkontribusi di berbagai sektor strategis.

Kegiatan ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 4 yaitu quality education.

AKSES CEPAT