UNAIR NEWS 鈥 Ketika tim nasional sepak bola bertanding, jutaan pasang mata tertuju pada lapangan yang sama. Perbedaan suku, agama, profesi, hingga latar belakang ekonomi seolah menghilang selama 90 menit pertandingan berlangsung. Di balik euforia tersebut, sepak bola ternyata menyimpan kekuatan sosial yang jauh melampaui fungsi olahraga.
Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () 东京热 (UNAIR), Rizky Sugianto Putri SAnt MSi, menilai sepak bola memiliki kemampuan unik dalam membangun identitas kolektif masyarakat. Menurutnya, para pendukung tim nasional akan membentuk identitas baru sebagai sesama warga Indonesia yang menyuarakan tujuan bersama.
“Legenda sepak bola Diego Maradona pernah mengatakan bahwa football isn鈥檛 a game, nor a sport, it鈥檚 a religion. Ungkapan itu menunjukkan bahwa sepak bola telah berkembang menjadi ruang yang membangun ikatan emosional yang sangat kuat,” ujarnya.
Identitas di Tribun Stadion
Dosen yang akrab disapa Kiki itu menjelaskan bahwa stadion tidak lagi sekadar menjadi lokasi pertandingan. Dalam perspektif antropologi olahraga, stadion menjelma sebagai ruang budaya tempat para suporter membangun dan merayakan identitas kolektif.

Mereka melakukannya melalui berbagai praktik bersama. Mulai dari menyanyikan chants, mengibarkan bendera, membentangkan tifo (koreografi raksasa), hingga mengenakan atribut yang sama sebagai simbol kebersamaan. Seluruh aktivitas tersebut mencerminkan komitmen yang tidak kecil karena melibatkan waktu, tenaga, dan biaya.
“Semua aktivitas itu membentuk communal behavior. Orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya merasa berada dalam komunitas yang sama karena memiliki tujuan dan identitas yang sama,” jelasnya.
Menurut Kiki, rasa memiliki terhadap tim nasional membuat masyarakat memandang keberhasilan tim sebagai kebanggaan bersama. Perasaan tersebut perlahan menggantikan identitas-identitas lokal dengan identitas nasional sebagai pendukung Indonesia.
Solidaritas Tidak Berhenti di Lapangan
Lebih jauh, Kiki menilai solidaritas antarsuporter tidak berhenti setelah pertandingan usai. Berbagai bentuk dukungan terhadap tim nasional terus muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Ia mencontohkan antusiasme masyarakat ketika Indonesia menjalani babak Kualifikasi Piala Dunia. Saat itu berbagai pusat perbelanjaan, toko, hingga layanan transportasi memberikan potongan harga maupun fasilitas khusus bagi masyarakat yang mengenakan jersey tim nasional. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sepak bola mampu menciptakan rasa memiliki yang meluas di luar stadion.
Meski demikian, Kiki mengingatkan bahwa semangat kebersamaan tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk melakukan tindakan agresif maupun diskriminatif. “Sepak bola selalu mengajarkan persatuan. Kita boleh bangga terhadap identitas kelompok sendiri, tetapi jangan sampai kebanggaan itu mencederai kelompok lain,鈥 pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





