东京热

东京热 Official Website

Aksi Mahasiswa UNAIR Kumpulkan 573 kg Sampah di Pesisir Wonorejo Surabaya聽

Peserta dan panitia SYNERGY: Synergizing Eco-Restoration & Green Youth di Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, Minggu (13/9/2026) (Foto: Dok. Panitia)

UNAIR NEWS 鈥 Mahasiswa 东京热 (UNAIR) berhasil kumpulkan 573 kg sampah dalam waktu 40 menit melalui aksi coastal clean-up di Ekowisata Mangrove Wonorejo, Surabaya, Minggu (13/9/2026). Aksi tersebut merupakan bagian dari SYNERGY: Synergizing Eco-Restoration & Green Youth yang mempertemukan Herogreen BEM Fakultas Sains dan Teknologi () dengan Green Action, salah satu rangkaian pre-event Catalyst Summit dari Society of Renewable Energy (SRE) UNAIR.

Ketua penyelenggara SYNERGY, Kimora dan Agung mengatakan aksi tersebut tidak hanya bertujuan untuk membersihkan kawasan pesisir. Peserta juga diajak memahami kondisi lingkungan sebelum terlibat langsung dalam kegiatan restorasi. 鈥淜ami tidak ingin hanya berbicara mengenai pemulihan vegetasi, tetapi juga melihat kondisi lingkungan tempat mangrove tersebut tumbuh secara keseluruhan,鈥 tutur mereka.

Rangkaian kegiatan diawali dengan sharing session mengenai ekosistem pesisir, jenis mangrove, serta fungsi dan manfaatnya bagi lingkungan. Materi tersebut menjadi bekal bagi peserta sebelum melakukan aksi di lapangan.

Setelah sesi edukasi, peserta turun langsung melakukan coastal clean-up. Dalam waktu sekitar 40 menit, sebanyak 573 kilogram sampah berhasil terkumpul. Kimora menilai jumlah tersebut menunjukkan bahwa persoalan sampah di kawasan pesisir masih cukup besar. Bahkan setelah kegiatan berakhir, sejumlah sampah masih terlihat di sekitar lokasi.

鈥573 kg itu bukan berarti seluruh kawasan sudah bersih. Setelah waktu clean-up berakhir, masih terlihat banyak sampah yang tersisa,鈥 jelasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengalaman langsung bagi peserta untuk melihat persoalan lingkungan yang tidak dapat terselesaikan melalui satu kali aksi. Sampah yang terbawa aliran air dan arus laut dapat kembali menumpuk di wilayah pesisir.

Aksi dilanjutkan dengan penanaman 60 bibit Rhizophora mucronata atau Bakau Kurap. Pemilihan jenis tersebut mempertimbangkan perannya dalam menjaga ekosistem pesisir, menyediakan habitat bagi berbagai organisme, serta menyerap dan menyimpan karbon.

Kimora mengatakan penanaman mangrove tidak otomatis menjamin bibit dapat tumbuh hingga dewasa. Kondisi pesisir seperti arus air, sampah, dan faktor lingkungan lain dapat memengaruhi pertumbuhannya.

鈥淜ami memang tidak bisa menjamin seluruh 60 bibit akan bertahan. Karena itu, kami berencana kembali ke lokasi sekitar akhir tahun untuk melihat kondisi bibit dan survival rate-nya,鈥 jelasnya.

Rencana monitoring tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan bibit setelah beberapa bulan sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kegiatan. Menurutnya, keberhasilan aksi tidak cukup dilihat dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuannya bertahan dan tumbuh di lingkungan pesisir.

鈥淪ekecil apa pun hasilnya, kami ingin aksi tersebut tetap meninggalkan sesuatu yang baik dan terus memberikan manfaat setelah kegiatan selesai,鈥 pungkasnya.

Penulis: Vaneza Ika Artamevia 

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT