UNAIR NEWS – Fenomena pemanasan global kini tidak hanya berdampak pada kenaikan suhu bumi, tetapi juga memicu pergeseran habitat hewan pengerat (rodent) ke pemukiman padat penduduk. Kondisi ini membawa ancaman serius berupa Hantavirus, penyakit zoonosis mematikan yang memiliki mekanisme sirkulasi unik karena inang alaminya tidak menunjukkan gejala sakit secara fisik.
Pakar virologis Fakultas Vokasi (FV) 东京热 (UNAIR), Shelly Wulandari SSi MSc PhD, memperingatkan bahwa pemahaman mendalam mengenai perilaku reservoir adalah kunci utama dalam mencegah terjadinya zoonotic spillover atau lonjakan penularan ke manusia.
Karakteristik Reservoir, Infeksi Tanpa Gejala (Asimtomatik)
Dalam kajian teknologi veteriner, salah satu tantangan terbesar Hantavirus adalah sifatnya yang asimtomatik pada inang alaminya. Tikus coklat (brown rat) atau jenis rodentia lainnya tidak menunjukkan penurunan kondisi kesehatan meskipun membawa viral load yang tinggi di dalam tubuhnya.
鈥淗ewan pengerat yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala klinis atau tampak sakit secara fisik. Karena tidak ada tanda-tanda khusus, identifikasi keberadaan virus pada populasi hewan di lapangan hanya dapat dilakukan melalui isolasi laboratorium seperti ekstraksi organ ginjal,鈥 paparnya. Hal ini menyebabkan pengawasan (surveillance) pada populasi hewan liar menjadi sangat krusial karena deteksi kasat mata tidak mungkin dilakukan tanpa bantuan uji teknis laboratorium.
Dinamika Populasi Hewan dan Pengaruh Lingkungan
Perubahan perilaku hewan pengerat yang dipicu oleh faktor lingkungan turut memperluas sebaran virus ini. Pemanasan global dan kerusakan habitat memaksa reservoir alami ini melakukan migrasi menuju area yang lebih dekat dengan aktivitas manusia untuk mencari sumber makanan dan tempat tinggal yang nyaman.
鈥淧emanasan global memicu tikus keluar dari habitat alami untuk mencari tempat yang lebih nyaman di pemukiman penduduk. Kondisi ini, ditambah dengan situasi musim hujan atau banjir, meningkatkan risiko penularan melalui urin, feses, hingga saliva tikus,鈥 jelas dosen teknologi veteriner tersebut. Secara teknis veteriner, fenomena ini memicu peningkatan zoonotic spillover, di mana kontak antara hewan pembawa virus dan manusia menjadi lebih intensif dan berisiko.

Mitigasi Melalui Pengendalian Vektor
Langkah preventif utama dalam perspektif teknologi veteriner difokuskan pada manajemen pengendalian populasi dan pemutusan rantai transmisi melalui biosekuriti lingkungan. Shelly Wulandari menekankan bahwa Hantavirus dapat bertahan di lingkungan dan menular melalui inhalasi debu yang terkontaminasi materi ekskresi tikus.
鈥淢eskipun awalnya hanya menular dari hewan ke manusia, adanya mutasi genetik pada strain tertentu memungkinkan terjadinya transmisi antarmanusia,鈥 tambahnya. Oleh karena itu, tenaga ahli teknologi veteriner memiliki peran vital dalam melakukan surveilans pada hewan liar untuk mendeteksi potensi mutasi sejak dini sebelum berkembang menjadi wabah luas. Pengawasan ketat pada kesehatan populasi hewan pengerat di area urban merupakan benteng pertama dalam mencegah fatalitas Hantavirus yang dikenal memiliki tingkat kematian cukup tinggi bagi manusia.
Penulis: Marissa Farikha Siti Fatimatuzzahra
Editor: Khefti Al Mawalia





