UNAIR NEWS – Airlangga Executive Education Center () ¶«¾©ÈÈ (UNAIR) kembali menyelenggarakan rangkaian Free Executive Webinar Series. Berlangsung pada Jumat (26/6/2026), webinar tersebut mengusung tajuk Internal Control Over Financial Reporting: Practical ICoFR for Banking Sector. Hadir sebagai narasumber, Atyanta Prasidya, Business Advisory Partner SW Indonesia.
Webinar ini menjadi ruang pembelajaran strategis bagi para profesional, praktisi keuangan, auditor, insan perbankan, regulator, akademisi, serta pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap tata kelola, akuntabilitas, dan integritas pelaporan keuangan. Melalui topik ICoFR, peserta diajak memahami bahwa laporan keuangan yang andal tidak hanya lahir dari proses pencatatan yang baik, tetapi juga dari sistem pengendalian internal yang kuat, terdokumentasi, dan dapat diuji efektivitasnya.
Peran ICoFR
Narasumber menjelaskan bahwa Internal Control Over Financial Reporting (ICoFR) merupakan proses yang dirancang di bawah pengawasan direksi dan manajemen. Tujuannya untuk memberikan keyakinan memadai atas keandalan pelaporan keuangan serta penyusunan laporan keuangan untuk tujuan eksternal sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Dalam konteks industri perbankan, ICoFR memiliki peran yang semakin penting. Bank tidak hanya harus patuh terhadap regulasi, tetapi juga harus mampu memastikan bahwa setiap angka dalam laporan keuangan mencerminkan kondisi yang akurat, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Integritas pelaporan keuangan menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan regulator, investor, nasabah, dan publik.
Urgensi penerapan ICoFR semakin kuat seiring hadirnya POJK Nomor 15 Tahun 2024 tentang Integritas Pelaporan Keuangan Bank. Regulasi ini menegaskan pentingnya kebijakan, prosedur, peran, tanggung jawab, dan mekanisme pengendalian yang memadai untuk mencegah maupun mendeteksi kesalahan serta kecurangan dalam pelaporan keuangan.
Fondasi Tata Kelola
Melalui webinar ini, peserta mendapatkan pemahaman bahwa ICoFR bukan sekadar dokumen kepatuhan yang disusun untuk memenuhi kewajiban regulator. Lebih dari itu, ICoFR merupakan fondasi tata kelola yang membantu bank memperkuat akuntabilitas manajemen, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, serta meminimalkan risiko salah saji material dalam laporan keuangan.
Narasumber juga menekankan pentingnya penerapan ICoFR dengan pendekatan top-down berbasis risiko. Pendekatan ini dimulai dari pemahaman terhadap laporan keuangan secara menyeluruh. Kemudian dilanjutkan dengan identifikasi area yang memiliki risiko salah saji material, hingga penentuan pengendalian utama pada tingkat entitas, proses bisnis, transaksi, dan teknologi informasi.
Beberapa area risiko utama dalam perbankan turut menjadi perhatian penting. Antara lain kredit, CKPN atau Expected Credit Loss, treasury, regulatory reporting, serta IT General Control. Area-area tersebut memiliki tingkat risiko tinggi karena berkaitan langsung dengan keandalan laporan keuangan, judgment manajemen, nilai aset, kepatuhan pelaporan, dan integritas data.
Kerangka Kerja Internasional
Webinar ini juga mengangkat pentingnya penggunaan kerangka kerja internasional seperti COSO 2013, COBIT 2019, dan Three Lines Model. COSO menjadi dasar dalam membangun sistem pengendalian internal. COBIT memperkuat tata kelola teknologi informasi. Sementara Three Lines Model, membantu memperjelas peran unit bisnis, fungsi risiko dan kepatuhan, serta audit internal dalam ekosistem pengendalian.
Salah satu bagian yang menarik perhatian peserta adalah pembahasan mengenai Risk Control Matrix (RCM). RCM menjadi instrumen penting untuk menghubungkan risiko, kontrol, proses bisnis, dan evidence pengujian. Dalam praktiknya, penyusunan RCM membutuhkan ketelitian agar risiko ICoFR tidak tercampur dengan risiko operasional umum. Risiko ICoFR perlu difokuskan pada risiko yang dapat berdampak langsung terhadap potensi salah saji material dalam laporan keuangan.
Dokumentasi dan Evidence
Webinar ini juga menyoroti pentingnya dokumentasi dan evidence dalam setiap proses pengendalian. Tanpa dokumentasi yang memadai, pengendalian yang dilakukan akan sulit diuji, dievaluasi, dan dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, bank perlu membangun proses yang tidak hanya berjalan secara formal, tetapi juga memiliki jejak bukti yang kuat.
Pembahasan juga berkembang pada topik Degree of Deficiency dan penggunaan decision tree dalam menilai kelemahan pengendalian. Meskipun terdapat kerangka penilaian, narasumber menekankan bahwa professional judgement tetap dibutuhkan untuk menentukan apakah suatu defisiensi termasuk control deficiency, significant deficiency, atau material weakness. Karena itu, konsistensi evaluasi, kualitas evidence, dan tindak lanjut atas temuan menjadi aspek yang sangat menentukan.
Melalui kegiatan ini, AEEC UNAIR kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran eksekutif yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan regulasi. Free Executive Webinar Series 2026 diharapkan dapat menjadi ruang berbagi pengetahuan yang tidak hanya memperluas wawasan peserta, tetapi juga mendorong praktik tata kelola yang lebih akuntabel, transparan, dan berintegritas.
Penulis: Fahmi Ilyas, SEI CDMM
Editor: Yulia Rohmawati





