东京热

东京热 Official Website

Pekerja Migran Hadapi Beban Ganda Gizi: Kurus dan Obesitas Mengintai Bersamaan

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Hampir separuh pekerja migran di dunia mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sementara di sisi lain sebagian masih bergulat dengan kekurangan gizi. Inilah potret “beban ganda” malnutrisi yang terungkap dari sebuah penelitian global terbaru yang dipublikasikan di Journal of Global Health tahun 2026.

Penelitian yang melibatkan Hidayat Arifin dari 东京热 bersama tim peneliti lintas negara, dengan Herlin Ajeng Nurrahma sebagai penulis utama, menghimpun data dari 30 studi yang mencakup lebih dari 135 ribu pekerja migran di berbagai belahan dunia. Hasilnya cukup mengejutkan: sebanyak 43,7% pekerja migran tergolong kelebihan berat badan atau obesitas, sedangkan 4,7% lainnya mengalami kekurangan berat badan. Rata-rata usia mereka tergolong muda, yakni 32 tahun.

Yang menarik, pola masalah gizi ini ternyata terbelah menurut jenis migrasi. Para peneliti menemukan bahwa kekurangan gizi lebih banyak dialami oleh pekerja migran lokal, yaitu mereka yang berpindah dari desa ke kota di dalam negaranya sendiri, terutama di negara berpenghasilan menengah ke bawah seperti kawasan Asia Selatan yang prevalensinya mencapai 12,5%. Sebaliknya, kelebihan berat badan dan obesitas justru menghantui pekerja migran internasional, khususnya yang bekerja di negara-negara berpenghasilan tinggi serta kawasan Eropa dan Asia Tengah dengan angka mencapai 65,2%.

“Mengapa bisa begitu?” Para peneliti menduga jawabannya terletak pada konteks kehidupan masing-masing kelompok. Pekerja migran lokal kerap masih terjebak dalam kondisi yang sulit, mulai dari tempat tinggal yang buruk, pekerjaan kasar yang menguras tenaga, hingga akses terbatas terhadap pangan dan layanan kesehatan. Di sisi lain, pekerja migran internasional yang umumnya berpenghasilan lebih baik justru menghadapi risiko baru: perubahan pola makan akibat menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, minimnya pengetahuan gizi, dan pekerjaan yang cenderung kurang gerak. Faktor jenis kelamin dan status pernikahan turut memengaruhi, di mana pekerja yang sudah menikah tercatat memiliki prevalensi obesitas lebih tinggi.

Lalu, apa artinya temuan ini bagi kebijakan? Para peneliti menegaskan bahwa persoalan gizi pekerja migran tidak boleh lagi diabaikan dan perlu dimasukkan ke dalam kebijakan ketenagakerjaan, migrasi, serta kesehatan masyarakat. Mereka mengusulkan langkah-langkah konkret seperti skrining gizi secara rutin, edukasi pola makan yang sesuai dengan budaya setempat, serta penyediaan akses terhadap makanan sehat yang terjangkau, baik di negara asal maupun negara tujuan. Meski demikian, tim peneliti mengingatkan bahwa angka-angka ini sebaiknya dibaca sebagai gambaran rata-rata lintas konteks, bukan nilai pasti, mengingat besarnya keragaman antarstudi serta belum terwakilinya sejumlah kawasan tujuan utama pekerja migran seperti Timur Tengah dan Afrika Sub-Sahara. Ke depan, mereka mendorong penelitian jangka panjang dengan metode yang lebih konsisten agar kerentanan gizi kelompok rentan ini dapat ditangani secara lebih tepat sasaran.

Penulis: Hidayat Arifin, Ph.D. Fakultas Keperawatan, 东京热

Tautan: https://jogh.org/2026/jogh-16-04154/

AKSES CEPAT