UNAIRNEWS – Jika menilik lebih dalam, inspirasi dari Kodomo Shokudo di Kyoto sering kali disalahpahami sebagai gerakan yang berfokus pada pemberian makanan bergizi bagi anak-anak kurang mampu. Padahal, esensi utamanya jauh lebih luas dari itu. Dosen FKM UNAIR, Dr Ernawaty drg MKes mengatakan Kodomo Shokudo atau kantin anak muncul sebagai respons terhadap fenomena koshoku (makan sendirian) yang marak di Jepang akibat kesibukan orang tua dan perubahan struktur keluarga.
鈥淭ujuan pendiriannya adalah menciptakan ruang aman (ibasho) di mana anak-anak dapat berkumpul, bersosialisasi, dan menikmati kebersamaan yang mungkin tidak mereka dapatkan di rumah,鈥 ungkapnya.
Menariknya, Kodomo Shokudo di Jepang tidak terbatas hanya untuk anak-anak. Banyak tempat yang justru membuka diri bagi orang tua, warga lanjut usia, dan masyarakat umum lintas generasi.
Erna mengatakan bahwa gerakan ini berfungsi sebagai pusat pertukaran antargenerasi dan pembangunan komunitas (community building). Bahkan, dalam praktiknya, tujuan Kodomo Shokudo sangat beragam. Mulai dari mengatasi kelaparan, memecah kesendirian saat makan, edukasi pangan, hingga sekadar menjadi tempat berkumpulnya warga. Dengan kata lain, Kodomo Shokudo adalah tentang menciptakan koneksi, bukan sekadar mengisi perut.
鈥淪emangat inilah yang coba dihidupkan kembali di Balai RW 10 Tambakrejo,鈥 tuturnya.
Adaptasi Lokal: Dari Kantin Anak Menjadi Wadah Pemberdayaan Remaja
Dosen FK itu mengungkapkan bahwa kegiatan malam itu bukan sekadar ajang memasak dan makan bersama, melainkan upaya sadar untuk menciptakan ruang sosial bagi remaja. Di sinilah letak perbedaan mendasar dengan Kodomo Shokudo di Jepang.
Di Kyoto, Kodomo Shokudo umumnya menyasar anak-anak usia dini hingga remaja, dengan keterlibatan orang tua dan warga senior sebagai peserta atau relawan. Kegiatan di Surabaya, di sisi lain, secara spesifik difokuskan pada pemberdayaan remaja usia SMP ke atas. Mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat pasif, tetapi ditempatkan sebagai subjek utama yang aktif dalam proses memasak, berkreasi, dan mengambil keputusan.
鈥淧endekatan ini sengaja dipilih untuk menanamkan kemandirian, kerja sama tim, dan kepedulian sosial sejak dini鈥攏ilai-nilai yang diharapkan dapat mereka bawa pulang dan sebarkan di lingkungan masing-masing,鈥 paparnya.
Menurutnya, kegiatan malam hari merupakan intervensi sosial yang efektif. Ia menjadi benteng pertahanan terhadap risiko pergaulan negatif dan tekanan psikososial yang kerap menerpa anak-anak di perkotaan. Kehadiran Wahana Visi Indonesia (WVI) sebagai lembaga pendamping di wilayah Tambakrejo turut memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan dalam menciptakan lingkungan yang sehat secara fisik dan mental bagi generasi muda.
Kegiatan itu membuktikan bahwa semangat Kodomo Shokudo dapat diadaptasi menjadi gerakan pemberdayaan remaja yang kuat, sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik generasi muda Indonesia. Pada akhirnya, yang paling berharga dari malam itu bukanlah makanan yang disantap, melainkan kebersamaan yang tercipta dan senyuman yang terukir di wajah setiap peserta.
Penulis: Khefti Al Mawalia





