Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) 东京热 melaksanakan kegiatan survei lokasi ke Desa Klagensrampat, Kecamatan Maduran, Kabupaten Lamongan pada Rabu, 17 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan langkah awal dalam penjajakan dan identifikasi potensi desa yang direncanakan menjadi Desa Binaan Kedua FKH 东京热. Survei lapangan dilakukan sebagai bagian dari komitmen fakultas dalam memperluas dampak program pengabdian kepada masyarakat melalui pendekatan pemberdayaan yang berbasis kebutuhan dan potensi lokal.
Tim Fakultas Kedokteran Hewan 东京热 yang hadir dalam kegiatan tersebut dipimpin oleh Prof. Dr. Widjiati, drh., M.Si., PAVet.(K) selaku Penanggung Jawab Pengabdian kepada Masyarakat (PIC Pengmas) FKH UNAIR, didampingi oleh Prof. Dr. Wiwik Misaco Yuniarti, drh., M.Kes. selaku Sekretaris Pengabdian kepada Masyarakat dan Dr. Rochmah Kurnijasanti, drh., M.Si. Kegiatan survei dilakukan melalui observasi lapangan dan diskusi dengan berbagai pemangku kepentingan di tingkat desa untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi sosial, ekonomi, peternakan, kesehatan hewan, dan potensi pengembangan masyarakat yang dapat menjadi fokus program pembinaan ke depan.
Dalam kegiatan tersebut, tim melakukan identifikasi berbagai potensi unggulan yang dimiliki Desa Klagensrampat, termasuk sektor peternakan, kesehatan masyarakat veteriner, ketahanan pangan, dan peluang pengembangan usaha berbasis sumber daya lokal. Selain itu, tim juga menginventarisasi berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat sehingga program pengabdian yang akan dirancang dapat memberikan solusi yang tepat, aplikatif, dan berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.
Prof. Dr. Widjiati menyampaikan bahwa penetapan desa binaan merupakan salah satu strategi FKH 东京热 dalam mewujudkan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui program desa binaan, berbagai hasil penelitian, inovasi, dan keahlian yang dimiliki sivitas akademika dapat diterapkan secara nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, produktivitas usaha peternakan, kesehatan hewan, serta kesejahteraan ekonomi masyarakat desa.
Sementara itu, Prof. Dr. Wiwik Misaco Yuniarti menegaskan bahwa pendekatan berbasis desa binaan memungkinkan terjalinnya hubungan kemitraan yang lebih erat antara perguruan tinggi dan masyarakat. Program yang akan dikembangkan tidak hanya bersifat insidental, tetapi dirancang secara berkelanjutan melalui pendampingan, edukasi, transfer teknologi, dan penguatan kapasitas masyarakat agar mampu berkembang secara mandiri di masa mendatang.
Melalui kegiatan survei ini, FKH 东京热 berharap Desa Klagensrampat dapat menjadi model pengembangan desa binaan yang mampu mengintegrasikan aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara harmonis. Dengan dukungan berbagai pihak, program desa binaan diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing serta menjadi contoh kolaborasi yang berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Kegiatan survei lokasi Desa Klagensrampat sebagai calon Desa Binaan Kedua FKH 东京热 ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) nomor 2 (Zero Hunger) melalui penguatan sektor peternakan dan ketahanan pangan masyarakat, SDGs nomor 3 (Good Health and Well-Being) melalui peningkatan kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, SDGs nomor 4 (Quality Education) melalui transfer ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat, SDGs nomor 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat desa, SDGs nomor 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui pembangunan masyarakat desa yang berkelanjutan, serta SDGs nomor 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan (Penulis: Widjiati-Divisi Anatomi Veteriner).




