东京热

东京热 Official Website

Perbedaan Ekspresi Kolagen III dan Matrix Metalloproteinase (MMP)-9 pada Elongasio Serviks, Elongasio Serviks dengan Prolaps Organ Panggul, dan Kondisi Kombinasi

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Prolaps organ panggul (POP) merupakan kondisi ketika organ-organ panggul mengalami penurunan akibat melemahnya struktur penyangga panggul, sehingga uterus atau serviks dapat mengalami penonjolan ke arah atau melalui introitus vagina. Kondisi ini cukup sering ditemukan, terutama pada perempuan dengan berbagai faktor yang dapat memengaruhi kekuatan jaringan penyangga panggul. Namun, tidak semua perempuan dengan penurunan uterus mengalami perubahan anatomi yang sama. Pada sebagian kasus, serviks mengalami pemanjangan atau elongasi, sementara struktur penyangga uterus masih relatif baik. Kondisi ini dikenal sebagai elongasio serviks.

Elongasio serviks merupakan kondisi berupa pemanjangan atau hipertrofi serviks ke arah introitus vagina. Kondisi ini dapat melibatkan bagian supravaginal maupun vaginal dari serviks. Elongasio serviks dapat terjadi sebagai kondisi tersendiri maupun bersamaan dengan POP. Meskipun demikian, mekanisme terjadinya elongasio serviks hingga saat ini masih belum sepenuhnya dipahami. Salah satu kemungkinan yang berperan adalah adanya perubahan pada komposisi dan proses remodeling jaringan ikat serviks serta jaringan penyangga organ panggul.

Kolagen merupakan salah satu komponen utama jaringan ikat yang berperan dalam mempertahankan kekuatan, elastisitas, dan integritas struktur jaringan. Salah satu jenis kolagen yang penting adalah kolagen III, yang banyak ditemukan pada jaringan yang mengalami proses regenerasi dan remodeling. Perubahan komposisi kolagen dapat memengaruhi sifat mekanik serviks dan jaringan penyangga panggul. Oleh karena itu, perubahan ekspresi kolagen III diduga dapat berhubungan dengan perubahan struktur jaringan pada elongasio serviks maupun POP.

Selain kolagen, proses remodeling jaringan juga dipengaruhi oleh kelompok enzim yang disebut matrix metalloproteinase (MMP). MMP berperan dalam degradasi dan reorganisasi matriks ekstraseluler. Salah satu anggota kelompok ini adalah MMP-9 yang berperan dalam pemecahan berbagai komponen matriks ekstraseluler dan proses remodeling jaringan. Ketidakseimbangan antara degradasi dan pembentukan kembali matriks ekstraseluler dapat menyebabkan perubahan kekuatan dan struktur jaringan ikat panggul.

Sebagian besar penelitian sebelumnya lebih banyak membahas perubahan jaringan ikat pada perempuan dengan POP, sedangkan penelitian mengenai mekanisme molekuler pada elongasio serviks masih terbatas. Oleh karena itu, pemeriksaan ekspresi kolagen III dan MMP-9 pada jaringan serviks dapat memberikan gambaran tambahan mengenai proses biologis yang terjadi pada masing-masing kondisi.

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi ekspresi kolagen III dan MMP-9 pada jaringan serviks perempuan dengan elongasio serviks, elongasio serviks yang disertai POP, POP, serta perempuan tanpa elongasio serviks maupun POP sebagai kelompok kontrol. Perbandingan tersebut dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan komponen matriks ekstraseluler dan proses remodeling jaringan pada berbagai kondisi tersebut.

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna pada ekspresi MMP-9 di antara keempat kelompok. Ekspresi MMP-9 berbeda antara kelompok elongasio serviks, elongasio serviks dengan POP, POP, dan kelompok kontrol. Proporsi ekspresi MMP-9 negatif paling banyak ditemukan pada kelompok POP. Sementara itu, ekspresi MMP-9 rendah ditemukan pada kelompok elongasio serviks, elongasio serviks dengan POP, maupun kelompok kontrol. Ekspresi MMP-9 sedang paling banyak ditemukan pada kelompok kontrol, kemudian kelompok elongasio serviks dan elongasio serviks dengan POP.

Perbedaan bermakna pada ekspresi MMP-9 menunjukkan bahwa proses remodeling matriks ekstraseluler dapat berbeda pada berbagai kondisi serviks dan organ panggul. Namun, hasil penelitian tidak menunjukkan pola peningkatan atau penurunan MMP-9 yang konsisten dari kondisi normal menuju elongasio serviks dan kemudian POP. Hal ini menunjukkan bahwa ekspresi MMP-9 kemungkinan dipengaruhi oleh berbagai proses biologis dan tidak hanya oleh keberadaan elongasio serviks atau prolaps organ panggul.

MMP-9 berperan dalam degradasi dan remodeling matriks ekstraseluler. Perubahan ekspresinya dapat mencerminkan adanya perubahan dalam proses pergantian dan reorganisasi jaringan. Pada POP, tekanan mekanis yang berlangsung terus-menerus serta perubahan struktur jaringan penyangga dapat memicu proses remodeling. Namun, tingkat ekspresi MMP-9 dapat berbeda bergantung pada karakteristik jaringan, tingkat perubahan patologis, serta keseimbangan antara proses degradasi dan pembentukan matriks ekstraseluler.

Tidak ditemukannya pola ekspresi MMP-9 yang konsisten juga menjadi temuan penting. Meskipun terdapat perbedaan bermakna antar kelompok, hasil tersebut belum dapat menunjukkan bahwa MMP-9 secara spesifik dapat membedakan elongasio serviks, POP, atau kondisi kombinasi. Oleh karena itu, diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah sampel yang lebih besar dan pemeriksaan ekspresi MMP-9 secara kuantitatif untuk mengetahui apakah MMP-9 dapat digunakan sebagai biomarker yang lebih spesifik.

Berbeda dengan MMP-9, ekspresi kolagen III tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna di antara kelompok elongasio serviks, elongasio serviks dengan POP, POP, dan kelompok kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa perubahan ekspresi kolagen III saja kemungkinan belum dapat menjelaskan perbedaan anatomi dan klinis pada berbagai kondisi tersebut.

Meskipun demikian, tidak adanya perbedaan ekspresi kolagen III tidak berarti bahwa kolagen III tidak memiliki peran dalam proses elongasio serviks maupun POP. Fungsi kolagen tidak hanya ditentukan oleh jumlah atau ekspresinya, tetapi juga oleh susunan serabut, organisasi jaringan, ikatan silang, interaksi dengan jenis kolagen lainnya, serta keseimbangan antara sintesis dan degradasinya. Dengan demikian, pemeriksaan terhadap satu jenis kolagen saja belum dapat menggambarkan keseluruhan perubahan struktur jaringan ikat serviks.

Temuan yang berbeda antara kolagen III dan MMP-9 menjadi salah satu hasil penting penelitian ini. Ekspresi kolagen III relatif tidak berbeda antar kelompok, sedangkan ekspresi MMP-9 menunjukkan perbedaan bermakna. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa proses remodeling matriks ekstraseluler lebih berhubungan dengan perbedaan kondisi klinis dibandingkan dengan jumlah kolagen III semata. MMP-9 dapat mencerminkan proses aktif dalam pergantian dan remodeling jaringan, sedangkan ekspresi kolagen III lebih menggambarkan salah satu komponen struktural jaringan ikat.

Secara klinis, hasil penelitian ini memberikan gambaran awal bahwa MMP-9 berpotensi menjadi salah satu parameter biologis dalam memahami elongasio serviks dan POP. Namun, hasil tersebut belum dapat digunakan untuk menetapkan MMP-9 sebagai biomarker diagnostik. Penelitian ini belum menentukan nilai ambang ekspresi MMP-9 yang dapat membedakan masing-masing kondisi dan belum dapat menjelaskan apakah peningkatan atau penurunan MMP-9 secara langsung berkaitan dengan perkembangan penyakit.

Penelitian selanjutnya perlu dilakukan dengan metode pemeriksaan molekuler yang lebih kuantitatif dan jumlah sampel yang lebih besar. Pemeriksaan juga dapat diperluas dengan menilai komponen matriks ekstraseluler lainnya, seperti kolagen tipe I, elastin, tissue inhibitors of metalloproteinases (TIMP), serta kelompok MMP lainnya. Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perubahan jaringan ikat yang mendasari elongasio serviks dan POP.

Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan ekspresi MMP-9 pada perempuan dengan elongasio serviks, elongasio serviks yang disertai POP, POP, dan kondisi kontrol, sedangkan ekspresi kolagen III tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan adanya peran proses remodeling matriks ekstraseluler, khususnya yang berkaitan dengan MMP-9, dalam karakteristik jaringan pada elongasio serviks dan POP. Namun, karena pola ekspresinya belum menunjukkan kecenderungan yang konsisten, MMP-9 belum dapat digunakan sebagai penanda tunggal. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menentukan makna klinis MMP-9 dan potensinya dalam mendukung diagnosis, prediksi perkembangan penyakit, maupun pengembangan terapi pada elongasio serviks dan prolaps organ panggul

Penulis:  Kurniawati E.M., Widyasari A., Rahmawati N.A., Hardianto G., Paraton H., Hadi T.H.S., Asmadhynegara A.Z.N., Putri N.S., Rafifah N.F.

Detail Artikel: Differences in Collagen III and Matrix Metalloproteinase (MMP) 9 Expression Between Cervical Elongation, Cervical Elongation with Pelvic Organ Prolapse, and Combined Conditions. JOGCR. 2026; 11(8): 743-751  https://www.scopus.com/pages/publications/105043749093?origin=resultslist  

AKSES CEPAT