UNAIR NEWS – Seorang perempuan secara individu perlu memahami persoalan-persoalan perempuan. Sehingga, ketika berkelompok, mampu melakukan konsolidasi membangun platform untuk kepentingan perihal perempuan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Emy Susanti., MA. selaku ketua penyelenggara acara seminar 鈥淩efleksi Bersama, Memperkuat Platform Gerakan Perempuan Dengan Perspektif Feminisme dan Pluralisme鈥. Seminar berlangsung di Aula Soetandyo FISIP Gedung C UNAIR pada Senin, (15/08).
Seminar diawali dengan peluncuran buku 鈥淭umbuhnya Gerakan Perempuan Indonesia Masa Pemerintahan Orde Baru鈥 karya Yanti Mochtar. Dalam sambutannya, Prof. Emy meyampaikan kegembiraannya, sebab acara ini sebagai tempat bertemunya akademis, organisasi, dan LSM yang notabene digerakkan oleh perempuan.
鈥淪aya merasa senang karena acara ini dapat dihadiri oleh sekitar 150 orang yang terdiri dari akademisi, organisasi, dan LSM, dan berasal dari berbagai kota seperti Banyuwangi, Jember, Malang, dan Gresik鈥 ujarnya.
Dr., Drs., Falih Suedi., M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 东京热 turut hadir dalam acara tersebut. 鈥淧ada PIMNAS di IPB kemarin FISIP menyumbangkan empat orang, namun belum ada kajian perempuannya,鈥 ujar Falih saat memberikan sambutan.
Falih menuturkan, FISIP tidak mengedepankan sistem patriaki. Sehingga, dari empat jajaran dekanat FISIP, jumlah antara laki-laki dan perempuan sama yaitu dua orang. 鈥淔ISIP UNAIR juga menjunjung tinggi kemanusiaan dan pluralism,鈥 tandasnya.
Usai peluncuran buku karya Yanti Mochtar, acara dilanjutkan dengan seminar yang merupakan acara inti. Narasumber yang mengisi seminar yaitu Prof. Dr. Emy, MA Susanti Ketua Asosiasi Pusat Studi Wanita/Gender dan Anak Indonesia (ASWGI), Dr. Ratna Saptari dari Universitas Leiden, Belanda, dan Misiyah., M.Si dari Institut Kapal Perempuan.
Dalam seminar ini, Ratna menyampaikan isi penting dari buku karya Yanti Mochtar. 鈥淪alah satu isi buku ini adalah kenyataan bahwa pada masa orde baru, ada 71 kelompok dan koalisi perempuan berkembang,鈥 jelasnya.
Pada seminar ini, Prof. Emy menyampaikan materi seputar gerakan sosial dan gerakan perempuan. Emy bercerita mengenai tantangan dan rancangan gerakan perempuan Indonesia di masa kini.
鈥淕erakan sosial bukan berarti secara formal. Bentuk tindakan nyata juga termasuk gerakan sosial,鈥 jelas dosen Departemen Sosiologi UNAIR ini.
Pemateri terakhir, Misiyah, menyampaikan mengenai membangun kesadaran kritis dan upaya memperkuat gerakan perempuan melalui pendidikan feminis. 鈥淵ang perlu kita tahu, feminis itu sejatinya adalah sadar ada penindasan, kemudian adanya relasi kekuasaan dan ada tekat untuk melakukan,鈥 ungkapnya.
Di akhir seminar, diadakan diskusi kelompok untuk membahas langkah-langkah kedepan setelah adanya seminar. Pada diskusi ini terlihat begitu interaktif antara peserta satu dengan yang lain. (*)
Penulis : Akhmad Janni
Editor聽聽聽 : Binti Q. Masruroh





