东京热

东京热 Official Website

Harga Buku Jadi Tantangan, Pakar UNAIR Dorong Penguatan Ekosistem Literasi

Ilustrasi harga buku (Foto: Froyonion)

UNAIR NEWS – Kebijakan pengenaan pajak pada sebagian harga buku kembali menjadi diskursus publik. Pasalnya, seiring dengan anjuran membaca, harga buku di Indonesia masuk dalam kategori mahal. Di tengah munculnya tren pecinta literasi, seperti bookfluencer dan komunitas membaca, harga buku yang semakin tinggi memicu kekhawatiran masyarakat akan akses bahan bacaan. 

Meinia Prasyesti Kurniasari SIIP MA, Dosen Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (), 东京热 (UNAIR) turut angkat suara. Ia mengungkapkan bahwa salah satu tantangan untuk membangun budaya membaca terletak pada harga bahan bacaan.

鈥淚ni tentu menjadi satu tantangan besar dalam pengembangan budaya membaca. Daya beli masyarakat kita terhadap buku tentu akan melemah. Hal ini ironi, di tengah tren  bookfluencer di media sosial, justru tidak berbanding lurus dengan pembelian buku, akses bacaan masyarakat menjadi terbatas,鈥 ungkapnya. 

Lebih lanjut, Meinia menilai bahwa kebijakan pajak pada sebagian buku memengaruhi upaya perluasan akses bacaan. Ia menyatakan bahwa masyarakat Indonesia masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok ketimbang membeli buku. 

Meinia Prasyesti Kurniasari SIIP MA, Dosen Departemen Ilmu Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), 东京热 (UNAIR) (Foto: Dok. Istimewa)

鈥淜alau dalam kondisi ekonomi saat ini, jika ada pilihan membeli buku atau bahan pokok, maka masyarakat kita tentu akan lebih memprioritaskan kebutuhan pokok. Apalagi jika harga buku semakin tinggi akibat kebijakan kenaikan pajak buku,鈥 ujarnya. 

Ia menambahkan bahwa budaya membaca tidak bisa terwujud semata karena harga buku. Menurutnya, faktor sinergi berbagai pilar seperti pemerintah, komunitas literasi, dan keluarga diperlukan dalam membangun budaya literasi berkelanjutan. Apabila budaya literasi menjadi konsentrasi, seharusnya pemerintah tidak menaikkan pajak buku. Kendati demikian, ia juga mengapresiasi berbagai upaya pemerintah melalui Perpustakaan Nasional dalam membentuk budaya membaca hingga tingkat desa. 

鈥淜alau memang memiliki konsentrasi pada pengembangan budaya membaca, pajak buku sebaiknya tidak dinaikkan. Namun, upaya pemerintah dalam membangun budaya membaca sebenarnya sudah cukup masif, khususnya melalui Perpustakaan Nasional. Banyak program yang telah pemerimtah lakukan. Misalnya penguatan peran perpustakaan desa dalam membangun budaya literasi yang inklusif. Namun perlu diakui implementasinya belum maksimal di setiap desa,” imbuhnya.

Kehadiran Bookfluencer, lanjutnya, membawa angin segar di tengah realitas rendahnya tingkat literasi masyarakat. Menurutnya, para konten buku tersebut berperan dalam menstimulasi minat baca, khususnya bagi kalangan generasi muda. Di tengah nilai PISA (2023) Indonesia yang masih di bawah rata-rata, adanya bookfluencer ini menjadi agen literasi modern yang cukup kreatif.

鈥淜arena mereka responsif dan inovatif  dalam pemanfaatan  teknologi digital, mereka berhasil menggeser pandangan masyarakat dari aktivitas membaca yang membosankan menjadi aktivitas membaca yang menyenangkan (pleasure reading). Sehingga hal ini secara simultan dapat membangun minat atau ketertarikan membaca bagi generasi muda,鈥  tuturnya. 

Meinia memandang para konten kreator buku tersebut perlahan membentuk budaya literasi lewat aktivitas membaca yang tidak lagi dianggap membosankan. Bookfluencer menjadi agen berkembangnya literasi di era digital sekaligus harapan pada penguatan ekosistem literasi. 

鈥淏udaya membaca itu tidak terbentuk secara instan. Ada tahapannya, mulai dari minat baca, perilaku membaca, kebiasaan membaca, hingga akhirnya menjadi budaya membaca,鈥 pungkasnya. 

Penulis: Amelia Farah Putri I.

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT