Implan gigi merupakan pilihan paling efektif untuk menggantikan gigi yang hilang guna mengatasi masalah kesehatan global yang dapat sangat mengurangi kualitas hidup seseorang. Namun, bahan utama yang digunakan, yaitu titanium dan paduannya, masih memiliki beberapa keterbatasan. Ikatan yang buruk dengan tulang dan jaringan gusi sering dilaporkan pada implan titanium yang diproduksi tanpa modifikasi permukaan yang tepat. Perlekatan yang tidak memadai ini dapat melemahkan stabilitas implan dan meningkatkan kemungkinan infeksi dan peradangan yaitu periimplan, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan implan. Selain itu, implan logam dikaitkan dengan keterbatasan seperti hipersensitivitas, berkurangnya ikatan dengan sel tulang, dan kompromi estetika karena potensi visibilitas logam melalui jaringan yang tipis. Akibatnya, keterbatasan ini telah memotivasi pencarian bahan hayati alternatif dengan mengoptimalkan modifikasi permukaan untuk memastikan keberhasilan klinis.
Penelitian pada campuran Polymethyl methacrylate (PMMA) dengan hydroxyapatite (HA) ini adalah untuk melakukan karakteristik dan evaluasi dari permukaan implan yang terbuat dari campuran bahan tersebut. Eksperimen in vitro dilakukan dengan menggunakan empat jenis implan sekrup yang dibuat dari bahan berbeda: 1. PMMA—HA, 2. PMMA yang dilapisi HA (PMMA—HAc), 3. PMMA, dan 4. Implan titanium (SLA-Ti). Beberapa prosedur karakterisasi dilakukan dalam penelitian ini. Difraksi sinar-X diterapkan untuk memverifikasi penggabungan HA ke dalam matriks PMMA dengan menganalisis struktur kristal dan komposisi fasa. Mikroskop atomic force digunakan untuk mengukur kekasaran permukaan. Mikroskop scanning electron (SEM) digunakan untuk memvisualisasikan ukuran pori secara terperinci. Sudut kontak diukur untuk mengevaluasi wettability bahan. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa : SLA-Ti memiliki nilai kristalinitas tertinggi (90 %). Sebaliknya, sampel berbasis polimer menunjukkan sifat semikristalin, dengan nilai 22 % untuk PMMA—HAc, 16 % untuk PMMA—HA, dan 12 % untuk PMMA. SLA-Ti juga menunjukkan kerataan permukaan terbesar (2,020 nm), diikuti oleh PMMA—HAc (220 nm), PMMA—HA (128 nm), dan PMMA (108 nm), yang memiliki permukaan yang jauh lebih halus. PMMA—HAc memiliki diameter pori rata-rata terbesar (141,07 ± 217,56 μm), dengan pori yang semakin kecil diamati pada PMMA—HA (30,86 ± 24,13 μm), PMMA (18,30 ± 9,58 μm), dan SLA-Ti (3,97 ± 1,05 μm). Analisis kelembaban menunjukkan bahwa PMMA—HA menunjukkan perilaku hidrofilik tertinggi, dengan sudut kontak terendah (47,28◦). Bahan-bahan lainnya menunjukkan hidrofilisitas yang lebih rendah, dengan sudut kontak 74,53◦ untuk PMMA—HAc, 75,70◦ untuk PMMA, dan 84,36◦ untuk Ti. Dari hasil evaluasi penelitian karakteristik permukaan implan gigi yang terbuat dari PMMA—HA, PMMA—HAc, PMMA, dan SLA-Ti menunjukkan bahwa terdapat potensi bahan yang menguntungkan bagi osseointegrasi. Dalam penelitian ini, komposit PMMA—HA menunjukkan sifat permukaan in vitro yang lebih baik dibandingkan dengan sampel yang dilapisi PMMA—HAc. Secara khusus, komposit PMMA—HA menunjukkan struktur semi-kristalin, hidrofilisitas yang lebih baik, dan rentang mikroporositas yang secara teoritis mungkin cocok untuk pelekatan sel awal, sedangkan sampel PMMA—HAc dibatasi oleh makroporositas yang tidak teratur dan sifat hidrofobik. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya harus mencakup pengujian mekanis yang komprehensif, analisis spektroskopi dispersi energi, dan uji sitotoksisitas untuk lebih memvalidasi kinerja, daya tahan jangka panjang, dan biokompatibilitas bahan implan gigi PMMA—HA.
Penulis: Prof. Dr. Rini Devijanti Ridwan, drg., M.Kes.
Detail tulisan ini dapat dilihat di:





