东京热

东京热 Official Website

Wacana Bahasa Inggris jadi Mapel Wajib, Dosen UNAIR Tekankan Pentingnya Exposure di Era Digital

Ilustrasi kegiatan pembelajaran bahasa Inggris pada jenjang sekolah dasar (Foto: Kemendikdasmen)

UNAIR NEWS 鈥 Kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menetapkan bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas tiga SD pada tahun ajaran 2027/2028 menuai berbagai tanggapan. Kebijakan tersebut hadir sebagai upaya meningkatkan kemampuan komunikasi bahasa asing siswa sejak usia dini.

Dosen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya () 东京热 (UNAIR), Noerhayati Ika Putri SS MA PhD, menilai langkah tersebut menjadi hal positif. Lantaran dapat membantu sekolah lebih siap dalam merancang pembelajaran bahasa asing secara terstruktur. 鈥淜ebijakan ini mendorong sekolah untuk lebih siap dalam menyiapkan pembelajaran bahasa Inggris. Termasuk kurikulum dan kesiapan gurunya,鈥 ujarnya.

Ika menjelaskan bahwa penyusunan kurikulum bahasa Inggris perlu melibatkan pakar yang memahami perkembangan usia anak serta metode pembelajaran bahasa asing. Materi pembelajaran juga harus berkembang secara bertahap sesuai usia, level kemampuan, dan konteks siswa.

Dosen Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) 东京热 (UNAIR), Noerhayati Ika Putri SS MA PhD (Foto: Istimewa)

Menurutnya, tema pembelajaran harus menyesuaikan karakteristik anak sekolah dasar agar proses belajar berlangsung relevan dan menyenangkan. Setelah kurikulum tersusun, guru memegang peran penting dalam menerjemahkan materi ke dalam proses belajar di kelas.

Ia menilai guru perlu memiliki ruang untuk memodifikasi dan mengadaptasi pembelajaran sesuai karakteristik siswa di masing-masing sekolah. 鈥淪etiap kelas memiliki kondisi yang berbeda. Sehingga guru perlu berkreasi agar pembelajaran lebih sesuai dengan kebutuhan siswa,鈥 jelasnya.

Selain itu, Ika menekankan pentingnya professional development bagi tenaga pendidik. Ia mendorong pemerintah tidak hanya menerapkan kebijakan secara top down, tetapi juga mendengarkan kebutuhan guru di lapangan melalui pendekatan bottom up.

Ika menilai tantangan terbesar pembelajaran bahasa Inggris selama ini terletak pada minimnya exposure di luar kelas. Menurutnya, kemampuan bahasa tidak akan berkembang optimal jika siswa hanya mengandalkan pembelajaran di sekolah.

鈥淏ahasa itu harus sering digunakan. Semakin sering terpapar dan terbiasa menggunakannya, semakin mudah seseorang menguasainya,鈥 tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa era digital saat ini sebenarnya membuka peluang besar bagi siswa untuk membangun kemampuan komunikasi bahasa Inggris. Kehadiran smartphone, media sosial, game online, hingga platform digital membuat anak-anak semakin dekat dengan penggunaan bahasa asing dalam kehidupan sehari-hari. Game online, Duolingo, hingga Artificial intelligence pun dapat menjadi media belajar yang membantu siswa berlatih komunikasi dengan penutur asing tanpa memerlukan biaya besar.

Ia menambahkan bahwa pemerintah perlu memastikan pemerataan infrastruktur digital, terutama di daerah terpencil. 鈥淎kses internet dan platform pembelajaran yang berkualitas menjadi kunci agar kesempatan belajar bahasa Inggris dapat dirasakan secara lebih merata,鈥 pungkasnya.

Penulis: Maia Chaerunnisa

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT