
Cedera akibat trauma berenergi tinggi, seperti jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas, dapat menyebabkan kerusakan pada berbagai organ tubuh secara bersamaan. Salah satu cedera yang jarang terjadi tetapi sangat berbahaya adalah robekan diafragma traumatik, yaitu kondisi ketika otot pemisah antara rongga dada dan rongga perut mengalami robekan akibat benturan keras.
Robekan diafragma dapat menyebabkan organ-organ perut, termasuk lambung, berpindah ke rongga dada. Kondisi ini sering sulit dikenali pada pemeriksaan awal karena gejalanya menyerupai pneumotoraks atau gangguan paru lainnya. Jika tidak terdeteksi, tindakan medis yang sebenarnya bertujuan menyelamatkan nyawa dapat menimbulkan komplikasi serius.
Seorang pria berusia 44 tahun dirujuk ke RSUD Dr. Soetomo setelah mengalami jatuh dari ketinggian dan mengalami sesak napas berat. Pemeriksaan awal menunjukkan tanda-tanda pneumotoraks tegang pada sisi kiri dada, yaitu kondisi gawat darurat ketika udara terperangkap di rongga dada dan menekan paru-paru serta jantung. Untuk mengatasi kondisi tersebut, dilakukan pemasangan selang dada (chest tube).
Namun, setelah pemasangan selang, keluar sekitar 550 mililiter cairan berwarna kehitaman yang tidak biasa. Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa pasien ternyata mengalami robekan diafragma yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga sebagian lambung masuk ke rongga dada. Selang dada yang dipasang secara darurat tersebut tanpa sengaja melukai lambung dan menyebabkan perforasi atau kebocoran lambung.
Pasien segera menjalani operasi darurat. Tim bedah menemukan robekan diafragma sepanjang 7 cm, perforasi lambung berukuran 1 cm, serta kontaminasi cairan lambung di rongga dada dan perut. Setelah dilakukan perbaikan lambung dan diafragma, pasien dirawat di unit perawatan intensif (ICU). Selama perawatan, pasien mengalami komplikasi berupa infeksi paru terkait ventilator (ventilator-associated pneumonia), sepsis berat, dan gangguan pernapasan akut. Berkat terapi antibiotik yang tepat, ventilasi mekanik protektif, serta perawatan intensif multidisiplin, kondisi pasien berangsur membaik dan akhirnya dapat keluar dari ICU pada hari ke-14.
Kasus ini menunjukkan pentingnya kewaspadaan terhadap robekan diafragma pada pasien trauma dada dan perut. Gejala yang menyerupai pneumotoraks dapat menyebabkan diagnosis terlewat sehingga tindakan pemasangan selang dada berisiko melukai organ yang berpindah ke rongga dada.
Selain itu, kasus ini menggambarkan bagaimana komplikasi dapat berkembang secara berantai. Cedera awal menyebabkan kontaminasi rongga dada dan perut, yang kemudian memicu infeksi berat, sepsis, dan gangguan fungsi paru. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan terapi tidak hanya bergantung pada operasi, tetapi juga pada penanganan intensif yang melibatkan dokter bedah, anestesiologi, intensivis, perawat ICU, serta tim rehabilitasi.
Robekan diafragma traumatik merupakan cedera yang jarang tetapi dapat menimbulkan komplikasi serius bila tidak dikenali sejak awal. Kasus ini menunjukkan bahwa pemasangan selang dada pada pasien trauma harus dilakukan dengan evaluasi yang cermat, terutama bila dicurigai terdapat perpindahan organ perut ke rongga dada. Penanganan cepat, operasi segera, dan perawatan intensif berbasis bukti menjadi kunci keberhasilan penyelamatan pasien dengan komplikasi yang mengancam jiwa.
Penulis: Dr. Kohar Hari Santoso, dr., Sp.An-TI. Subsp.An.Ped(K)., Subsp.T.I.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Loka Wicaksana Z, Hari Santoso K, Rahmasena N. Critical care management of iatrogenic gastric perforation following chest tube insertion in traumatic diaphragmatic rupture: A case report. Crit Care Shock. 2026;29(1).





