
Nyeri merupakan salah satu masalah kesehatan yang paling sering dialami masyarakat dan dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Meskipun berbagai obat pereda nyeri telah tersedia, sebagian di antaranya memiliki efek samping yang membatasi penggunaannya dalam jangka panjang. Kondisi ini mendorong pencarian alternatif pengobatan yang lebih aman dan efektif.
Salah satu tanaman yang banyak menarik perhatian adalah kratom (Mitragyna speciosa), tanaman asli Asia Tenggara yang telah lama digunakan secara tradisional untuk mengurangi kelelahan dan nyeri. Kandungan utama kratom, yaitu mitraginin, diketahui bekerja pada reseptor opioid di tubuh, sehingga diduga memiliki efek pereda nyeri. Namun, manfaat dan keamanannya masih menjadi perdebatan di berbagai negara.
Penelitian ini merupakan tinjauan sistematis yang mengumpulkan dan menganalisis berbagai penelitian mengenai penggunaan kratom untuk mengatasi nyeri. Peneliti melakukan pencarian literatur pada enam basis data ilmiah internasional dan memperoleh 44 penelitian yang memenuhi kriteria. Dari jumlah tersebut, 28 penelitian dilakukan pada hewan percobaan dan 16 penelitian melibatkan manusia.
Penelitian yang dianalisis mencakup berbagai model nyeri, mulai dari nyeri akut, nyeri akibat peradangan, hingga nyeri saraf. Selain efektivitas, peneliti juga menilai data keamanan dan efek samping penggunaan kratom.
Hasil penelitian pada hewan menunjukkan bahwa kratom dan senyawa aktifnya secara konsisten mampu meningkatkan ambang nyeri serta mengurangi respons nyeri secara bergantung dosis. Efek ini ditemukan pada berbagai model penelitian, termasuk nyeri saraf dan nyeri akibat peradangan.
Sebaliknya, bukti pada manusia masih terbatas. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi kratom dapat meningkatkan toleransi terhadap nyeri dan membantu mengurangi keluhan nyeri kronis. Namun, penelitian terkontrol lainnya tidak menemukan perbedaan bermakna antara mitraginin dan plasebo dalam menurunkan persepsi nyeri.
Dari sisi keamanan, penggunaan kratom dosis rendah hingga sedang umumnya hanya menimbulkan efek samping ringan seperti kantuk, pusing, kelelahan, atau gangguan saluran cerna. Meski demikian, penggunaan jangka panjang dan dosis tinggi dilaporkan berpotensi menyebabkan ketergantungan dan gejala putus zat.
Temuan ini menunjukkan bahwa kratom memiliki potensi sebagai agen analgesik alami. Efek tersebut diduga berasal dari kerja mitraginin yang berinteraksi dengan reseptor opioid serta beberapa jalur lain yang berperan dalam pengaturan nyeri.
Namun, keberhasilan yang terlihat pada penelitian hewan belum sepenuhnya terbukti pada manusia. Perbedaan dosis, metabolisme, serta desain penelitian menjadi faktor yang dapat memengaruhi hasil. Selain itu, data keamanan jangka panjang masih sangat terbatas sehingga penggunaannya belum dapat direkomendasikan secara luas dalam praktik klinis.
Kratom menunjukkan potensi yang menjanjikan sebagai pereda nyeri berdasarkan berbagai penelitian laboratorium dan hewan percobaan. Namun, bukti ilmiah pada manusia masih belum cukup kuat untuk memastikan efektivitasnya dalam pengelolaan nyeri. Penelitian klinis yang lebih besar dan berkualitas tinggi masih diperlukan sebelum kratom dapat direkomendasikan sebagai terapi nyeri yang aman dan efektif.
Penulis: Dr. Christrijogo Soemartono Waloejo, dr., Sp.An-TI., Subsp.An.R.(K)., Subsp.T.I.(K)
Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:
Waloejo CS, Airlangga PS, Semedi BP, Veterini AS, Santoso KH, Pandin MGR, et al. Kratom (Mitragyna speciosa) for pain management: a systematic review of preclinical evidence and limited clinical data. Phytomedicine Plus. Elsevier B.V.; 2026. doi:10.1016/j.phyplu.2026.100983





