UNAIR NEWS – Melintasi batas negara bukan sekadar berpindah tempat, melainkan membuka gerbang menuju pemahaman budaya yang lebih mendalam. Hal inilah yang dirasakan oleh 20 mahasiswa Departemen Bisnis ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) saat mengikuti Program Student Outbound 2026. Berkolaborasi dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Cawangan Melaka Kampus Alor Gajah, mereka menjalani program pertukaran jangka pendek selama tujuh hari, tepatnya pada 14–20 Juni 2026. Perjalanan ini menjadi ruang bagi mereka untuk menyelami kekayaan sejarah, akademik, dan keunikan budaya Malaysia.
Menggali Akulturasi dan Warisan Sejarah
Melaka dikenal sebagai kota yang kaya akan sejarah dan keberagaman budaya. Salah satu momen paling berkesan bagi para mahasiswa adalah saat mengeksplorasi berbagai destinasi ikonik kota ini. Di Alina Batik, mereka menyaksikan langsung bagaimana warisan kebudayaan batik lokal terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Perjalanan budaya berlanjut ke Hanuris Foodhub, tempat mereka mempelajari proses produksi komoditas khas seperti belacan (terasi) dan gula Melaka yang menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.
Tidak hanya itu, para mahasiswa juga dibuat takjub oleh keindahan arsitektur Masjid Selat Melaka yang berdiri anggun di tepi laut. Mereka juga mengunjungi A Famosa, benteng bersejarah yang merekam jejak panjang Melaka sebagai pusat perdagangan internasional di masa lampau. Penjelajahan hari itu ditutup dengan menyusuri Jonker Street pada sore hari, sebuah kawasan dinamis yang dipenuhi ragam street food, pertunjukan seni, dan hiruk-pikuk masyarakat yang mencerminkan pluralisme Melaka.
Culture Shock yang Menginspirasi
Meskipun Indonesia dan Malaysia berbagi rumpun yang sama, para mahasiswa tetap menemukan kejutan budaya (culture shock) yang menarik. Salah satu hal yang paling menonjol di lingkungan kampus UiTM adalah adanya batasan yang cukup tegas antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi etika berpakaian maupun interaksi sosial.
Sebagai perguruan tinggi negeri, UiTM sangat menjaga nilai-nilai keagamaan dan kultural ini. Bagi mahasiswa UNAIR, perbedaan ini justru memperluas cara pandang mereka mengenai implementasi nilai budaya di lingkungan akademik. Pertukaran budaya tidak selalu dilakukan melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui hubungan pertemanan yang hangat dan tulus.
Di sisi lain, kehangatan interaksi sosial melunakkan setiap kecanggungan. Kultur akademik di UiTM menunjukkan kombinasi unik: sangat formal dan tepat waktu dalam hal berpakaian dan regulasi, namun sangat kasual, inklusif, dan dua arah ketika berdiskusi di dalam kelas. Rasa khawatir mengenai komunikasi pun luruh berkat keterbukaan mahasiswa lokal. Melalui metode pendekatan unik mencampur bahasa Indonesia dan bahasa Melayu para peserta justru berhasil membangun keakraban yang erat.
Melalui program ini, esensi student outbound terbukti melampaui perjalanan fisik semata. Menghargai perbedaan, keluar dari zona nyaman, dan merayakan keberagaman adalah oleh-oleh terbaik yang membentuk karakter global mahasiswa UNAIR untuk masa depan.
Penulis: Dinar Putri Ramadani, Hanifah Az Zahra Hasoloan





