Perkembangan media sosial mendorong munculnya tren viral food yang meningkatkan perilaku pembelian sesuatu secara spontan yang lebih dipengaruhi emosi daripada pertimbangan kebutuhan (impulsive buying) pada Generasi Z. Tidak sedikit anak muda yang rela mengantri atau membeli makanan yang sedang viral karena takut dianggap ketinggalan tren. Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FoMO), yaitu rasa takut melewatkan pengalaman yang dianggap menarik bagi diri sendiri (Personal FoMO) maupun rasa takut tertinggal dari lingkungan sosial (Social FoMO). Dalam perspektif Islam, religiusitas seseorang yang tercermin dari penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari seharusnya dapat mengendalikan perilaku konsumtif melalui pengendalian diri. Oleh karena itu, penelitian ini menguji pengaruh Personal FoMO dan Social FoMO terhadap impulsive buying makanan viral serta peran religiusitas Islam sebagai variabel moderasi pada Generasi Z Muslim di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode PLS-SEM (Partial Least Squares Structural Equation Modeling). Sampel penelitian terdiri dari 275 responden Generasi Z Muslim Indonesia yang aktif menggunakan media sosial dan pernah membeli makanan viral.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa FoMO menjadi faktor utama yang mendorong Generasi Z untuk membeli makanan viral secara spontan. Semakin besar rasa takut ketinggalan tren atau pengalaman yang sedang ramai dibicarakan, semakin tinggi kecenderungan mereka untuk membeli tanpa perencanaan. Menariknya, pengaruh yang disebabkan oleh ketakutan kehilangan pengalaman pribadi (Personal FoMO) terbukti lebih kuat dibandingkan dengan tekanan untuk mengikuti teman, tren, atau lingkungan sosial (Social FoMO).
Lebih jauh, temuan menarik dari penelitian ini menunjukkan bahwa religiusitas seseorang tidak mampu mengurangi pengaruh FoMO terhadap perilaku pembelian impulsif pada Gen Z Muslim di Indonesia. Mengindikasikan bahwa di era media sosial, dorongan emosional dan keinginan untuk mengikuti tren sering kali lebih dominan daripada pertimbangan nilai-nilai agama dalam keputusan konsumsi sehari-hari. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, dorongan emosional akibat tren media sosial lebih kuat dibandingkan dengan pertimbangan agama. Kedua, religiusitas pada sebagian Generasi Z cenderung hanya bersifat simbolik dan belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari. Ketiga, paparan media sosial yang intens, tekanan untuk mengikuti tren, serta kebutuhan akan validasi sosial membuat keputusan pembelian dilakukan dengan cepat dan spontan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku pembelian impulsif Generasi Z lebih banyak dipengaruhi oleh faktor emosional dan sosial dibandingkan oleh pertimbangan religius. Oleh karena itu, penguatan religiusitas saja tidak cukup untuk mengurangi dampak FoMO. Sehingga diperlukan pendekatan tambahan, seperti peningkatan literasi digital, penguatan konsep diri (self-concept), serta pengembangan ketahanan psikologis, agar individu mampu mengendalikan perilaku konsumtif di era digital.
Oleh: Fauziah Chairiyati, Afra Bahita Fridajaya, Tika Widiastuti, Imron Mawardi, dan Mochammad Soleh
Link:





