Kambing Kacang adalah ruminan asli Indonesia yang banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan, berfungsi sebagai sumber protein hewani yang penting dan mendukung ketahanan pangan. Secara ekonomi, kambing ini memberikan pendapatan tambahan dan meningkatkan asupan protein dalam makanan. Namun, pertumbuhan populasinya dan kualitas genetiknya masih suboptimal. Kualitas genetik ras asli ini terancam oleh perkawinan silang yang sering terjadi, yang mengurangi kemurniannya dan menyoroti kebutuhan mendesak akan upaya konservasi. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi reproduksi telah dikembangkan. Teknologi seperti inseminasi buatan, transfer embrio, fertilisasi in vitro (IVF), kriopreservasi, dan rekayasa genetika dapat meningkatkan kualitas genetik pada kambing. IVF, khususnya, menawarkan potensi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi keberhasilannya seringkali dibatasi oleh kualitas dan ketersediaan oosit yang rendah. Pematangan in vitro (IVM) adalah tahap kritis dalam proses IVF, yang sebagian besar ditentukan oleh komposisi media pematangan. Hasil IVM dipengaruhi oleh konstituen media, stimulasi hormonal, sifat spesifik spesies, waktu paparan, dan kualitas oosit intrinsik, terutama. Faktor lingkungan seperti kontaminasi, suhu, pH, dan osmolalitas juga memengaruhi pematangan (Herta et al., 2018). Suplementasi dengan faktor pertumbuhan, hormon, atau antioksidan telah terbukti meningkatkan efisiensi pematangan dan kualitas oosit. Insulin-like growth factor-1 (IGF-1), yang diproduksi oleh hampir semua jaringan, bekerja melalui reseptor IGF1R untuk mengaktifkan jalur MAPK dan PI3K, mendorong ekspansi kumulus dan pematangan oosit. Selama pematangan, oosit dan sel kumulus mengeluarkan Transforming growth factor-尾 (TGF-尾) dan growth differentiation factor-9 (GDF-9), keduanya terdeteksi pada oosit kambing Kacang. TGF-尾 mengatur proliferasi sel folikel, meiosis, apoptosis, dan ekspansi kumulus, sedangkan GDF-9 mendukung pertumbuhan folikel, pematangan oosit, dan kualitas embrio. Dengan latar belakang ini, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menyelidiki efek suplementasi IGF-1 pada ekspresi TGF-尾 dan GDF-9 selama pematangan oosit kambing Kacang, yang berkontribusi pada peningkatan kinerja reproduksi dan pelestarian genetik ras asli ini.
Penulis: Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





