Gaya hidup modern membuat banyak orang semakin jarang bergerak. Aktivitas yang didominasi duduk terlalu lama, bekerja di depan layar, hingga kurangnya olahraga perlahan berdampak pada kesehatan tubuh. Tidak hanya meningkatkan risiko obesitas dan penyakit jantung, gaya hidup sedentari juga dapat mengganggu sistem sirkulasi darah dan metabolisme tubuh .
Di balik kondisi tersebut, tubuh sebenarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi. Salah satu bentuk adaptasi itu adalah angiogenesis, yaitu proses pembentukan pembuluh darah baru untuk membantu meningkatkan suplai oksigen ke jaringan tubuh. Menariknya, proses ini dapat dipicu melalui aktivitas fisik atau olahraga rutin.
Sebuah penelitian terbaru mencoba melihat bagaimana latihan fisik memengaruhi proses angiogenesis pada perempuan muda yang memiliki gaya hidup kurang aktif. Penelitian ini melibatkan tiga puluh perempuan sehat usia 18鈥26 tahun yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok latihan beban (resistance training), latihan aerobik, dan kelompok kontrol tanpa latihan.
Kelompok latihan aerobik melakukan jalan cepat di treadmill selama 30 menit dengan intensitas sedang, sedangkan kelompok latihan beban menjalani berbagai latihan kekuatan menggunakan alat gym seperti leg press, chest press, dan shoulder press . Para peneliti kemudian mengukur perubahan kadar HIF-1伪, EPO, dan VEGF melalui pemeriksaan darah sebelum dan sesudah latihan.
Ketiga komponen tersebut memiliki peran penting dalam proses adaptasi tubuh terhadap kebutuhan oksigen. HIF-1伪 berfungsi sebagai 鈥渟ensor鈥 ketika tubuh mengalami kekurangan oksigen, EPO membantu pembentukan sel darah merah, sedangkan VEGF berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik latihan aerobik maupun latihan beban mampu meningkatkan kadar HIF-1伪 dan EPO secara signifikan dibandingkan kelompok yang tidak berolahraga. Sementara itu, peningkatan VEGF terlihat lebih signifikan pada kelompok latihan aerobik.
Saat tubuh melakukan aktivitas fisik, kebutuhan oksigen di dalam otot meningkat tajam. Dalam kondisi ini, tubuh mengalami hipoksia sementara, yaitu keadaan ketika kebutuhan oksigen lebih besar dibanding suplai yang tersedia . Kondisi inilah yang kemudian mengaktifkan HIF-1伪 sebagai respons alami tubuh. Aktivasi HIF-1伪 memicu peningkatan produksi EPO dan VEGF. EPO membantu tubuh meningkatkan jumlah sel darah merah sehingga distribusi oksigen menjadi lebih baik . Di sisi lain, VEGF merangsang pembentukan kapiler dan pembuluh darah baru agar jaringan tubuh memperoleh suplai oksigen yang lebih optimal.
Secara sederhana, olahraga membuat tubuh menjadi lebih efisien dalam mengalirkan oksigen dan menghasilkan energi. Adaptasi ini penting tidak hanya bagi atlet, tetapi juga bagi masyarakat umum untuk menjaga kesehatan jantung, metabolisme, dan kebugaran tubuh secara keseluruhan. Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa latihan beban memberikan peningkatan HIF-1伪 yang lebih tinggi dibanding latihan aerobik. Sebaliknya, latihan aerobik lebih efektif meningkatkan VEGF yang berkaitan dengan pembentukan pembuluh darah baru. Hal ini menunjukkan bahwa setiap jenis olahraga memiliki manfaat fisiologis yang berbeda.
Temuan ini semakin menegaskan bahwa olahraga bukan hanya aktivitas untuk menjaga berat badan atau penampilan fisik semata. Lebih dari itu, aktivitas fisik merupakan proses biologis yang membantu tubuh memperbaiki sistem sirkulasi dan meningkatkan kemampuan tubuh beradaptasi terhadap kebutuhan energi.
Karena itu, membiasakan diri untuk bergerak aktif dan rutin berolahraga menjadi langkah sederhana namun penting untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Tidak harus dimulai dari latihan berat, aktivitas fisik ringan yang dilakukan secara konsisten pun sudah memberi manfaat besar bagi tubuh.





