Apoteker komunitas memiliki peran strategis sebagai tenaga kesehatan yang paling mudah diakses masyarakat dalam memberikan edukasi dan konsultasi terkait pengobatan mandiri (swamedikasi) untuk penyakit ringan, termasuk flu biasa dan influenza. Melalui interaksi langsung dengan pasien, apoteker dapat membantu memastikan pemilihan obat yang tepat, penggunaan yang rasional, serta mencegah terjadinya kesalahan pengobatan. Meskipun demikian, berbagai faktor perilaku yang memengaruhi praktik konsultasi apoteker dalam pelayanan swamedikasi masih belum banyak diteliti dan dipahami secara mendalam, khususnya di Indonesia. Padahal, pemahaman terhadap faktor-faktor tersebut penting untuk mendukung pengembangan intervensi yang dapat meningkatkan kualitas layanan kefarmasian dan keselamatan pasien
Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas apoteker komunitas memiliki tingkat pengetahuan pada kategori sedang terkait konsultasi pengobatan mandiri untuk flu biasa dan influenza. Temuan ini mengindikasikan bahwa apoteker telah memiliki dasar pengetahuan yang memadai. Di sisi lain, para apoteker menunjukkan sikap yang sangat positif terhadap peran mereka dalam memberikan konsultasi kepada pasien. Tingginya skor sikap menggambarkan adanya kesadaran profesional yang kuat mengenai pentingnya pelayanan swamedikasi yang aman, efektif, dan berorientasi pada pasien. Sikap positif ini menjadi modal penting dalam mendorong kualitas pelayanan kefarmasian di tingkat komunitas.
Dari aspek praktik, sebagian besar apoteker melaporkan telah menerapkan praktik konsultasi yang baik. Namun demikian, apoteker masih terbebani dengan keterbatasan waktu, beban kerja, variasi karakteristik pasien, maupun belum tersedianya pedoman pelayanan yang terstandar dan mudah diterapkan dalam praktik sehari-hari.
Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa sikap merupakan faktor yang paling kuat memengaruhi perilaku praktik apoteker. Sebaliknya, tingkat pengetahuan tidak terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap praktik konsultasi yang dilakukan. Temuan ini menunjukkan bahwa memiliki pengetahuan yang baik saja belum tentu menjamin penerapannya dalam pelayanan. Motivasi, keyakinan profesional, serta komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik ternyata berperan lebih besar dalam membentuk perilaku apoteker di lapangan.
Jika ditinjau menggunakan kerangka kerja COM-B (Capability, Opportunity, Motivation, Behaviour), hasil penelitian ini menunjukkan bahwa apoteker komunitas di Indonesia memiliki kemampuan pengetahuan yang cukup, sikap yang sangat positif, serta praktik konsultasi yang secara umum baik. Sikap yang mencerminkan aspek motivasi muncul sebagai penentu utama perilaku konsultasi. Oleh karena itu, upaya peningkatan kualitas layanan swamedikasi tidak hanya perlu berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pada penguatan motivasi profesional, penyusunan pedoman konsultasi yang lebih terstruktur, serta pemanfaatan teknologi seperti sistem pendukung keputusan digital. Langkah-langkah tersebut berpotensi memperkuat peran apoteker dalam mendukung penggunaan obat yang rasional dan meningkatkan keselamatan pasien dalam praktik pengobatan mandiri di Indonesia.
Penulis: Ema Pristi Yunita, Abdul Rahem, Novanto Yudistira, Riza Alfian, Suharjono





