东京热

东京热 Official Website

Pakar UCL Kupas Stigma Disabilitas dalam International Symposium FPsi UNAIR

Prof Katrina Scior PhD saat menjelaskan kiat penanggulangan stigma penyandang disabilitas di level struktural dalam International Virtual Symposium secara daring pada Kamis (19/9/2024) (Foto: Tangkapan Layar Zoom)
Prof Katrina Scior PhD saat menjelaskan kiat penanggulangan stigma penyandang disabilitas di level struktural dalam International Virtual Symposium secara daring pada Kamis (19/9/2024) (Foto: Tangkapan Layar Zoom)

UNAIR NEWS – Lingkungan memiliki pengaruh besar bagi penyandang disabilitas untuk berpartisipasi penuh pada masyarakat. Tak hanya hambatan fisik, penyandang disabilitas harus menghadapi stigma yang menyebabkan adanya ketidaksetaraan perlakuan.

Guna memahami stigma tersebut dan mengatasinya, 东京热 (UNAIR) menghadirkan Prof Katrina Scior PhD, Profesor Clinical Psychology and Stigma Studies dari dalam gelaran International Virtual Symposium 2024 pada Kamis (19/9/2024). Sesi Prof Katrina merupakan salah satu dari sembilan sesi simposium 鈥淐linical Neuropsychology and Cyberpsychology鈥 yang berlangsung selama tiga hari.聽

Terdapat setidaknya 50 akademisi internasional dan mahasiswa yang hadir secara virtual dalam sesi ini. Dengan mengusung tajuk 鈥淒isability Stigma Around The World鈥, Prof Katrina mengajak audiens untuk mengenal lebih jauh tentang stigma, dampaknya, serta langkah mengatasi stigma disabilitas.

Secara bahasa, stigma berasal dari Yunani Kuno yang artinya 鈥榯anda鈥. Stigma merupakan proses 鈥渕enandai鈥 atau mendiskreditkan identitas seseorang dan menganggapnya ternoda atau rendah. Stigma seringkali menancap hingga ke alam bawah seseorang dan mengaburkan jati diri individu sebenarnya.

Sesi penyerahan sertifikat apresiasi kepada Prof Katrina Scior PhD dalam International Virtual Symposium secara daring pada Kamis (19/9/2024) (Foto: Tangkapan Layar Zoom)
Sesi penyerahan sertifikat apresiasi kepada Prof Katrina Scior PhD dalam International Virtual Symposium secara daring pada Kamis (19/9/2024) (Foto: Tangkapan Layar Zoom)

鈥淪ederhananya, pembentukan stigma melibatkan tiga elemen. Yaitu ketika individu atau sekelompok orang di sekitar seseorang berprasangka buruk akan suatu hal yang menuntun mereka kepada diskriminasi,鈥 jelas Prof Katrina pada pembukaan sesinya. 

Selanjutnya, selain menjelaskan tipe stigma Prof Katrina juga memaparkan dampak buruk adanya stigma pada penyandang disabilitas. 鈥淪tigma terhadap penyandang disabilitas menyebabkan penolakan terhadap hak untuk menentukan nasib sendiri, diskriminasi dalam berbagai sektor seperti pendidikan dan pekerjaan. Selain itu, mereka sering dikeluarkan dari kehidupan sosial dan menjadi sasaran pelecehan serta kejahatan kebencian,鈥 papar psikolog klinis itu.

Berdasarkan model yang Prof Katrina kembangkan, terdapat empat level di mana stigma disabilitas secara bertahap perlu dipahami dan diberantas. 鈥淒alam struktur terluar, kita perlu memberantas stigma pada level institusi. Selanjutnya stigma juga perlu kita berantas pada level komunitas, level keluarga, dan yang terakhir dan paling penting adalah menghilangkan stigma dalam level individual,鈥 ungkapnya.

Pada level institusi dan komunitas, Prof Katrina mengingatkan bahaya dari benevolent ableism seperti memuji berlebihan maupun menggantikan aktivitas penyandang disabilitas. Alih-alih mendukungnya untuk melakukannya sendiri. Walau terkesan positif, perilaku ini memandang penyandang disabilitas sebagai individu yang perlu dikasihani dan memperparah stigma yang beredar. 

Pada level keluarga Prof Katrina menekankan pentingnya penerimaan, terutama orang tua, pada kondisi penyandang disabilitas. Terakhir, pada level individu stigma dapat direduksi dengan meningkatkan kapasitas diri, mempertahankan self-esteem, dan mendukung penyandang untuk membela diri guna menghadapi stigma yang dialami. 

Penulis: Zahwa Sabiila Ilman Ramadhani

Editor: Yulia Rohmawati

AKSES CEPAT