Dalam beberapa tahun terakhir, Environmental, Social, and Governance (ESG) telah menjadi salah satu indikator utama dalam pengambilan keputusan investasi. Perusahaan dengan skor ESG tinggi sering kali dipersepsikan lebih bertanggung jawab, berkelanjutan, dan memiliki risiko jangka panjang yang lebih rendah. Namun, apakah reputasi ESG benar-benar mencerminkan kualitas perusahaan secara menyeluruh? Penelitian terbaru berjudul From Triple Bottom Line to Triple Checks: The Interplay Between ESG, Conservatism, and Investor Trust menunjukkan bahwa jawabannya tidak selalu demikian. Penelitian ini menganalisis 13.398 observasi perusahaan dari 30 negara selama periode 2010鈥2022. Penelitian ini dilakukan oleh Suham Cahyono (Kandidat Doktor Ilmu Akuntansi-东京热), Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CA., (Guru Besar Akuntansi Keperilakukan dan Kinerja-东京热), & Prof. Dr. Hadrian Geri Djajadikerta (Professor-School of Accounting, Finance, and Economics, Curtin University-Australia). Hasilnya menunjukkan temuan yang cukup mengejutkan: semakin tinggi tingkat pengungkapan ESG suatu perusahaan, semakin rendah tingkat konservatisme akuntansinya. Dengan kata lain, perusahaan yang sangat aktif membangun narasi keberlanjutan belum tentu menerapkan prinsip kehati-hatian yang sama dalam pelaporan keuangannya. Mengapa hal ini penting?
Konservatisme akuntansi merupakan prinsip yang mendorong perusahaan untuk lebih berhati-hati dalam mengakui keuntungan dan lebih cepat mengakui potensi kerugian. Prinsip ini telah lama dipandang sebagai mekanisme untuk melindungi investor dari laporan keuangan yang terlalu optimistis. Ketika konservatisme melemah, terdapat risiko bahwa informasi keuangan menjadi kurang andal, meskipun perusahaan memiliki citra ESG yang baik. Temuan tersebut tidak berarti bahwa ESG adalah konsep yang buruk. Sebaliknya, ESG tetap penting sebagai indikator tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan, masyarakat, dan tata kelola. Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa ESG dapat berubah menjadi sekadar simbol apabila tidak diiringi dengan kualitas pelaporan keuangan yang memadai. Dalam kondisi tertentu, reputasi ESG bahkan dapat menciptakan rasa percaya yang berlebihan sehingga investor menjadi kurang kritis terhadap kualitas laporan keuangan perusahaan. Fenomena inilah yang sering dikaitkan dengan greenwashing, yaitu ketika perusahaan membangun citra keberlanjutan yang kuat melalui berbagai pengungkapan, tetapi praktik bisnis maupun kualitas informasinya belum sepenuhnya mencerminkan komitmen tersebut. Penelitian ini menemukan bahwa kondisi tersebut lebih mungkin terjadi pada perusahaan yang memiliki legitimasi tinggi di mata publik, terutama di negara maju dan perusahaan dengan tata kelola yang kuat, karena reputasi mereka cenderung lebih mudah dipercaya oleh pasar.
Berdasarkan temuan tersebut, penulis mengusulkan pendekatan baru yang disebut Triple Checks. Pendekatan ini mengajak investor untuk tidak hanya mengevaluasi skor ESG, tetapi juga memeriksa dua aspek lainnya, yaitu kualitas konservatisme akuntansi dan tingkat kepercayaan investor terhadap informasi perusahaan. Ketiga aspek tersebut perlu dinilai secara bersama-sama agar dapat membedakan perusahaan yang benar-benar berkelanjutan dari perusahaan yang sekadar membangun citra keberlanjutan. Bagi regulator, hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa standar pelaporan ESG sebaiknya tidak hanya berfokus pada banyaknya informasi yang diungkapkan, tetapi juga memastikan bahwa informasi tersebut didukung oleh pelaporan keuangan yang berkualitas dan mekanisme pengawasan yang efektif. Sementara itu, bagi investor, skor ESG seharusnya menjadi awal analisis, bukan akhir dari proses pengambilan keputusan. Pada akhirnya, keberlanjutan perusahaan tidak dapat diukur hanya dari seberapa baik mereka bercerita tentang ESG. Keberlanjutan yang sesungguhnya harus tercermin dalam konsistensi antara narasi, angka-angka keuangan, dan tata kelola yang disiplin. Di era investasi berkelanjutan, kepercayaan pasar tidak cukup dibangun melalui citra, tetapi harus diperkuat dengan bukti yang dapat diverifikasi. Itulah esensi dari pendekatan Triple Checks.
Penulis: Prof. Dr. Ardianto, SE., M.Si., Ak., CMA., CA
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





