东京热

东京热 Official Website

Okra Merah dan Harapan Baru Melawan Kanker Kolorektal

Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)
Ilustrasi AIP (Foto: UNAIR NEWS)

Riset peneliti Indonesia menunjukkan ekstrak okra merah memiliki aktivitas antioksidan dan mampu menekan sejumlah penanda perkembangan kanker usus besar. Namun, hasil ini masih berada pada tahap penelitian sel dan hewan sehingga belum dapat langsung diterapkan sebagai pengobatan manusia.

Di tengah meningkatnya beban penyakit kanker, kekayaan hayati Indonesia kembali menawarkan harapan. Tanaman yang selama ini lebih akrab hadir di meja makan, yakni okra merah, ternyata menyimpan potensi sebagai sumber bahan alami untuk membantu mencegah dan mengendalikan kanker kolorektal.

Temuan tersebut dilaporkan oleh tim peneliti dari 东京热. Mereka meneliti efek antioksidan dan antikanker ekstrak etanol polong okra merah atau Abelmoschus esculentus melalui pengujian terhadap sel kanker kolorektal dan hewan percobaan. Hasil penelitian dipublikasikan dalam Journal of Multidisciplinary Applied Natural Science pada 2026.

Kanker kolorektal merupakan kanker yang berkembang pada usus besar atau rektum. Penyakit ini menjadi salah satu jenis kanker yang paling sering ditemukan dan termasuk penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Persoalannya bukan hanya terletak pada pertumbuhan sel kanker, tetapi juga pada kemampuan sel tersebut menghindari kematian, membentuk pembuluh darah baru, memicu peradangan, menyerang jaringan di sekitarnya, dan menyebar ke organ lain.

Karena itu, pengobatan kanker tidak cukup hanya diarahkan untuk membunuh sel abnormal. Peneliti juga perlu mencari cara untuk mengendalikan berbagai jalur biologis yang menopang kehidupan dan penyebaran sel kanker.

Dari Sayuran ke Laboratorium

Okra merah dipilih karena mengandung berbagai senyawa aktif, terutama flavonoid, antosianin, senyawa fenolik, quercetin, luteolin, rutin, katekin, dan apigenin. Senyawa tersebut dikenal mempunyai aktivitas antioksidan dan anti-inflamasi.

Antioksidan berperan penting karena tubuh terus-menerus menghadapi molekul tidak stabil yang disebut radikal bebas. Dalam jumlah berlebihan, radikal bebas dapat menimbulkan stres oksidatif, merusak DNA, dan mendorong terjadinya mutasi. Kerusakan yang berlangsung terus-menerus dapat berkontribusi pada pembentukan dan perkembangan kanker.

Dalam penelitian tersebut, aktivitas antioksidan ekstrak okra merah diperiksa menggunakan metode DPPH. Hasilnya menunjukkan nilai IC50 sebesar 59,66 bagian per juta. Nilai ini menandakan bahwa ekstrak okra merah memiliki aktivitas antioksidan yang cukup kuat.

Penelitian kemudian dilanjutkan terhadap dua jenis sel kanker kolorektal manusia, yaitu SW480 dan HCT116. Pada sel SW480, ekstrak okra merah mampu menghambat pertumbuhan sel. Efek penghambatan semakin terlihat ketika konsentrasi ekstrak ditingkatkan dan waktu paparan diperpanjang.

Sementara itu, pada sel HCT116, pemberian ekstrak juga menurunkan kemampuan sel membentuk koloni. Artinya, bukan hanya pertumbuhan sel yang terganggu, tetapi juga kemampuan sel kanker untuk bertahan hidup dan berkembang biak dalam jangka lebih panjang.

Hasil ini penting karena salah satu karakter utama kanker adalah kemampuan sel untuk terus membelah tanpa terkendali. Apabila proses tersebut dapat ditekan, laju perkembangan tumor berpeluang ikut diperlambat.

Menekan Empat Penanda Kanker

Penelitian tidak berhenti pada pengujian sel. Tim peneliti juga menggunakan tikus yang diinduksi dengan senyawa karsinogenik N-methyl-N-nitrosourea atau MNU. Senyawa ini dapat merusak DNA, meningkatkan stres oksidatif, dan memicu proses pembentukan kanker kolorektal.

Tikus percobaan kemudian diberikan ekstrak okra merah dengan dosis 50, 100, dan 200 miligram per kilogram berat badan selama 28 hari. Peneliti mengukur empat penanda biologis yang berkaitan dengan perkembangan kanker, yaitu Bcl-2, COX-2, VEGF, dan MMP-9.

