东京热

东京热 Official Website

Perbedaan Biaya Antara Pengeluaran Rumah Sakit dan Skema Penggantian Biaya di Indonesia: Sebuah Studi tentang Kemoterapi untuk Kanker Payudara

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Ada jarak yang cukup lebar antara biaya yang benar-benar dikeluarkan rumah sakit dan jumlah penggantian dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial. Kesenjangan ini menjadi tantangan serius, karena bisa memengaruhi keberlanjutan layanan sekaligus keadilan akses pengobatan kanker payudara di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah sistem tarif yang bersifat tetap. Dalam praktiknya, tarif ini sering kali belum mampu menggambarkan kompleksitas penanganan pasien, terutama untuk kemoterapi yang membutuhkan biaya besar dan beragam.

            Melalui penelitian ini, peneliti mencoba melihat lebih dalam persoalan tersebut. Peneliti membandingkan biaya riil yang dikeluarkan rumah sakit dengan tarif penggantian, baik yang menggunakan skema INA-CBG maupun di luar INA-CBG. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis apakah tarif yang berlaku saat ini sudah sesuai dengan kondisi di lapangan dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

            Penelitian ini dilakukan di rumah sakit rujukan tingkat lanjut (tersier), yang biasanya menangani kasus-kasus lebih kompleks. Karena itu, biaya yang muncul bisa berbeda dibandingkan dengan rumah sakit lain. Artinya, hasil penelitian ini perlu dipahami dengan hati-hati dan belum tentu bisa langsung mewakili kondisi di seluruh Indonesia. Selain itu, penelitian ini belum menghitung biaya tidak langsung, seperti ongkos transportasi pasien atau waktu yang harus dikorbankan oleh keluarga untuk mendampingi. Padahal, faktor-faktor tersebut juga menjadi bagian penting dari beban ekonomi yang dirasakan. Akibatnya, total biaya yang dilaporkan kemungkinan masih lebih rendah dari kondisi sebenarnya.

            Ada juga keterbatasan dari sisi data. Jumlah sampel pada beberapa kelompok pengobatan dan kategori INA-CBG masih relatif kecil, sehingga hasilnya belum sepenuhnya presisi. Di sisi lain, penelitian ini menggunakan data yang sudah ada sebelumnya (retrospektif), sehingga sangat bergantung pada kelengkapan catatan klaim dan penagihan. Meskipun peneliti sudah berupaya mencocokkan data dari berbagai sumber, kemungkinan adanya bias atau ketidaktepatan informasi tetap tidak bisa sepenuhnya dihindari. Perlu diketahui, penelitian ini belum menilai hasil klinis pasien, seperti seberapa efektif terapi yang diberikan atau efek samping yang muncul. Padahal, hal-hal tersebut sangat berpengaruh terhadap penggunaan layanan kesehatan dan biaya yang harus dikeluarkan.

            Dari temuan yang ada, terlihat bahwa penyesuaian tarif INA-CBG perlu dilakukan secara rutin, terutama untuk penanganan kanker stadium lanjut yang membutuhkan biaya besar. Salah satu pendekatan yang bisa dipertimbangkan adalah model pembayaran campuran. Dalam model ini, beberapa komponen mahal seperti obat-obatan tertentu bisa dibiayai secara terpisah, sehingga penggantian biaya menjadi lebih adil dan sesuai kondisi nyata. Selain itu, rumah sakit juga perlu mulai menerapkan perhitungan biaya berbasis aktivitas. Dengan cara ini, biaya yang dihitung akan lebih akurat dan bisa menjadi dasar yang kuat untuk memperbaiki tarif nasional ke depan.

            Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang cukup besar antara biaya yang dikeluarkan rumah sakit dan tarif penggantian dari JKN, khususnya untuk kemoterapi kanker payudara. Jika selisih ini terus terjadi, dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan layanan kanker dan membatasi akses pasien terhadap pengobatan yang layak. Karena itu, sistem pembayaran JKN perlu diperbaiki. Penyesuaian tarif secara berkala, penggunaan data biaya yang lebih akurat, serta penerapan model pembayaran yang lebih fleksibel menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas layanan sekaligus memastikan keadilan bagi semua pihak.

Penulis: Dr. apt. Abdul Rahem, M.Kes

          Abdul Rahem: diambil dari artikel 鈥淐ost Disparities Between Hospital Expenditures and Reimbursement Schemes in Indonesia: A Study on Chemotherapy for Breast Cancer鈥

Link:

AKSES CEPAT