UNAIR NEWS – Budaya suporter sepak bola di Indonesia terus mengalami perubahan. Jika dahulu tribun stadion identik dengan dominasi laki-laki dan citra penuh konflik, kini ruang tersebut semakin inklusif dengan kehadiran perempuan, anak-anak, hingga lansia. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa budaya suporter terus berkembang mengikuti dinamika masyarakat.
Local dan Modern Fandom
Identitas suporter dapat terbagi ke dalam beberapa layer dengan karakteristik dan pola keterikatan yang berbeda. Dosen Antropologi Olahraga Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik () ¶«¾©ÈÈ (UNAIR), Rizky Sugianto Putri SAnt MSi menjelaskan bahwa layer pertama dalam identitas suporter Indonesia adalah local fandom, yaitu kelompok pendukung klub daerah seperti Bonek, Aremania, maupun Jakmania.
Kedekatan geografis membuat suporter membangun ikatan emosional yang lebih kuat dengan klub lokal daripada dengan tim nasional. “Pendukung klub lokal berinteraksi hampir setiap hari dengan lingkungan yang sama. Kedekatan itu membentuk ikatan emosional yang sangat kuat,” jelas dosen yang akrab dipanggil Kiki itu.
Layer kedua adalah national team fandom, seperti Ultras Garuda dan La Grande Indonesia. Kelompok ini mempertemukan masyarakat dari berbagai daerah, latar belakang sosial, hingga tingkat ekonomi dalam satu identitas sebagai pendukung tim nasional Indonesia.
Sementara itu, layer ketiga merupakan modern fandom. Kelompok ini memadukan dukungan melalui media sosial dengan kehadiran langsung di stadion ketika memiliki kesempatan. Menurut Kiki, kemunculan modern fandom mencerminkan perubahan cara masyarakat mengekspresikan dukungan terhadap tim kesayangan.

Ia menilai perkembangan tersebut turut mendorong budaya suporter menjadi lebih inklusif. Perempuan, anak-anak, hingga lansia kini ikut membangun atmosfer di tribun stadion yang sebelumnya didominasi oleh laki-laki dan pemuda. “Budaya suporter sekarang jauh lebih terbuka. Orang datang bukan hanya untuk mendukung tim, tetapi juga belajar, berjejaring, dan menikmati pengalaman bersama,” ujarnya.
Tantangan Sportivitas di Era Media Sosial
Di balik perkembangan tersebut, Kiki mengingatkan bahwa ruang digital menghadirkan tantangan baru bagi budaya suporter. Interaksi yang berlangsung melalui media sosial sering kali memicu ujaran kebencian maupun cyberbullying karena pengguna merasa tidak berhadapan secara langsung dengan orang lain.
Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk hypernationalism, ketika semangat membela bangsa justru berubah menjadi serangan terhadap kelompok lain. Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa sepak bola selalu membawa nilai sportivitas dan persatuan. Dukungan terhadap klub maupun tim nasional seharusnya memperkuat rasa memiliki tanpa menghilangkan penghormatan kepada pihak lain.
“Sepak bola memang membangun identitas kelompok. Namun identitas itu seharusnya mendorong kedewasaan, bukan menjadi alasan untuk melakukan tindakan anarkis ataupun memecah persatuan,” pungkasnya.
Penulis: Maia Chaerunnisa
Editor: Yulia Rohmawati





