
Ilustrasi Kesehatan Mental Ibu (sumber: https://parentalk.id/kesehatan-mental-ibu-bekerja-dan-ibu-rumah-tangga/)
Kehamilan dan masa setelah melahirkan merupakan periode yang penuh perubahan, baik secara fisik maupun emosional. Namun, tidak semua ibu mampu melewati fase tersebut dengan mudah. Gangguan kesehatan mental perinatal, seperti depresi dan kecemasan selama kehamilan maupun setelah persalinan, dapat memengaruhi kesehatan ibu, tumbuh kembang bayi, serta keharmonisan keluarga. Sayangnya, berbagai perempuan masih enggan mencari bantuan karena takut mendapatkan stigma, dianggap sebagai ibu yang tidak mampu mengasuh anak, atau khawatir dinilai negatif oleh lingkungan. Penelitian terbaru yang melibatkan tenaga kesehatan di Uni Emirat Arab menunjukkan bahwa stigma sosial masih menjadi hambatan terbesar dalam penanganan kesehatan mental ibu.
Hasil penelitian juga mengungkap bahwa keluarga memiliki peran yang sangat menentukan. Di satu sisi, kurangnya pemahaman keluarga mengenai kesehatan mental dapat menyebabkan keluhan ibu diabaikan atau dianggap sebagai hal yang wajar setelah melahirkan. Bahkan, beberapa ibu mengalami keterbatasan dalam mengambil keputusan untuk memperoleh layanan kesehatan karena bergantung pada persetujuan pasangan atau anggota keluarga lainnya. Namun di sisi lain, dukungan emosional, keterlibatan suami, serta bantuan dari keluarga besar terbukti mampu mempercepat pemulihan kondisi psikologis ibu dan meningkatkan keberhasilan penanganan gangguan kesehatan mental selama periode perinatal.
Selain keluarga, faktor budaya dan masyarakat juga memberikan pengaruh yang besar. Norma sosial yang mengharuskan ibu selalu tampak kuat dan bahagia sering kali membuat perempuan memilih menyembunyikan kesulitan emosional yang mereka alami. Meski demikian, penelitian ini juga menemukan adanya nilai budaya yang justru dapat menjadi kekuatan, seperti tradisi perawatan ibu selama 40 hari setelah melahirkan yang memberikan kesempatan bagi ibu untuk memperoleh dukungan fisik dan emosional dari keluarga. Oleh karena itu, peningkatan literasi kesehatan mental, kampanye untuk mengurangi stigma, serta pelayanan kesehatan yang sensitif terhadap budaya menjadi langkah penting untuk memastikan setiap ibu memperoleh dukungan yang dibutuhkan.
Temuan ini sejalan dengan komitmen Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being) yang menargetkan peningkatan kesehatan ibu dan kesehatan mental, SDG 5 (Gender Equality) melalui penguatan peran perempuan dalam mengambil keputusan terkait kesehatannya, serta SDG 10 (Reduced Inequalities) dengan memastikan seluruh perempuan, termasuk kelompok rentan, memperoleh akses yang setara terhadap layanan kesehatan mental yang berkualitas. Dengan membangun kolaborasi antara tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, dan pembuat kebijakan, kesehatan mental ibu dapat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelayanan kesehatan maternal, sehingga mampu menciptakan generasi yang lebih sehat, tangguh, dan berkualitas di masa depan.
Penulis: Eny Qurniyawati
Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat pada:
ElKhalil, Rouwida, Rasha Bayoumi, Preetha Menon, Eny Qurniyawati, Luai A Ahmed, Rami H Al-Rifai, Emad Masuadi, and Iffat Elbarazi. 2026. 鈥淗ealthcare Professionals鈥 Perspectives on Perinatal Mental Health Care in the United Arab Emirates: A Qualitative Study of Barriers and Facilitators at the Patient, Family, and Societal Levels.鈥 International Journal of Women鈥檚 Health 18 (December). doi:10.2147/IJWH.S597512.





