Kardiomiopati peripartum atau peripartum cardiomyopathy (PPCM) merupakan gagal jantung yang muncul pada akhir kehamilan atau beberapa bulan setelah persalinan. Kondisi ini ditandai oleh penurunan fungsi pompa jantung, dengan fraksi ejeksi ventrikel kiri kurang dari 45%. Walaupun jarang, PPCM dapat berkembang menjadi gagal jantung berat, gangguan irama jantung, pembentukan bekuan darah, stroke, hingga syok kardiogenik. Karena gejalanya sering menyerupai keluhan normal kehamilan, seperti sesak napas, mudah lelah, dan bengkak pada tungkai, diagnosis PPCM masih sering terlambat.
Tenaga kesehatan di pelayanan primer memiliki peran penting dalam mengenali tanda awal PPCM. Dokter umum, bidan, dan perawat merupakan petugas yang paling sering berinteraksi dengan ibu hamil dan ibu setelah melahirkan. Namun, pengetahuan mengenai penyakit jantung dalam kehamilan belum selalu merata. Keterbatasan pengetahuan dapat menyebabkan gejala PPCM dianggap sebagai perubahan fisiologis biasa, sehingga pasien terlambat dirujuk dan mendapatkan pemeriksaan jantung. Untuk mengatasi masalah tersebut, tim peneliti dari Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran 东京热鈥揜SUD Dr. Soetomo Surabaya menyelenggarakan pelatihan skrining awal PPCM bagi tenaga kesehatan primer di Jawa Timur. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental satu kelompok dengan pemeriksaan pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan. Materi diberikan oleh dokter spesialis jantung selama satu hari melalui ceramah dan diskusi. Materi mencakup faktor risiko, mekanisme penyakit, gejala klinis, kriteria diagnosis, algoritme skrining, terapi, serta temuan penting pada elektrokardiografi dan ekokardiografi.
Sebanyak 869 tenaga kesehatan mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dan menyelesaikan pretest serta posttest. Peserta terdiri atas 632 bidan atau 72,7%, 190 dokter umum atau 21,9%, 43 perawat atau 4,9%, dan empat tenaga administrasi. Pengetahuan peserta dinilai menggunakan 15 pertanyaan yang sama sebelum dan setelah pelatihan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna. Rata-rata nilai peserta meningkat dari 12,23 sebelum pelatihan menjadi 13,74 setelah pelatihan. Perbedaan tersebut signifikan secara statistik dengan nilai P kurang dari 0,001. Sebelum pelatihan, terdapat perbedaan nilai yang bermakna antara profesi. Dokter umum memiliki rata-rata nilai awal 12,99, bidan 12,00, perawat 12,26, dan tenaga administrasi 11,25. Setelah pelatihan, perbedaan nilai antarprofesi tidak lagi bermakna. Temuan ini menunjukkan bahwa pelatihan bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membantu menyetarakan pemahaman di antara berbagai kelompok tenaga kesehatan.
Penyetaraan pengetahuan sangat penting karena pelayanan ibu hamil dilakukan oleh tim multidisiplin. Bidan dapat mengenali keluhan awal dan faktor risiko, dokter umum melakukan evaluasi klinis serta menentukan kebutuhan rujukan, sedangkan perawat membantu pemantauan dan edukasi pasien. Ketika seluruh anggota tim memiliki kewaspadaan yang sama, kemungkinan keterlambatan diagnosis dapat dikurangi. Ibu hamil atau ibu pascapersalinan dengan sesak yang memburuk, sulit tidur telentang, bengkak berlebihan, berdebar, nyeri dada, penurunan kesadaran, atau kelelahan yang tidak wajar perlu dievaluasi lebih lanjut. Pemeriksaan dapat meliputi elektrokardiografi, biomarker natriuretik, foto dada, dan terutama ekokardiografi untuk menilai fungsi ventrikel kiri. Ekokardiografi juga dapat menunjukkan pelebaran ruang jantung, regurgitasi katup, hipertensi pulmonal, disfungsi ventrikel kanan, atau trombus intrakardiak.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena tidak menggunakan kelompok kontrol, penilaian dilakukan segera setelah pelatihan, dan belum mengevaluasi apakah peningkatan pengetahuan bertahan dalam jangka panjang atau mengubah praktik klinis. Meskipun demikian, hasilnya memperlihatkan bahwa pelatihan singkat dan terstruktur dapat menjadi langkah praktis untuk meningkatkan kewaspadaan tenaga kesehatan terhadap PPCM. Program serupa perlu dilakukan secara berkala, dilengkapi simulasi kasus, pembelajaran daring, evaluasi jangka panjang, dan integrasi dalam pelayanan kesehatan ibu. Pengenalan PPCM yang lebih cepat diharapkan dapat mempercepat rujukan, mencegah komplikasi berat, serta menurunkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi.
Link :





