东京热

东京热 Official Website

Redefinisi Masjid Sebagai Pusat Komunitas Di Kota Kompak: Wawasan Dari Masjid Vertikal Di Kuala Lumpur

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Perkembangan urbanisasi yang sangat pesat di berbagai kota besar dunia telah mendorong meningkatnya kepadatan penduduk dan keterbatasan lahan perkotaan. Kondisi tersebut memunculkan tantangan baru dalam penyediaan fasilitas publik, termasuk fasilitas keagamaan yang mampu memenuhi kebutuhan spiritual sekaligus sosial masyarakat perkotaan. Di Kuala Lumpur, Malaysia, keterbatasan ruang telah mendorong transformasi desain masjid melalui pendekatan arsitektur vertikal yang memungkinkan optimalisasi fungsi bangunan tanpa mengurangi nilai sakral ruang ibadah. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa masjid tidak lagi dipandang hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang menjadi pusat pelayanan masyarakat yang mampu mengintegrasikan fungsi pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, dan aktivitas komunitas dalam satu kawasan bangunan (Asif et al., 2019; Utaberta et al., 2022). Perubahan paradigma tersebut selaras dengan konsep pembangunan kota kompak (compact city), yaitu pembangunan perkotaan yang mengutamakan efisiensi pemanfaatan lahan, integrasi fungsi bangunan, aksesibilitas, serta keberlanjutan lingkungan. Dalam konteks ini, masjid berpotensi menjadi institusi publik yang mampu memperkuat kohesi sosial melalui penyediaan ruang bersama yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana masjid-masjid vertikal di Kuala Lumpur beradaptasi terhadap keterbatasan ruang perkotaan melalui inovasi desain arsitektur, pemanfaatan ruang multifungsi, tata kelola partisipatif, serta penerapan prinsip keberlanjutan untuk mendukung pembangunan kota yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kasus pada beberapa masjid vertikal di Kuala Lumpur. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, analisis dokumen arsitektur, serta wawancara mendalam dengan pengelola masjid, arsitek, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Analisis dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi karakteristik desain, fungsi sosial, sistem pengelolaan, serta tantangan implementasi konsep masjid komunitas di kawasan perkotaan padat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep masjid vertikal mampu mengoptimalkan keterbatasan lahan melalui pembagian fungsi secara bertingkat (vertical zoning), sehingga ruang ibadah tetap terjaga kesakralannya sekaligus menyediakan fasilitas pendidikan, layanan kesehatan, kegiatan sosial, ruang pertemuan, serta pelayanan masyarakat lainnya. Selain itu, penerapan prinsip desain inklusif seperti aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, pengaturan ruang yang ramah gender, dan keterlibatan masyarakat dalam proses pengelolaan semakin memperkuat fungsi masjid sebagai pusat komunitas perkotaan. Namun demikian, implementasi konsep tersebut masih menghadapi tantangan berupa regulasi tata ruang yang belum adaptif, keterbatasan pendanaan, serta resistensi terhadap perubahan fungsi masjid yang lebih luas. Sebagai kontribusi ilmiah, penelitian ini menawarkan kerangka perencanaan dan desain masjid masa depan yang berlandaskan enam prinsip utama, yaitu zonasi vertikal antara fungsi ibadah dan fungsi sosial, integrasi layanan masyarakat, penerapan desain universal, keberlanjutan lingkungan, partisipasi masyarakat dalam tata kelola, serta keselarasan dengan kebijakan pembangunan kota. Kerangka tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi perancang, pemerintah daerah, dan pengelola masjid dalam mengembangkan institusi keagamaan yang tidak hanya memenuhi fungsi spiritual, tetapi juga berperan aktif dalam memperkuat ketahanan sosial, identitas perkotaan, dan pembangunan berkelanjutan.

Penulis : Amaliyah, Nangkula Utaberta, Sayyidati Khalishah Azzahra, Rindah Febriana Suryawati, Upik Dyah Eka Noviyanti, Moh Darus Salam, Celya Intan Kharisma Putri, Arman Sarram, Doni Fireza, dan Aji Sofanudin

Tautan Artikel di Jurnal:   

AKSES CEPAT