Fibrilasi atrium (FA) adalah gangguan irama jantung yang paling sering dijumpai, menyerang lebih dari 37 juta orang di seluruh dunia dan diperkirakan berlipat ganda pada tahun 2050 seiring menuanya populasi. Bahaya utamanya bukan terletak pada detak yang tidak beraturan itu sendiri, melainkan pada gumpalan darah yang dapat terbentuk di jantung dan terlepas menuju otak yang memicu stroke yang risikonya empat hingga lima kali lipat dibanding orang tanpa FA.
Selama puluhan tahun, obat pengencer darah (antikoagulan) menjadi tumpuan utama pencegahan stroke pada penderita FA. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan hanya sekitar 60% pasien yang benar-benar menjalani terapi ini secara memadai. Sebagian terhalang oleh risiko perdarahan, sebagian lagi karena biaya, kebutuhan pemantauan rutin, atau kondisi medis lain yang justru membuat obat ini berbahaya bagi mereka.
Di sinilah prosedur penutupan left atrial appendage, dikenal sebagai left atrial appendage closure atau LAAC, menawarkan jalan keluar. Left atrial appendage (LAA) adalah kantong kecil menyerupai daun telinga yang menonjol dari serambi kiri jantung. Pada pasien FA, serambi tidak berkontraksi dengan sempurna sehingga darah cenderung menggenang di kantong ini, dan di sanalah lebih dari sembilan dari sepuluh gumpalan pada FA non-katup terbentuk.
Melalui kateter yang dimasukkan tanpa bedah terbuka, dokter memasang perangkat kecil untuk menyumbat mulut kantong tersebut secara permanen. Dengan 鈥減intu鈥 pembentuk gumpalan itu tertutup, risiko stroke dapat ditekan tanpa harus bergantung pada obat pengencer darah seumur hidup. Sejumlah uji klinik besar mulai dari PROTECT-AF dan PREVAIL hingga yang terbaru CHAMPION-AF telah membuktikan bahwa LAAC tidak kalah efektif dibanding obat dalam mencegah stroke.
Persoalannya, FA jarang datang sendirian. Salah satu 鈥渒embaran鈥 yang paling sering menyertainya adalah gagal jantung, kondisi ketika jantung tidak lagi mampu memompa darah secara optimal. Hubungan keduanya bersifat timbal balik: gagal jantung memicu perubahan pada serambi yang mempermudah munculnya FA, sementara FA memperberat kerja jantung yang sudah melemah. Pasien yang menyandang keduanya sekaligus menghadapi risiko stroke, perdarahan, dan kematian yang jauh lebih tinggi.
Ironisnya, justru kelompok inilah yang paling minim buktinya. Uji-uji klinik besar cenderung mengecualikan pasien dengan gagal jantung berat, dan pedoman penanganan FA yang berlaku pun belum secara khusus membahas apakah LAAC layak direkomendasikan bagi mereka. Data yang tersedia tersebar dan kerap saling bertentangan.
Untuk menjawab kekosongan tersebut, tim peneliti melakukan tinjauan sistematis dan meta-analisis. Metode ini menggabungkan hasil banyak penelitian menjadi satu gambaran besar yang lebih kuat dan lebih dapat dipercaya daripada satu studi tunggal. Hasilnya, sebanyak 40 penelitian dengan total 351.266 pasien berhasil dihimpun, dan 33 di antaranya digabungkan secara kuantitatif. Temuannya dipublikasikan pada Juni 2026 di jurnal internasional Current Medical Research and Opinion (Taylor & Francis Group).
Kabar baiknya jelas dan melegakan: kemampuan LAAC mencegah stroke sama baiknya pada pasien gagal jantung maupun tanpa gagal jantung. Baik selama masa perawatan awal maupun dalam pemantauan jangka panjang, angka kejadian stroke pada kedua kelompok tidak berbeda secara bermakna. Dengan kata lain, gagal jantung tidak mengurangi manfaat inti dari prosedur ini.
Namun, ada sinyal yang menuntut kewaspadaan. Dibandingkan pasien tanpa gagal jantung, pasien dengan gagal jantung memiliki:
- risiko kejadian buruk di sekitar masa prosedur yang sekitar 17% lebih tinggi;
- risiko kematian pada masa perawatan awal sekitar 2,4 kali lipat lebih tinggi;
- risiko perdarahan berat sekitar 26% lebih tinggi;
- risiko kematian dalam jangka panjang yang nyaris dua kali lipat;
- risiko terbentuknya gumpalan pada permukaan perangkat (device-related thrombus) yang sekitar 45% lebih tinggi.
Sebaliknya, beberapa komplikasi lain seperti penumpukan cairan di sekitar jantung serta kebocoran di sekeliling perangkat tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Sepintas, meningkatnya angka kematian terdengar mengkhawatirkan. Tetapi para peneliti menekankan satu hal penting: peningkatan itu sebagian besar bukan berasal dari kegagalan prosedur atau perangkatnya. Pasien gagal jantung umumnya membawa 鈥渂eban鈥 penyakit penyerta yang jauh lebih berat yaitu diabetes, hipertensi, gangguan ginjal, gangguan hati, hingga kerentanan tubuh yang lebih besar secara keseluruhan.
Banyak penelitian yang dianalisis mencatat seluruh kematian selama perawatan, bukan hanya yang murni disebabkan oleh tindakan. Karena itu, tingginya angka kematian lebih mencerminkan kondisi pasien yang memang lebih rapuh sejak awal, alih-alih menandakan bahwa prosedurnya berbahaya. Data dari registri EWOLUTION, misalnya, menunjukkan separuh kematian dalam dua tahun setelah LAAC justru disebabkan oleh hal-hal di luar jantung.
Pesan dari penelitian ini mengungkapkan bahwa LAAC tetap merupakan strategi yang sahih dan efektif untuk mencegah stroke pada penderita FA, termasuk mereka yang menyandang gagal jantung. Namun kelompok ini membutuhkan perhatian ekstra: seleksi pasien yang cermat, persiapan dan perawatan prosedur yang optimal, pengaturan obat antitrombotik yang dipersonalisasi sesuai keseimbangan risiko perdarahan dan pembekuan, serta pemantauan jangka panjang yang terstruktur.
Bagi dunia kedokteran, studi ini merupakan sintesis yang komprehensif hingga saat ini mengenai keamanan dan efektivitas LAAC pada populasi yang selama ini kurang terwakili dalam uji klinik. Ia mengisi celah penting dalam bukti ilmiah dan memberi pijakan yang lebih kokoh bagi para klinisi dalam mengambil keputusan.
Oleh: Hendri Susilo, Dosen FK UNAIR 鈥 RS UNAIR
Artikel ini disarikan dari: Yusuf M, Milla C, Chandra LA, Hakim DI, Subali AD, Aditya MR, Mulia RH, Kizzandy K, Susilo H, Wungu CDK, Papageorgiou P. Percutaneous left atrial appendage closure in non-valvular atrial fibrillation with concomitant heart failure: a systematic review and meta-analysis of periprocedural and long-term outcomes. Current Medical Research and Opinion. 2026.





