UNAIR NEWS 鈥 Pertemuan masyarakat dengan latar belakang berbeda menjadi bagian dari keseharian di kawasan transmigrasi. Perjumpaan tersebut membuka ruang untuk saling mengenal, tetapi juga dapat memunculkan persoalan integrasi ketika masyarakat belum memiliki pemahaman yang cukup tentang keberagaman. Melihat kondisi itu, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 东京热 (UNAIR) di Morujmega, Manokwari, Papua Barat, mengusung penguatan modal sosial melalui pendidikan multikulturalisme berbasis komunitas.
Ketua Tim, , menjelaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang dapat memperkuat kehidupan bersama. Menurutnya, masyarakat perlu memiliki ruang untuk mengenal perbedaan sekaligus membangun hubungan yang saling mendukung. 鈥淚ndonesia ini mengenal keberagaman dan keberagaman itu bukan suatu ancaman, tetapi elemen kekayaan,鈥 ujarnya.
Membangun Modal Sosial di Tengah Keberagaman
Biandro menjelaskan, modal sosial menjadi salah satu pijakan utama dalam program tersebut. Ia membaginya ke dalam tiga tipologi utama, yaitu modal sosial pengikat (bonding) untuk membangun relasi antarsesama, modal sosial penjembatan (bridging) untuk memperluas jejaring horizontal antarkelompok, dan modal sosial penghubung (linking) untuk membangun hubungan vertikal dengan lembaga serta pemangku kepentingan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena masyarakat lokal Papua memiliki nilai, kultur, serta adat istiadat yang khas. Menurut Biandro, masyarakat pendatang perlu memahami kekayaan lokal tersebut agar mampu beradaptasi dan membangun kehidupan bersama tanpa mengabaikan identitas masing-masing. 鈥淜ita harus betul-betul memahami adat istiadat yang ada. Masyarakat Papua sangat memiliki kekayaan budaya dan nilai-nilai kelokalan yang kuat,鈥 jelasnya.
Perubahan paradigma transmigrasi turut menjadi pertimbangan tim dalam menyusun program. Biandro menjelaskan, transmigrasi kini tidak sekadar memindahkan penduduk, tetapi juga menyiapkan kawasan agar berkembang sebagai daerah transmigrasi. Karena itu, Morujmega perlu memiliki fondasi sosial yang kuat agar keberagaman menjadi kekuatan. 鈥淜ita berupaya menyiapkan Morujmega agar siap menjadi daerah transmigrasi dengan multikulturalisme dan modal sosial yang baik,鈥 ujarnya.
Kolaborasi untuk Integrasi Masyarakat
Selama empat bulan, tim akan mengembangkan kegiatan kolaboratif yang menyesuaikan karakter masyarakat. Rangkaian kegiatan mencakup pemetaan sosial melalui FGD awal dan forum dialog, pelatihan pendidikan multikulturalisme, pelatihan kepemimpinan komunitas, hingga forum pemuda multietnis. Tim juga akan mengembangkan jejaring antaretnis melalui temu jejaring dan pertukaran budaya.
Dalam pelaksanaannya, Tim akan berkolaborasi dengan Dinas Transmigrasi Manokwari, Dinas Kebudayaan, instansi terkait, organisasi kepemudaan, dan masyarakat. Salah satu bentuk kegiatan yang dirancang ialah pengenalan budaya melalui keragaman kuliner sebagai ruang perjumpaan antarkelompok. 鈥淜ami mengenalkan makanan khas kami, kemudian mereka mengenalkan makanan khas di sana. Dari situ kami bisa saling mengenal dan memahami,鈥 jelasnya.
Program ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan), SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kapasitas masyarakat dan integrasi sosial berbasis multikulturalisme.
Tim juga akan membentuk komunitas multikulturalisme sebagai ruang untuk membangun interaksi dan memahami keberagaman. Untuk menjaga keberlanjutan, masyarakat akan didorong menjadi pionir pendamping lokal yang melanjutkan program setelah masa penugasan berakhir. 鈥淗arapannya, setelah kami selesai bertugas, masyarakat sudah memiliki orang-orang yang mampu meneruskan program ini secara mandiri,鈥 pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





