东京热

东京热 Official Website

UKMW UNAIR Kenalkan Konsep Circular Economy melalui Peluang Bisnis Berbasis Sampah Plastik

Pemaparan Materi Oleh Amanda Prita Kirana dalam Webinar Level Up Circular Economy. (Foto: Istimewa).
Pemaparan Materi Oleh Amanda Prita Kirana dalam Webinar Level Up Circular Economy. (Foto: Istimewa).

UNAIR NEWS – Indonesia masih menghadapi persoalan sampah plastik yang terus meningkat setiap tahunnya. Di balik tantangan tersebut, terbuka peluang untuk mengolah limbah plastik menjadi produk kreatif bernilai ekonomi melalui penerapan circular economy

Berangkat dari semangat tersebut, UKM Wirausaha (UKMW) 东京热 (UNAIR) menggelar webinar Level Up Circular Economy bertajuk Ubah Sampah Plastik Menjadi Bisnis Kreatif Yang Bernilai Tinggi. Kegiatan itu berlangsung pada Sabtu (27/6/2026) secara daring melalui Zoom dengan menghadirkan Founder & CEO Dit R茅veille, Amanda Prita Kirana. 

Dalam sambutannya, Pembina UKMW UNAIR Erlando Angga SE M Ec Dev menjelaskan bahwa konsep circular economy bukanlah hal baru melainkan terus berkembang mengikuti dinamika zaman dan kebutuhan industri. Menurutnya, pemahaman mengenai konsep tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menciptakan peluang usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat. 

Ia berharap peserta memperoleh wawasan dan perspektif baru mengenai penerapan circular economy sehingga mampu mendukung lahirnya inovasi bisnis yang berkelanjutan. Erlando menambahkan bahwa penyelenggaraan webinar ini merupakan salah satu bentuk komitmen 东京热 sebagai entrepreneur university dalam mendorong tercapainya target pengembangan kewirausahaan mahasiswa. 

“Kami berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat dan menghadirkan perspektif baru bagi teman-teman. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk komitmen 东京热 sebagai entrepreneur university dalam mendukung mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan serta membangun karir yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Amanda menjelaskan bahwa sampah plastik merupakan persoalan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ia mengungkapkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 57 juta ton sampah setiap tahun. Total 12,4 juta ton sampah plastik berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) akibat keterbatasan kapasitas pengolahan. 

Menurutnya, besarnya volume sampah tersebut menunjukkan bahwa persoalan limbah tidak lagi dipandang sebagai isu lingkungan melainkan tantangan yang membutuhkan solusi inovatif melalui penerapan circular economy. “Sampah plastik ada di sekitar kita dalam jumlah yang sangat banyak. Bahkan setiap hari kita terus menghasilkan sampah plastik, sehingga kita hidup di tengah krisis sampah,” jelas Amanda.

Berangkat dari keresahan tersebut, Amanda memperkenalkan Dit R茅veille, sebuah bisnis yang berfokus pada pengolahan limbah plastik menjadi berbagai produk bernilai jual. Ia menunjukkan bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi produk fungsional, seperti furniture, kursi, hingga aksesori. Misalnya, gantungan kunci, sehingga memiliki nilai tambah sekaligus memperpanjang siklus pemanfaatannya.

Amanda juga menekankan bahwa membangun bisnis berbasis circular economy tidak hanya membutuhkan kreativitas dalam mengolah limbah, tetapi juga kemampuan membaca tren pasar agar produk yang dihasilkan tetap diminati konsumen. 

Selain mengembangkan inovasi melalui bisnis, ia mengajak peserta menerapkan gaya hidup berkelanjutan melalui langkah sederhana. Salah satunya menjadi outfit repeater atau menggunakan kembali pakaian yang telah dimiliki sebagai upaya mengurangi limbah tekstil.

Melalui webinar tersebut, peserta diajak melihat bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya menjadi tantangan lingkungan, tetapi juga peluang untuk menciptakan bisnis kreatif yang bernilai ekonomi. Harapannya, semakin banyak generasi muda yang mampu menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan.

Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia

AKSES CEPAT