Pernahkah Anda mendengar tentang hewan purba yang sudah ada di bumi bahkan sebelum dinosaurus muncul? Kenalkan, inilah Mimi dan Mintuno鈥攕ebutan lokal untuk horseshoe crab atau belangkas. Hewan laut berbentuk unik menyerupai helm baja ini merupakan kelompok artropoda yang luar biasa. Mereka telah menghuni lautan bumi selama kurang lebih 485 juta tahun dengan bentuk tubuh yang hampir tidak berubah. Karena ketangguhan evolusinya, belangkas sering dijuluki sebagai “fosil hidup”. Sayangnya, meski berhasil selamat dari berbagai kepunahan massal di masa lalu, eksistensi mereka kini justru terancam oleh aktivitas manusia.
Di balik penampilannya yang primitif, belangkas menyimpan “harta karun” yang sangat dicari oleh dunia medis. Darah mereka yang berwarna biru (disebut hemolymph) memiliki kemampuan unik untuk mendeteksi bakteri, sehingga menjadi komponen krusial dalam uji sterilitas alat medis dan vaksin. Selain untuk kebutuhan biomedis, belangkas juga kerap diburu karena telurnya dianggap sebagai makanan lezat (kuliner ekstrem) di beberapa wilayah. Ditambah lagi dengan rusaknya habitat pesisir tempat mereka bertelur, populasi belangkas di alam liar pun terus merosot tajam.
Potret Belangkas di Indonesia, Khususnya Jawa Timur
Dari empat spesies belangkas yang tersisa di dunia saat ini, tiga di antaranya hidup di perairan Asia, termasuk Indonesia: Tachypleus gigas, Carcinoscorpius rotundicauda dan Tachypleus tridentatus (pernah ditemukan di Balikpapan). Di Jawa Timur sendiri鈥攕eperti di kawasan Surabaya, Bangkalan, Pasuruan, dan Probolinggo鈥攑eneliti telah berhasil menemukan spesies T. gigas dan C. rotundicauda.
Secara hukum, belangkas di Indonesia adalah hewan yang dilindungi ketat di bawah Peraturan Menteri LHK No. P.106 tahun 2018 dan PP No. 7 Tahun 1999. Artinya, segala bentuk eksploitasi liar terhadap hewan ini adalah tindakan ilegal. Meskipun statusnya dilindungi, belangkas belum menjadi komoditas perikanan utama di Indonesia. Akibatnya, upaya budidaya dan riset konservasinya masih sangat minim. Lebih memprihatinkan lagi, sebuah laporan konservasi menunjukkan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dari bawah dalam hal ketersediaan database genetik belangkas di Asia. Khusus untuk wilayah Jawa Timur, data mengenai identifikasi molekuler (genetik) hewan ini bahkan hampir tidak ada. Selama ini, kita hanya mengandalkan identifikasi morfologi (melihat bentuk fisik luar). Padahal, cara konvensional ini sering kali kurang akurat untuk membedakan spesies yang mirip atau melacak variasi genetik antar-populasi.
Untuk menutup celah ilmu pengetahuan tersebut, para peneliti kini mulai gencar melakukan studi DNA Barcoding. Sama seperti memindai kode batang (barcode) di supermarket, metode ini menggunakan wilayah gen tertentu鈥攌hususnya gen COI (Cytochrome Oxidase Subunit I) dari DNA mitokondria鈥攕ebagai kartu identitas digital yang sangat akurat bagi setiap spesies belangkas.
Melalui riset DNA Barcoding di sepanjang garis pantai Jawa Timur, ada beberapa manfaat besar yang bisa didapatkan:Kepastian Spesies: Menghindari salah identifikasi antar-spesies belangkas. Memetakan Keragaman Genetik: Mengetahui seberapa kaya variasi genetik belangkas di Jatim, yang penting untuk ketahanan populasi mereka. Menambah Database Global: Hasil sekuensing DNA ini akan dimasukkan ke dalam GenBank (database genetik dunia), sehingga menaikkan posisi Indonesia dalam peta sains internasional.
Data genetik yang akurat bukan sekadar angka di atas kertas. Informasi ini menjadi modal utama bagi pemerintah dan aktivis lingkungan untuk merancang strategi konservasi yang tepat sasaran鈥攎ulai dari memetakan daerah perlindungan kritis, mengelola program pembiakan, hingga memantau dinamika populasi di alam liar.
Mimi dan Mintuno telah bertahan melewati ratusan juta tahun sejarah bumi. Tentu akan menjadi tragedi jika mereka harus punah di zaman kita hanya karena kelalaian manusia. Melalui sains dan regulasi yang kuat, mari kita jaga agar fosil hidup ini tetap lestari di pesisir Nusantara.
Tulisan lengkap pada link:
Sitasi : Andriyono, S., Adella, C. T., Mufasirin, M., Lutfiyah, L., Pramono, H., Noh, N. I. M., & Rahayu, D. A. (2026). Molecular Identification and Phylogenetic Reconstruction of Horseshoe Crab (Xiphosura, Limulidae) from the East Java Region. ILMU KELAUTAN: Indonesian Journal of Marine Sciences, 31(2), 181-194.