Bcl-2 merupakan protein yang membantu sel menghindari kematian terprogram atau apoptosis. Pada sel normal, apoptosis dibutuhkan untuk membuang sel yang rusak. Namun, pada kanker, kadar Bcl-2 yang tinggi dapat membuat sel abnormal terus bertahan.

COX-2 berkaitan dengan proses peradangan. Peningkatan protein ini sering ditemukan dalam berbagai jenis kanker dan dapat mendukung pertumbuhan tumor.

VEGF berperan dalam pembentukan pembuluh darah baru. Tumor memerlukan pembuluh darah untuk memperoleh oksigen dan zat makanan. Karena itu, penurunan VEGF dapat menghambat pasokan yang dibutuhkan tumor untuk tumbuh.

Adapun MMP-9 membantu sel kanker merusak jaringan di sekitarnya. Aktivitas tersebut memudahkan sel kanker melakukan invasi dan menyebar ke bagian tubuh lain.

Pemberian ekstrak okra merah terbukti menurunkan keempat penanda tersebut. Pemeriksaan jaringan usus besar juga menunjukkan berkurangnya infiltrasi sel-sel peradangan dibandingkan kelompok yang hanya memperoleh bahan pemicu kanker.

Menariknya, dosis 50 miligram per kilogram berat badan justru memberikan hasil paling optimal pada sejumlah parameter. Peningkatan dosis hingga 100 atau 200 miligram tidak selalu menghasilkan manfaat yang lebih besar.

Temuan itu mengingatkan bahwa dalam penggunaan bahan alam, dosis lebih tinggi tidak selalu berarti lebih efektif. Hubungan antara dosis dan manfaat dapat dipengaruhi oleh cara tubuh menyerap, mengolah, dan merespons berbagai senyawa aktif yang terdapat di dalam ekstrak.

Belum Menjadi Obat Kanker

Meskipun menjanjikan, hasil penelitian ini tidak boleh ditafsirkan bahwa mengonsumsi okra merah dapat langsung menyembuhkan kanker kolorektal. Penelitian masih dilakukan pada kultur sel dan tikus percobaan, bukan pada pasien.

Ekstrak yang digunakan juga dibuat melalui proses laboratorium dengan konsentrasi tertentu. Kandungan zat aktifnya tidak dapat disamakan begitu saja dengan okra yang direbus, ditumis, atau dikonsumsi sebagai sayuran sehari-hari.

Peneliti sendiri mengakui beberapa keterbatasan. Masa pemberian ekstrak relatif singkat dan belum menggambarkan efek penggunaan jangka panjang. Penelitian juga belum memetakan secara lengkap gen dan jalur molekuler yang dipengaruhi okra merah.

Tahap berikutnya harus mencakup pemisahan senyawa aktif, pengujian toksisitas, penentuan dosis aman, studi farmakokinetik, pengembangan formulasi, dan akhirnya uji klinis pada manusia. Potensi penggunaannya bersama kemoterapi juga perlu diteliti secara hati-hati untuk mengetahui kemungkinan manfaat maupun interaksi yang merugikan.

Karena itu, pasien kanker tetap harus mengikuti pemeriksaan dan pengobatan yang direkomendasikan dokter. Bahan herbal tidak seharusnya digunakan untuk menggantikan operasi, kemoterapi, radioterapi, atau terapi target yang telah memiliki dasar bukti klinis.

Namun, penelitian okra merah tetap mempunyai arti strategis. Ia menunjukkan bahwa tanaman lokal dapat menjadi titik awal penemuan bahan obat baru. Di negara yang kaya biodiversitas seperti Indonesia, riset semacam ini semestinya tidak berhenti pada publikasi ilmiah.

Diperlukan kesinambungan antara universitas, rumah sakit, pemerintah, dan industri farmasi agar temuan laboratorium dapat dikembangkan menjadi produk yang aman, terstandar, terjangkau, dan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Okra merah mungkin belum menjadi obat kanker. Namun, dari tanaman sederhana tersebut, terbuka satu jalan panjang menuju pengembangan terapi kanker berbasis kekayaan hayati Indonesia.

Sumber:

 S. P. A. Wahyuningsih, B. K. K. Mamuaya, F. R. P. Dewi, L. D. T. Hapsari, B. W. A. Kusuma, and A. P. D. Nurhayati, 鈥淎ntioxidant and Anticancer Effects of Red Okra (Abelmoschus esculentus L.) Ethanol Extract through In Vitro and In Vivo Colorectal Cancer Models鈥, J. Multidiscip. Appl. Nat. Sci., vol. 6, no. 2, pp. 935鈥949, Mar. 2026.

AKSES CEPAT