UNAIR NEWS聽– Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran, dan Ilmu Alam () 东京热 (UNAIR) berhasil meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) skema Riset Eksakta dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Christian (KH 23), Kinan (KH 23), Awang (KH 23), Mega (KH 23), dan Sabrina Najla (KH 23) mengusung inovasi Sprayable In Situ Forming Artificial Skin Berbasis Nanochitosan untuk Terapi Suportif Penyembuhan Luka Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Inovasi tersebut hadir sebagai respons terhadap permasalahan wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada ternak di Indonesia yang menyebabkan luka dan kerugian ekonomi bagi peternak. Tim melihat bahwa penanganan luka PMK masih memiliki keterbatasan karena pengobatan konvensional mudah hilang akibat air liur maupun gesekan. Sehingga berisiko menyebabkan infeksi sekunder.
Pelindung Luka Ternak
Christian menjelaskan bahwa ide inovasi ini berangkat dari kondisi lapangan, di mana luka akibat PMK pada ternak sering sulit tertangani karena pengobatan konvensional mudah hilang akibat air liur maupun gesekan. Padahal, PMK merupakan penyakit akibat virus sehingga memerlukan terapi suportif untuk membantu proses penyembuhan luka.
鈥淚novasi ini kami buat bukan untuk menggantikan terapi utama. Tetapi sebagai terapi suportif yang membantu melindungi luka, mengurangi risiko infeksi sekunder, serta mendukung regenerasi jaringan melalui teknologi nanochitosan,鈥 ujar Christian.
Chitospray PMK dirancang dalam bentuk botol spray yang praktis dibawa dan mudah diaplikasikan oleh dokter hewan maupun peternak. Setelah disemprotkan, bahan tersebut harapannya mampu membentuk lapisan pelindung yang bertahan lebih lama serta aman apabila terpapar aktivitas ternak.
鈥淜onsepnya seperti plester, tetapi dalam bentuk spray. Selain menutup luka, material ini juga berpotensi membawa zat aktif seperti nitric oxide agar dapat bermanfaat dalam proses penyembuhan,鈥 tambahnya.
Perjalanan Panjang Menghasilkan Inovasi
Dalam proses pengembangannya, tim menghadapi tantangan dalam menentukan ide yang tepat dan sesuai untuk dikembangkan. Melalui diskusi intensif bersama dosen pembimbing, tim melakukan berbagai evaluasi hingga menemukan konsep Chitospray PMK.
鈥淧encarian ide membutuhkan waktu hingga lima bulan. Ada beberapa gagasan yang belum cocok untuk dikembangkan. Tetapi kami terus melakukan brainstorming sampai menemukan inovasi yang memiliki potensi,鈥 ungkap Christian.
Keberhasilan memperoleh pendanaan PKM menjadi capaian yang membanggakan bagi tim. Mereka berharap inovasi ini dapat terus dikembangkan hingga tahap berikutnya dan memberikan manfaat bagi penanganan PMK.
Melalui Chitospray PMK, tim berharap inovasi ini mampu membantu mengurangi risiko kematian ternak akibat komplikasi luka PMK serta menjadi solusi praktis dalam mendukung kesehatan hewan di Indonesia.
Penulis: Dheva Yudistira Maulana
Editor: Yulia Rohmawati





