KABAR FIKKIA – Demam Berdarah Dengue (DBD) sering dikaitkan dengan musim hujan. Namun, dari sudut pandang epidemiologi, penularan dengue tidak hanya dipengaruhi oleh curah hujan. Penyakit ini memiliki pola yang lebih kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, biologis, serta sosial.
Dosen epidemiologi Kesehatan Masyarakat UNAIR, Ayik Mirayanti Mandagi, S.KM., M.Kes., menjelaskan bahwa dengue merupakan penyakit endemis yang masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia. Meskipun kasus sering meningkat pada musim hujan, penularan dapat terjadi sepanjang tahun apabila kondisi lingkungan mendukung perkembangan nyamuk penular.

Penularan Dengue Terjadi Sepanjang Tahun
Menurut Ayik, peningkatan kasus DBD pada musim hujan berkaitan dengan bertambahnya genangan air yang menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kondisi tersebut memang meningkatkan risiko penularan. Namun, keberadaan habitat nyamuk tidak hanya ditemukan saat musim hujan.
“Di mana ada habitat nyamuk yang banyak, maka di situ penularan juga akan semakin banyak. Habitat nyamuk tidak harus menunggu musim hujan,” jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa pola dengue di Indonesia bersifat endemis dengan fluktuasi musiman. Selain faktor cuaca, peningkatan kasus juga dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, mobilitas manusia, perubahan serotipe virus, serta tingkat kekebalan masyarakat terhadap infeksi dengue.
Dalam kajian epidemiologi, pola musiman tetap memiliki peran penting untuk memprediksi peningkatan kasus. Secara umum, kasus DBD mulai meningkat pada awal hingga pertengahan musim hujan, yaitu antara November hingga April. Namun, lonjakan kasus tidak terjadi secara langsung ketika hujan turun.
Menurut Ayik, terdapat jeda waktu atau time lag sekitar satu hingga dua bulan sebelum peningkatan kasus terlihat. Jeda tersebut terjadi karena nyamuk membutuhkan waktu untuk berkembang dari telur menjadi dewasa. Selain itu, virus dengue juga memerlukan waktu untuk bereplikasi sebelum dapat ditularkan kepada manusia lain.
Perubahan Iklim Membuat Pola Dengue Semakin Kompleks
Ayik menambahkan bahwa perubahan iklim turut memengaruhi pola epidemiologi dengue. Perubahan musim yang tidak menentu, hujan ekstrem di luar musim, dan peningkatan suhu lingkungan menciptakan kondisi yang lebih mendukung perkembangan nyamuk.
“Perubahan iklim menyebabkan habitat nyamuk semakin banyak dan aktivitas nyamuk menjadi lebih luas,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat kasus dengue dapat muncul pada periode yang sebelumnya dianggap memiliki risiko rendah. Akibatnya, pola penularan menjadi semakin sulit diprediksi hanya berdasarkan musim.
Melihat kompleksitas faktor yang memengaruhi penularan dengue, Ayik menegaskan bahwa pengendalian DBD harus dilakukan secara berkelanjutan. Upaya tersebut mencakup penguatan surveilans, pengendalian vektor, serta pemberdayaan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan atau pemerintah. Partisipasi aktif masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah peningkatan kasus sejak dini.
“Jangan menunggu ada anggota keluarga atau tetangga yang sakit baru mulai peduli. Pengendalian DBD adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya.
Penulis: Annisa Dwi Cahyani
Editor: Avicena C. Nisa




